Rabu, 28 Januari 2015

NU Jember Gelar Dialog dengan Syiah : TERLALU BANYAK PERBEDAAN ISLAM SUNNI DENGAN SYIAH

faktasyiah.com. Bertempat di Aula Pertemuan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, hari Senin (26/01/2015) digelar “Dialog Terbuka Aswaja NU – Syi’ah”



 













Hadir sebagai pembicara dari pihak Aswaja NU adalah Muhammad Idrus Ramli  (Jember), sedangkan dari pihak Syi’ah Abdullah Uraidhi  (Jakarta) dan Abdillah Ba’abud (Malang).

Dialog Terbuka ini diawali pembukaan dari pembawa acara dilanjut dengan beberapa sambutan.

Dalam paparannya panitia menjelaskan kedua pembicara Abdullah Uraidhi  (Jakarta) dan Abdillah Ba’abud (Malang) yang mewakili Syiah adalah alumni Iran.

Bahkan, Abdullah Uraidhi adalah termasuk ke dalam tim penulis (Tim Ahlul Bait Indonesia/ABI) yang baru saja menerbitkan “Buku Putih Mazhab Syiah” (Menurut Para Ulamanya Yang Muktabar).



 












Dialog terbuka dimulai oleh Abdullah Uraidhi yang menjelaskan mengenai Syiah secara singkat sebagaimana terurai di dalam “Buku Putih Mazhab Syiah (Menurut Para Ulamanya Yang Muktabar)”.

“Menurut ulama Syiah yang muktabar, tidak ada bedanya Syi’ah dengan Sunni,” demikian kata Abdullah Uraidhi.

Sesi kedua diberikan kepada pembicara Syiah yang kedua, yakni Abdillah Ba’abud.

Senada dengan Abdullah Uraidhi, Abdillah Baabud menyatakan bahwa Syi’ah itu bagian dari Sunni.

“Syi’ah bukan hanya menganggap sunni sebagai saudara, melainkan sudah menjadi bagian dari jiwa Syiah, jika Sunni sakit maka Syiah juga sakit, begitu pula sebaliknya,” ungkap Abdillah Baabud menukil pernyataan salah satu ulama Syiah.

Sesi ketiga diberikan kepada Muhammad Idrus Ramli dari ASWAJA Centre. Muhammad Idrus Ramli memberikan koreksi terhadap “Buku Putih Mazhab Syiah (Menurut Para Ulamanya Yang Muktabar)”.

Di antaranya, ia memberikan beberapa argumentasi karena kesannya dua pembicara dari Syiah yang hadir dalam dialog terbuka cenderung menyamakan doktrin keagamaan Syiah dengan Sunni.

“Dialog terbuka ini digelar untuk membahas hal yang berbeda dari Sunni dan Syiah, bukan untuk membahas hal yang sama,” demikian kritik Idrus Ramli.

Setelah itu,  Muhammad Idrus Ramli menguraikan apa yang dinilainya sebagai kesesatan-kesesatan Syi’ah menurut ulama Syiah di dalam berbagai referensi Syiah sendiri, termasuk meyakini tahrif Al-Qur’an, mencaci istri Nabi, mengkafirkan Sahabat, perbedaan rukun iman dan Islam antara Syiah dengan Sunni, perbedaan ibadah Syiah dengan Sunni, persamaan Syiah dengan mu’tazilah, dll.

Untuk menanggapi argumentasi yang dilancarkan Muhammad Idrus Ramli, moderator Dr. Faisal, memberikan waktu kepada dua pembicara Syi’ah.

Saat itu, yang aktif memberikan tanggapan terhadap argumentasi Idrus Ramli adalah Abdillah Baabud.

“Saya heran kepada Ustad Muhammad Idrus Ramli, sepertinya dia lebih memahami mengenai Syiah dari pada kami, padahal argumentasi Ustad Muhammad Idrus Ramli itu tidak lebih dari klaim-klaim belaka. Syiah yang saya pelajari, tidak ada hal-hal seperti yang dituduhkan Ustad Muhammad Idrus Ramli tersebut. Justru kitab-kitab Sunni memenuhi ruang dinding rumah kami,” kilah Abdillah Baabud.

Sementara itu, Abdullah Uraidihi menambahkan, “Yang menjaga Al-Qur’an itu adalah Allah sendiri sebagaimana didalam firmanNya. Kami juga menentang jika ada yang mengatakan Al-Qur’an tidak autentik. Silahkan tanya kepada 400 juta orang penganut Syiah di seluruh dunia, apakah mereka punya Al-Qur’an yang berbeda dengan Al-Qur’an yang ada saat ini?”


Menjawab pernyataan itu, Muhammad Idrus Ramli kembali memberikan tanggapan.

“Dari tadi pemaparan saya itu selalu saya nukil referensi dari kitab Syiah, namun Anda menyatakan hal itu hanyalah klaim belaka. Sekarang saya bawa kitab-kitabnya, dan Anda bisa membacanya sendiri jika tidak percaya. Di rumah kami juga banyak referensi-referensi Syiah, tapi apa berarti kami ikut pemikiran Syiah? Kan tidak!”

“Begitu juga di Syiah, banyak menyimpan referensi Sunni, namun bukan untuk ikut, melainkan sebagai propaganda dan menjiplak ajaran Sunni. Beberapa tahun yang lalu saat saya jalan-jalan ke Inggris, para orientalis pun banyak memajang literatur Sunni, namun bukan untuk mengikutinya.”

Setelah sesi dialog, masing-masing pihak diberi waktu untuk memberikan kesimpulan.

Pihak Syiah yang diwakili oleh Abdillah Baabud memberikan kesimpulan, “Syi’ah itu sama dengan Sunni, perbedaannnya hanya mengenai imamah,” katanya.

Sementara Muhammad Idrus Ramli memberikan kesimpulan  bahwa ada banyak perbedaan mendasar antara Sunni dan Syiah dibanding persamaannya.

“Perbedaan Sunni dengan Syiah terlalu banyak daripada persamaannya, sebab bukan hanya dalam aqidah yang berbeda, dalam bidang ibadah juga sangat berbeda,” ujarnya.”*/ Khofy Kutbhi

sumber : hidayatullah.com

Aswaja NU: Perbedaan Sunni-Syiah Terlalu Banyak
 

Menurut Muhammad Idrus Ramli dari ASWAJA Centre, hasil dialog menunjukkan banyak perbedaan mendasar dibanding persamaannya

Dialog Sunni Syiah yang dilakukan di Aula Pertemuan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember akhirnya tidak mencapai titik temu.

Sebagaimana diketahui, “Dialog Terbuka Aswaja NU – Syi’ah” yang diselenggarakan hari Senin (26/01/2015) dihadiri pembicara dari pihak Aswaja NU adalah Muhammad Idrus Ramli  (Jember), sedangkan dari pihak Syi’ah Abdullah Uraidhi  (Jakarta) dan Abdillah Ba’abud (Malang), keduanya lulusan Iran. [Baca: Aswaja NU Jember Gelar Dialog dengan Syiah]

Menurut Muhammad Idrus Ramli dari ASWAJA Centre, hasil dialog menunjukkan banyak perbedaan mendasar dibanding persamaannya.

“Perbedaan Sunni dengan Syiah terlalu banyak daripada persamaannya, sebab bukan hanya dalam aqidah yang berbeda, dalam bidang ibadah juga sangat berbeda. Orang Syiah yang mengkafirkan sahabat, mencaci istri Rasul, meyakini tahrif Quran, dll,” ujarnya.

sumber : hidayatullah.com
 

WATAK ASLI SYIAH, SHALATPUN TIDAK SUDI DI BELAKANG AHLU SUNNAH JIKA BERADA DI MARKAZ MEREKA

Warga muslim sunni dikejutkan dengan adanya foto fakta bahwa, syiah karena dengkinya, ketika mengadakan acara bersama sunni, mereka shalat sendiri-sendiri. Foto ini menjadi saksi, bahkan syiah sendiri mengakuinya. 











Berita selengkapnya bisa dilihat pada http://news.fimadani.com/read/2015/01/20/muktamar-persatuan-sunni-syiah-tapi-shalatnya-pisah-pisah/ 
Ini foto shalat berjamaah yang berasal dari acara Peringatan Maulid Nabi Saw di Masyhad, yang dihadiri ulama Sunni dan Syiah Iran. Hal ini diungkapkan sendiri oleh situs syiah www.abna24.com .
 Silahkan, pembaca bisa menilai sendiri. Ini foto bersumber dari mereka, bukan rekayasa. Ini kejadian kemarin, tanggal 6 Januari 2015, di Masyhad Iran. Apakah anda masih percaya dengan kampanye syiah yang mengajak berdamai dan hendak bergandengan tangan dengan muslim sunni. Silahkan bertanya kepada hati nurani anda sendiri!

Senin, 26 Januari 2015

Ormas Islam Kabupaten Bandung Sepakat Tolak Ajaran Syiah





Faktasyiah.blogspot.com -- Perwakilan Ormas Islam dan tokoh masyarakat Kabupaten Bandung bersatu menyatakan sikap siap membendung gerakan Syiah dalam acara Deklarasi dan Pelantikan Pengurus Aliansi Nasional Anti Syiah Kabupaten Bandung. Di antara perwakilan yang hadir yaitu; Ketua Ormas Syariat Islam (SI) K.H Dedy Rahman, perwakilan DDII Jabar Ustadz Roin, perwakilan Persatuan Islam (Persis) Kab. Bandung, Deni Solehudin, perwakilan Muhammadiyah, Ustadz Amar, Aktivis Islam dari Kab. Bandung Barat H. Oman Rusmana, Ketua Syariat Islam (SI) Kab. Bandung K.H Cucun Noor Yahman, Kol. Purn. H. Herman Ibrahim, dan ketua Annas Kab. Bandung Husein Komaruddin.

“Kita harus bertindak dengan cara semua orang maupun ormas Islam harus bersatu membela agama kita, dan terus semangat melawan ajaran syiah,” ungkap Dedy Rahman dengan lantang di Masjid Al Fathu, Kabupaten Bandung, Ahad (25/01/2015).

Hal serupa juga diungkapkan  H Cucun Noor Yahman, Syiah merupakan gerakan pemurtadan, oleh sebab itu masalah tersebut menjadi sarana kita untuk berdakwah, berjuang, berjihad membela agama Allah, “Marilah kita melawan Syiah, dengan memegang Al Quran dan As Sunnah agar menjadi aturan satu-satunya di muka bumi ini yang harus ditaati,” ujarnya.

Begitupun dengan yang dikatakan perwakilan Muhammadiyah Kabupaten  Bandung, Ustadz Amar, “Syiah adalah bentuk penyimpangan akidah. Marilah kita saling bergandengan tangan, bahu-membahu melawan mereka yang menghina agama Islam, In sya Allah, Allah selalu bersama kita,” jelasnya saat melakukan orasi di hadapan ribuan jamaah.

Oman Rusmana menambahkan melalui orasinya, “Kita umat Islam harus siap membela agama Allah, ketika ajaran Islam diacak-acak, karena kita saudara Dua hal yang menjadi alasan kita bersaudara, yaitu iman dan Islam kita sama. Bersatu teguh melawan Syiah dengan tindakan yang nyata menjadi hal paling penting untuk kita saat ini,” ungkapnya. (dita/ed:rl/alhikmah)

Persis Kabupaten Bandung Minta Umat Waspada Jargon Persatuan yang Diusung Syiah
Dalam Deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Kabupaten Bandung yang dihadiri perwakilan ormas-ormas Islam, ustadz Deni Solehuddin sebagai perwakilan Persatuan Islam (Persis) Kabupaten Bandung mengajak kepada masyarakat agar tidak tertipu propaganda syiah yang mengajak persatuan umat.

“Bagi semuanya jangan tertipu atau terkecoh dengan sebutan mereka tentang Ahlul Bait, dengan mengatakan bahwa para istri Rasul bukan ahlul bait, kultus berlebihan pada Ali serta keturunannya, dan pelecehan terhadap sahabat Rasulullah,” ujar ustadz Deni saat berorasi di hadapan ribuan jamaah di Masjid Al Fathu, Kabupaten Bandung, pada Ahad (25/01/2015).

“Mereka juga menerangkan tentang mazhab kelima, cara mendoktrinnya adalah dengan mengajak cinta kepada Ahlul Bait. Kemudian perlahan mulai mengajak kita mencintai dan mengimani 12 imam-imam, jadi hati-hatilah,” jelasnya.

Kemudian, menurut Deni propaganda umat Syiah yang lain adalah melalui jargon-jargon persatuan umat, “Bagaimana mungkin kita bisa bersatu dengan mereka yang jelas-jelas berbeda dari segi akidah,” lanjut ustadz Deni.

“Syiah menganggap al Qur’an sekarang kerjaan Abu Bakar, Umar, Utsman mengolah Mushaf Utsmani sebagai Al Quran karena yang menyusun itu Ustman yang mereka benci. Mereka mengatakan bahwa Al Quran yang asli ada 17.000 ayat, jelas ini berbeda dengan Islam, jadi Syiah itu bukan Islam,” jelasnya meyakinkan.  (Dita/ed: rl/Alhikmah)

Dewan Dakwah Jabar: Tiga Alasan Mengapa Syiah Membahayakan Umat Islam
Dalam Deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Kabupaten Bandung, Sekjen Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) Jawa Barat, Ustadz Roinul Balad mengungkapkan gerakan Syiah terbukti membahayakan tatanan sosial umat Islam di Indonesia.

“Keberadaan Syiah di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat merupakan ancaman nyata,” kata Ustadz Roin di Masjid al Fathu, Kabupaten Bandung, Ahad (25/1/2015).

Ustadz Roin menjelaskan ada tiga poin alasan kenapa Syiah dianggap sebagai ancaman, “Pertama, Syiah sebagai ancaman bagi akidah umat Islam. Syiah bukan Islam, segala upaya yang mereka lakukan itu supaya ingin diakui sebagai agama Syiah,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah.

“Poin kedua, dengan semakin menyebarnya ajaran Syiah di masyarakat akan semakin bertebarannya perzinahan, karena Syiah menghalalkan bahkan menganjurkan mut’ah (kawin kontrak), sehingga dengan kata lain mereka telah merendahkan kaum wanita, wanita diperjual-belikan. Tentu perzinahan akan semakin marak jika ajaran Syiah dibiarkan begitu saja. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam,” tegas Roin.

Masih menurutnya, dalam Syiah terdapat Marza Takridi, ini merupakan poin ketiga, “Maksudnya adalah dipilih orang untuk belajar di Iran selama 25 tahun, kemudian mereka dikembalikan ke wilayahnya masing-masing untuk wilayatul faqih. Yaitu yang mengemban misi menyebarkan ajaran syiah (syiahisasi) ke seluruh wilayah. Diketahui sudah ada tiga orang di Indonesia yang telah mengikuti proses Marza Takridi ini,” tandas ustadz Roin. (dita/ed: rl/Alhikmah)
Tak Bisa Hanya dengan Ceramah, Dewan Dakwah Jabar Minta TNI dan Polisi Bantu Ulama Cegah Syiah
Sekjen Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) Jawa Barat ustadz Roinul Balad mengatakan bahwa gerakan syiah yang kini meresahkan masyarakat, khususnya umat Islam Indonesia  tak bisa didiamkan begitu saja. Hal itu disampaikan dalam deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Kabupaten Bandung di Masjid Al Fathu, Ahad (25/1/2015).

“Syiah ini tidak bisa dilawan dengan ceramah saja atau oleh masyarakat sipil seperti kita,” kata Roin. Menurutnya, membendung gerakan syiah harus juga dilakukan oleh negara, karena gerakan syiah dianggap mengancam keutuhan negara.

“Harus dilawan oleh aparat negara seperti Polisi dan TNI yang jelas memiliki kewenangan untuk menjaga kesatuan Republik Indonesia dari segala bentuk penyimpangan apapun termasuk ajaran sesat syiah,” ungkapnya.

Ustadz Roin pun mengajak masyarakat agar waspada terhadap gerakan syiah, yang MUI sendiri telah menyebarkan buku agar mewaspadai gerakan ini.

“Beritahu semua keluarga dan saudara tentang sesatnya ajaran syiah, kemudian buatlah list bila ada orang-orang sekitar kita yang mulai mendukung bahkan termasuk syiah sebaiknya laporkan ke ulama, atau pengurus ANNAS untuk diajak berdiskusi bila perlu datang ke MUI untuk mengembalikannya ke akidah yang benar,” pungkas Roin (dita/ed: rl/ alhikmah)
Sumber : http://www.alhikmah.co, diambil pada 27 Jan 2015

Minggu, 25 Januari 2015

BIMBEL SYIAH

Ihwan fillah, di daerah basis syiah, Jakarta Timur, yaitu Condet, ditemukan bimbel Syiah. Jika pernah temen-temen dari mahasiswa LIPIA hendak mengadakan Tablikh tentang syiah, bisa mereka gagalkan dengan menteror DKM, sehingga DKM ketakutan dan acara dibatalkan, maka tidak heran jika di daerah Condet ini, masyhur dengan Syiahnya. Kita tahu bahwa Yayasan Fatimah, yang pernah merilis jaringan yayasan Syiah seluruh Indonesia menutup diri, maka aktifitas para pengikutnya tidak bisa kita sembunyikan.
Hati-hati, satu kata yang pas untuk kalangan Muslim Sunni, mengingat Syiah makin meraja lela dalam dakwahnya.
Mereka mereka sedang dirundung masalah internal terkait terbitnya Buku SMS, yang menurut mereka, buku itu bukan SMS tapi lebih tepatnya Syiah Menurut Abi, karena banyak hal yang harus dikritisi, tapi dalam upaya mendakwahkan Syiah mereka tetap tidak berhenti.







SYIAH KE KAMPUNG-KAMPUNG, MENUMPANG MOMENT MAULID

Awal tahun ini, umat Islam dikejutkan dengan "Blusukan" Tokoh syiah nasional. Mereka memanfaatkan moment maulid yang bagi umat Islam disakralkan untuk dirayakan. Tokoh yang terjun langsung adalah Sekjen ABI dan juga seniman "SUSYI", Haddad Alwi.
Banyak masyarakat Sunni gak paham, bahwa mereka adalah tokoh syiah yang sedang turun gunung, menjemput bola, mencari simpati agar mereka setidaknya menjadi netral dan toleran terhadap syiah.
padahal, mereka mempunyai misi terselubung. Mereka hendak menyebarkan syiah ke masyarakat, pelan tapi pasti.