Rabu, 02 Juli 2014

SYIAH JEPARA : ASYURA JEPARA 2011

Berikut reportase liputan kegiatan  hari pertama Muharram yang berlangsung di Kabupaten Jepara. Di kabupaten Jepara `asyura Muharram dilaksanakn di beberapa tempat
MALAM PERTAMA
TPQ al Hasanain, Desa Guyangan
Muharram. Bulan suci yang dinodai oleh sekelompok umat islam yang mengaku muslim, namun tega membantai cucu Nabi saww Al-husain bin Ali as. Memasuki bulan ini para pecinta Ahlulbayt berkumpul bersama untuk mengenang tragedi pembantaian Imam Husain as di Karbala, Irak. Begitu juga dengan para pecinta Ahlulbayt di desa Guyangan dan sekitarnya. Mereka berkumpul di bangunan madrasah diniyah Al-hasanain Guyangan, dan mengadakan majlisil aza’ imam Husain as.
Acara yang ceramahnya diisi oleh ustadz Nur Alim ini berjalan begitu sederhana. Selepas berziarah bersama, para ikhwan desa Guyangan juga bersama-sama membaca doa akhir tahun yang dipimpin oleh ustadz Nur Alim. Meski begitu sederhana, dikatakan sederhana karena dalam acara itu tak terdapat perlengkapan-perlengkapan asyura, mereka merasa bahagia bisa menjadi bagian dari para pecinta Imam Husain as yang meninggalkan urusan dunia mereka dan memilih untuk mengenang tragedi Karbala.
rep : alamsyah
Mushola H. Zabidi al Mahdi, Krasak
Di Mushola Zabidi Almahdi tiap Muharom selalu mengadakan majlis aza’. Tapi Muharom sekarang berbeda dengan Muharom tahun-tahun lalu, salah satu keistimewaan Muharom tahun ini adalah, kami mendapatkan giliran ustadz. Di malam pertama Muharom, tepat setelah adzan Isya’ selesai, ustadz Bunari sebagai pembaca acara menuturkan dalam prolognya akan pentingnya madrasah Asyuro dan semoga kita dapat mengambil banyak hikmah dari madrasah Asyuro. Kemudian beliau juga merasa begitu bahagia karena mendapat undangan dari Imam Husein untuk hadir memperingati hari-hari Asyuro. Acara kemudian dilanjut dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang disenandungkan oleh adik Zaenab Azakiyah yang sangat merdu nan indah seperti lantunan qori’ terkenal yang dijual dalam kaset-kaset Al-Qur’an. Setelah itu, untuk meminta syafaat Rosulullah dan Ahlul Bayt, acara pun dilanjutkan dengan tawasul yang begitu menyentuh sehingga seakan-akan waktu itu hati kita merasakan di depan kita, Rosulullah dan Ahlul Baytnya hadir di depan kita dan berada disekitar kita.
Setelah tawasul selesai, acara pun dilanjutkan dengan ceramah oleh ustadz Miqdad yang bertema dimensi keghoiban. Sebelum menyampaikan inti yang dibawakan beliau memberi semangat kepada kita bahwa walaupun disini sedikit, banyak yang diundang tidak hadir, tapi semoga dengan yang sedikit ini, Dan apabila disertai dengan niat yang tulus dan hati yang bersih, insyaAllah Ahlul Bayt juga ikut bergabung bersama kita di majlis ini. Setelah itu beliau memberikan beberapa kisah tentang dimensi keghoiban, yang salah satunya adalah dikisahkan ada seseorang yang ikut membunuh pengikut Imam Husein, Dan sejak saat itu dia mengakui bahwa dalam setiap tidurnya ada orang yang mengajaknya masuk ke dalam api neraka.
Dan kisah terakhir yang diberikan ustadz Miqdad begitu sangat menyentuh hati kita semua. Dikisahkan ada seorang musafir kehabisan bekalnya, kemudian dia hanya minta kepada Imam Husein uang 3000 dirham, padahal pinjam atau yang lainnya bisa, tapi dia tidak mau, maunya hanya minta pada Imam Husein. Dengan keyakinannya yang penuh itu, ada seorang wanita mendengar doanya pada Imam Husein kemudian mendatangi musafir tersebut Dan memberikan uang yang di perlukannya. Musafir tersebut tidak mau, tapi wanita tersebut bilang, aku adalah ibunya orang yang kau mintai. Sungguh kisah tersebut dapat memberikan kepada kita pelajaran bahwa ketika kita yakin dengan penuh, Dan minta pertolongan lewat Rosulullah Dan Ahlul Bayt, mereka akan melihat Dan membantu kita. Kita di dunia ini, tak punya bekal di akhirat yang bisa kita banggakan, maka perlu syafaat dari insan-insan suci. Maka dari itu mari kita bersama-sama membuat tali ikatan yang kuat dengan mereka, senantiasa menziarahi mereka, tawasul kepada mereka disetiap waktu kita. Begitulah pesan ustadz Miqdad mengakhiri ceramahnya. Acara pun ditutup dengan ziarah kepada Imam Husein as dengan penuh khidmat, sampai tak ada raut wajah yang bahagia sedikit pun, semuanya sedih, menangis, tersedu-sedu seakan-akan di depan kita adalah kuburan Imam Husein as.
rep : Ummi`s
PESANTREN DARUT TAQRIB, JEPARA
Bulan Muharram merupakan bulan kesedihan bagi keluarga suci Rasulullah saww. Yang mana pada bulan ini seluruh umat islam para pecinta Ahlulbait as memperingatinya atas syahadahnya Imam Husain as, keluarga dan para sahabat beliau di Karbala.
Untuk mengenang kembali pengorbanan dan perjuangan beliau dalam menegakkan amar ma’ruf wa nahi munkar, maka Ponpes Darut-Taqrib Jepara mengadakan acara majlis ‘Azza Imam Husain as, dengan tema : “Menepuk dada di ‘Asyura, memerah darah di Karbala, duka cita untuk sayyidu syuhada.
Acara berlangsung di masjid Imam Mahdi, dimulai tepat jam 20.00 WIB. Yang hadir dalam majlis kesedihan ini lebih dari empat puluh orang terdiri dari ikhwan dan akhwat juga anak-anak dari sekitar kota Jepara.
Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan ceramah yang disampaikan oleh Habib Ali Al Attas, sekaligus dengan pembacaan Maqtal oleh beliau.
Adapun tema yang beliau sampaikan perihal “Revolusi Kebangkitan Imam Husain as”. Bahwa beliau menyampaikan hal itu terkait dengan revolusi yang terjadi di Iran pada tahun 1979 M. Yang dipimpin langsung oleh Imam Khumaini qs. Begitu juga Kebangkitan Hizbullah yang dipimpin oleh  Sayyid Hasan Nasrullah yang bertahan dan mengalahkan zionis Israel. Yang mana mereka ini tidak lain karena belajar dari revolusi kebangkitan Imam Husain as.
Setelah beliau menyampaikan ceramah dan maqtalnya. Dilanjutkan dengan lantunan sya’ir Maktam oleh santri-santri Darut Taqrib dan terakhir Doa Ziarah Imam Husain as. yang dipimpin langsung oleh Habib Ali Al-Attas.
rep : Rohimat
ASYURA SYIAH JEPARA: MALAM KEDUA
PQ al Hasanain, Desa Guyangan
Masih dalam suasana Muharram, untuk malam kedua kali ini kami meliput majlis ‘Azza di Guyangan yang belokasi di Madrasah Al-Hasanain. Susunan acara disini pun sama dengan majlis ‘Azza di Ponpes Darut-Taqrib. Acara dimulai pukul 20.00 WIB-Selesai. Akan tetapi akhwatnya lebih dominan dari pada ikhwan dan kebanyakan dari mereka yang hadir adalah para pemuda.
Penceramah inti malam kedua ini adalah ust. Mukhlisin dan tema yang beliau sampaikan perihal “Rasa Cinta kepada Imam Husain as”. Beliau menyampaikan pesan kepada kita untuk selalu tetap mencintai Rasulullah saww dan Ahlulbaitnya. Dikarenakan kecintaan kepada merekalah kita mencintai Allah SWT. Dan jangan sampai kita menjadi seorang pembenci Ahlulbait as, na’udzubillah. Maka kita sebagai umatnya harus bertawali (berwilayah kepada Ahlulbait Nabi Saww) dan berbaroah kepada musuh-musuhnya.
Setelah beliau menyampaikan ceramahnya, dilanjutkan dengan lantunan syair-syair maktam oleh santri-santri pesantren Darut Taqrib yang ditugaskan, kemudian pembacaan maqtal oleh ust.Nur Alim sekaligus doa ziarah dan penutup.
rep : Rohimat
MUSHOLA H. ZABIDI AL MAHDI, KRASAK
Begitu pentingnya meraih kehidupan yang hakiki, itulah prolog majlis aza’ yang diungkapkan pada malam kedua Muharom di Mushola Zabidi Al-Mahdi. Walaupun yang hadir baru beberapa orang, tepat jam 19.00 wib, Majlis pun di tetap dimulai dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan dilanjut dengan persembahan kepada Imam Husein as berupa puisi dan ma’tam. Malam itu tampak bingung dan canggung saat persembahan dilantunkan, dirasakan begitu asing di telinga yang mendengarkannya, dikarenakan ma’tam malam itu, baru dan merupakan hadiah khusus untuk Imam Husein.Setelah itu, untuk lebih memeberi tali ikatan kita pada insan-insan suci, majlis pun diisi dengan tawasul kepada Rosulullah dan Ahlul Baytnya yang suci.
Satu, dua orang, Dan seterusnya bergantian, akhirnya pun banyak yang hadir dalam majlis tersebut. Setelah meminta hajat kita masing-masing di penghujung tawasul, majlis pun dilanjutkan dengan ceramah inti yang disampaikan oleh ustadz Alam Firdaus.
Malam itu, ustadz Alam menjelaskan tetang pentingnya menerima nasehat. Karena dengan nasehat yang kita terima, kita dapat mengambil manfaat baik di dunia maupun di akhirat. Dari kisah Imam Husein waktu itu, beliau memberi nasehat kepada Umar bin Saad dan juga pasukan Yazid yang lainnya, tapi hati mereka telah tertutup nasehat sehingga mereka rela memerangi sebuah kebenaran. Dan hanya Al Hur yang hatinya terbuka menerima nasehat Dan berpindah membela Imam Husein. Dari situ dapat disimpulkan bahwa nasehat merupakan pertaruhan antara surga dan neraka.
Dengan angin malam yang sepoi-sepoi, ustadz pun memberikan hal-hal yang membuat hati kita tertutup, Dan enggan menerima nasehat yaitu :
1.   Karena memakan sesuatu yang haram.
1.   Kecintaan pada duania yang berlebihan.
Ustadz pun menghimbau kepada kita agar berhati-hati dalam menggunakan harta yang kita peroleh, karena ketika belum di zakati Dan di humusi berarti kita juga memakan hal yang haram yang merupakan hak orang lain. Selain itu ustadz pun menghimbau agar kita tidak hanya berlepas diri dari orang yang jahat seperti musuh Imam Husein, tapi juga berlepas diri dari perbuatan mereka.
Walaupun ada beberapa anak kecil yang ikut sudah terlihat mengantuk, mereka tetap semangat mendengarkan ceramah dan menunggu hingga majlis selesai, akrinya sebagai akhir ceramah beliau, ustadz pun memberikan hal-hal yang dapat melembutkan hati kita, sehingga kita dapat menerima nasehat, yaitu :
·         Selalu yakin akan pengawasan Allah dalam setiap perbuatan kita, sehingga dengan itu kita tak akan berani melakukan dosa dan maksiat sehingga mudah menerima nasehat dari orang lain.
·         Selalu mengingat hari akhir, tapi yang terpenting adalah tidak hanya mengingat sesudah itu selesai tapi juga, apa reaksi kita, perbuatan kita setelah kita mengingat kematian.
·         Sering bermunajat kepada Allah, curhat dengan Allah, berdialog dengan Allah Dan menganggap Allah adalah sahabat terbaik kita.
·         Banyak membaca Al-Qur’an.
Setelah itu, ustadz Alam pun menutup ceramahnya dengan bertawasul kepada Imam Husein, keluarganya, dan pengikut-pengikutnya yang setia. Majlis pun ditutup dengan berziarah kepada Imam Husein as.
rep : Ummi`s
PESANTREN DARUT TAQRIB, JEPARA
Sudah merupakan tradisi Ahlulbayt, bahwasannya seorang pecinta Ahlulbayt haruslah mengadakan majlis `aza imam Husain as di 10 hari awal bulan Muharram.
Dan hari ini (07/01) adalah malam ke-2 (dua) dalam memperingati tragedi asyura itu. Diisi dengan ceramah oleh ustadz Miqdad Turkan, dan para hadirin tampak begitu khusyuk mengikuti jalannya acara.
Ada poin penting yang harus dimiliki pecinta imam Husain as di seluruh dunia, menurut ustadz Miqdad Turkan, yaitu harus adanya hubungan secara emosional (batin) dengan imam Husain as.
Dalam acara yang diadakan di Masjid imam Mahdi afs itu (pesantren Darut Taqrib, Jepara), ustadz Miqdad juga menekankan betapa pentingnya majlis aza’ imam Husain seperti ini. Semoga tangisan kita tak hanya dalam ‘acara’ saja. Semoga selepas acara tangisan kita masih terdengar hingga bulan Muharram pergi dan berganti bulan-bulan yang lainnya, begitulah beliau mengakhiri ceramahnya.
rep : Alamsyah
ASYURA SYIAH JEPARA: HARI KELIMA
Bulan asyuro, bulan duka bagi para pecinta Rosulullah saww dan Ahlul Baytnya. bara kesyahidan Imam Husein as di Karbala’ akan terus menggelora dalam dada pecintanya. aroma kesyahidannya akan senantiasa harum dan menjadi sumber spirit perlawanan dan pengorbanan bagi penerus misinya.
Masih dalam hari-hari duka bagi Rosulullah dan Ahlul Baytnya, dengan semangat kami Majlis Ta’lim Fathimiyah Bangsri, Jepara, mengadakan peringatan Asyuro khusus Akhwat di hari ke-5 setelah 10 Muharom, tepatnya hari Ahad tanggal 15 Muharom 1433 H (11 Desember 2011) di Mushola Al-Husaini Candi Banjaran, Bangsri, Jepara. tepat pukul 13.00 wib acara pun dimulai. seperti peringatan yang lainnya diawali dengan pembukaan, sambutan ketua panitia, persembahan untuk Imam Husein as, ceramah inti, maqtal, ma’tam dan ziarah. akan tetapi yang berbeda dari peringatan ini adalah semua yang terlibat adalah akhwat, yang menyiapkan (seluruh panitia), yang mengisi acara dari awal hingga akhir dan juga para hadirin semuanya akhwat, dari tua, muda, remaja, anak-anak hadir dalam majlis tersebut. sehingga kaum hawa dapat bebas bergerak, dalam mengekspresikan bakat-bakatnya yang terpendam.
Alhamdulillah Acara kali ini merupakan acara peringatan khusus akhwat yang ke-6, sejak dimulai tahun 2006 yang lalu. tidak hanya warga sekitar jepara yang hadir akan tetapi, kami juga mengundang daerah-daerah seperti Pati, Kudus, Demak, Semarang. bahkan peringatan kali ini ada hadirin yang datang jauh-jauh dari Jakarta.
Subhanallah… dalam suasana duka tersebut, ustadzah Fathimah Ba Muqoddam dari Bangil memberikan ceramahnya yang sangat menyentuh para hadirin, sehingga tak terdapat satupun hadirin yang tersenyum, semuanya larut dalam duka. beliau memberikan tausiah kepada kita, agar tidak melewatkan satu pun acara peringatan Imam Husein As. akan tetapi setelah kita mengikuti acara, kita harus bisa berubah dari sebelumnya. karena tujuan Imam Husein adalah memurnikan ajaran Islam yang telah koyak di tangan Yazid, memerangi kedholiman, kefasikan dan kemungkaran. oleh karena itu, kita juga harus bisa seperti beliau, memerangi segala hal kemungkaran dalam diri kita khususnya, misalnya kita harus berniat, teguh dalam hati untuk berhenti ghibah, berhenti maksiat dan lain-lain.
“Hal min nasirin yansuruni” “adakah penolong yang mau menolongku” teriakan Imam Husein selalu menggema setiap zaman, semoga kita termasuk salah satu yang menjawab dengan siap dan sigap panggilan beliau dengan lantang “labbaika ya Husain, labbaika ya Mahdi” di setiap langkah kita. amin. 
rep : ZahroInsiye

SYIAH JEPARA : DI JEPARA SUDAH ADA FATIMIYAH, SYIAH SUDAH PESAT TUMBUH

Anak adalah individu yang lemah. Tanpa pertolongan orang lain, ia tak akan dapat hidup dan memperoleh makan. Bila orang lain tak membantunya dan tak memenuhi kebutuhannya, ia akan mati. Orang-orang yang merawat bayi juga bertanggung jawab atas pendidikannya, termasuk pendidikan moral dan agama.
Apa yang diajarkan kedua orang tua terhadap anak-anaknya—juga lingkungan dan sarana yang disediakan bagi pertumbuhan dan pembinaan mereka—haruslah sedemikian rupa sehingga dapat mendorong sang anak memiliki sikap taat dan patuh. Rasa kasih sayang serta kelemahlembutan dalam kehidupan rumah tangga akan memberikan ketenangan, menciptakan ketentraman, mendidik, membentuk akhlak, dan memperbesar penerimaan serta kepatuhan anak.
Bila seorang ayah—yang merupakan simbol keadilan, ketertiban, dan kedisiplinan—sedangkan seorang ibu—yang merupakan simbol kasih sayang—berjalan bersama, saling memahami dan melaksanakan ketentuan dan tata tertib, niscaya akan menciptakan landasan yang baik bagi pendidikan akhlaq anak-anak mereka. Dengan demikian, mereka juga akan mampu meredam berbagai terpaan kuat bencana, petaka, dan berbagai pengaruh sosial terhadap anak-anak tersebut. Dikarenakan orang tua adalah figur yang sangat penting dan berpengaruh dalam perkembangan identitas dirinya.
Berbagai cara dan kebiasaan yang diperoleh seorang anak dalam lingkungan rumah tangga—seperti berinteraksi, sikap, dan rasa kasih sayang yang ia peroleh dari lingkungan tersebut—akan merasuk kedalam jiwanya. Sebab seorang anak akan tumbuh berdasarkan kebiasaan yang ia dapatkan di waktu kecil, misalnya perilaku ingin bebas, marah, dengki, tergesa-gesa, nafsu yang tak terkendali, gegabah, sifat keras dan tamak. Semua hal tersebut akan sulit dihilangkan ketika ia sudah dewasa. Bahkan akan menjadi tabiat yang berakar kuat.
Jadi masa kanak-kanak sangat penting bagi pembentukan kepribadian anak dimasa selanjutnya. Pada masa tersebut, seorang anak menyerap perilaku, kebiasaan, wawasan yang akan tertanam kuat dalam dirinya, yang akan berperan dalam pembentukan kepribadiannya. Pada tahap ini, anak akan lebih cepat menerima apa yang didengarnya dan lebih cepat dalam mempelajari dan mengikuti sesuatu, sehingga dia mampu menyimpan banyak perasaan, sensitivitas, pemikiran, kebiasaan, tradisi dengan cepat. Dan ini tak akan mampu dilakukan oleh orang yang sudah melampau tahap ini. Oleh karena itu disebabkan “lahan manusia” dalam diri anak—yang mencakup “lahan” kekuatan, kejiwaan, keruhanian, dan emosional—masih kosong dari ikatan dan pengaruh luar apapun. Jadi, periode masa kanak-kanak adalah masa yang sangat cepat dalam menerima pengaruh sesuatu. Dan di situlah peran penting orang tua dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada anak sehingga dapat membentuk perilaku anak yang sesuai dengan ajaran agama Islam sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rosulullah saww yang merupakan suri tauladan semesta alam.
Dalam sejarah Imam Ali bin Abi Tholib, yang mana sejak kecil diasuh dan dibimbing oleh Rosulullah saww, yang mana seluruh sifat-sifat kemanusiaan dan kemuliaan tampak nyata pada sosok lelaki agung ini. Pribadi agung ini merasa bangga dengan pendidikan yang diperolehnya semasa kecil.Beliau menceritakan kepada kita tentang kekayaan spiritual yang didapatkan semasa kanak-kanak dan beliau juga bangga terhadap pembimbingnya yang agung yaitu Rosulullah saww. semua kecenderungan akal dan perasaan Imam Ali telah terpuaskan semasa kanak-kanak dalam pangkuan Nabi saw. Rosulullah saww telah memuaskan Imam Ali lansung dari mata air cinta dan kasih sayang beliau serta memberinya pelajaran akhlak dan memerintahkannya untuk mengikutinya.
Akan tetapi, banyak realita yang kita hadapi sekarang ini, banyak orang tua yang sibuk bekerja, karena tuntutan ekonomi, berangkat pagi dan pulang tengah hari, mereka meningggalkan anak-anak mereka, banyak orang tua  juga yang tidak peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Mereka menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya pada sekolah, karena mereka berpikir bahwa sekolah satu-satunya yang bertugas meberikan pendidikan pada seorang anak. Selain itu, banyak orang tua lupa bahwa harapan-harapan mereka terhadap anak tidak mungkin terwujud kecuali mereka memberi suri teladan yang baik. Orang tua tidak bisa mengaharapkan anaknya jujur, sementara mereka sendiri suka berbohong. Sangat aneh, orang tua mengaharapkan anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang sholeh, sementara mereka tidak pernah sholat dan memabaca Al-Qur’an. Semua itu dikarenakan suri tauladan sangat penting dalam proses pendidikan anak.
Oleh karena itu, Islam memberi tuntunan pada umatnya untuk meletakkan pendidikan agama sejak pra nikah, masa prenatal, sejak lahir bahkan sepanjang hayat. Seperti salah satu contoh Agama Islam menganjurkan ketika anak lahir di dunia hendaknya mengumandangkan azan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya, yang dengan ini berarti pendidikan agama terhadap anak telah dimulai sejak saat itu. Jiwa anak yang masih bersih dan begitu juga saraf dan otaknya yang masih lembut, pada awal kehidupannya telah dikenalkan kepada suara lembut kumandang azan dan iqomah.
Menyadari pentingnya penanaman nilai-nilai agama terhadap anak, sangat diharapkan bagi orang tua untuk melakukan pengajian-pengajian untuk menimba ilmu agama agar dapat memberi teladan yang baik kepada anaknya, cara mendidik anak, dan lain sebagainya dalam rangka menanamkan nilai-nilai agama terhadap anak apalagi disaat zaman yang serba canggih, teknologi mutakhir, dan akses informasipun mudah di dapat. Maka dari itu, tepat pada tanggal 25 ktober 1995, Habib Husein Bafagih dan Syarifah Muzna mendirikan Fathimiyah. Dan alhmadulillah mendapat sambutan yang baik dari pecinta Ahlul bayt di sekitar Bangsri hingga sampai sekarang mempunyai anggota sekitar 200 orang. walaupun memang sering jatuh bangun tapi alhamdulillah masih tetap eksis dan semangat dari hari ke hari, dengan adanya pengajian rutin tiap 2 bulan sekali dan diadakannya peringatan-peringatan besar Ahlul bayt dan yang lainnya.
Visi dan misi Fathimiyah
1. menyambung tali silaturahmi antar sesama
2. meningkatkan rasa kebersamaan
3. meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang ajaran-ajaran mazhab Ahlul bayt
4. meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt
Program-program Fathimiyah
1. mengadakan pengajian tiap 2 minggu sekali bergilir dari mushola ke mushola
2. mengadakan peringatan-peringatan  wiladah dan syahadah para ma’sumin
3. mengadakan peringatan syahadah Imam Husein khusus akhwat se-Jawa Tengah
4. mengadakan peringatan Milad Sayyidah Fathimah se-Jawa Tengah
5. mengadakan bakti sosial
6, mengadakan training untuk anak-anak di bulan Ramadhan

SYIAH JEPARA ; KAJIAN SYIAH 2 PEKAN SEKALI, BANGSRI 2010

Majlis Ta’lim Fathimiyah mempunyai program pengajian rutin setiap dua minggu sekali, dengan lokasi bergantian diberbagai mushola yang ada di kecamatan Bangsri. Kemarin, Ahad 21 November 2010 berlokasi di Mushola Al-Husaini Candi, Banjaran dan acara dimulai tepat jam 14.00 sampai 16.00.
Lebih dari 150 akhwat anggota Fathimiyah hadir siang itu, karena acara kali ini sekaligus merayakan Idul Ghodir. Setelah pembukaan acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, tahlil, puisi untuk Imam Ali as, dilanjutkan Ceramah inti yang disampaikan Ustadzah. Khodijah dan diakhiri ziarah kepada Imam Ali as.
Suasana sejuk mengiringi siang menjelang sore itu, ustadzah Khodijah mengawali ceramahnya dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan Imam Ali as. Diantaranya; Imam Ali as adalah satu-satunya orang yang lahir didalam Ka’bah, Imam Ali juga seorang pemberani sehingga rela menggantikan Rosulullah untuk tidur di tempat tidurnya saat Rosulullah diam-diam meninggalkan kota Mekkah untuk berhijrah. Imam Ali as juga pemegang bendera perang Dan selalu mendapat kemenangan ketika berada di bawah kepemimpinannya.
Dalam kesempatan itu ustadzah Khodijah menyebutkan beberapa hadits Rosulullah yang berkenaan dengan keutamaan Imam Ali as, diantaranya: â€œAliun minni wa ana min ‘Ali” (Ali dariku Dan aku dari Ali). â€œAnta minni bimanzilati Haruna min Musa illa annahu la nabiya ba’di” (Kedudukanmu, wahai Ali disisiku seperti kedudukan Harun disisi Musa hanya saja tidak ada nabi setelahku). “Ana madinatul ilmi wa Aliun babuha, faman arodal madinah falya’tiha min babiha” (Aku adalah kotanya ilmu Dan Ali adalah pintunya, barang siapa ingin masuk ke kota, maka harus mendatangi pintunya). Dan banyak lagi hadis lain yang meriwayatkan tentang keutamaan beliau.
Berkenaan dengan Ghodir Khum beliau mengatakan, ketika Rosulullah haji wada’, Rosulullah memanggil seluruh kaum muslimin Dan dikumpulkan di sebuah tempat yang bernama Godir Khum/telaga Khum. Yang mana jatuh tepat pada tanggal 18 Zulhijah. Disana Rosulullah menyampaikan bahwa pengganti beliau setelah tiada adalah Imam Ali as. Dalam hadist beliau menyatakan “Man kuntu maulhu fa hadza ‘Aliyun maulahu….” (barang siapa menjadikanku pemimpinnya maka inilah Ali juga pemimpinnya.).
Selanjutnya ustadzah Khodijah melanjutkan, kita yang mengaku pecinta Ahlul bayt harus tahu hari raya Ghodir Khum. Kita juga harus memegang teguh dua peninggalan Rosulullah yaitu Al-Qur’an Dan Ahlulbayt. Karena kita tak punya amal apapun yang bisa diandalkan di akhirat, sehingga bakti kita, cinta kita pada Ahlul Bayt haruslah yang utama dalam hidup kita. Imam Ali as Dan keluarga Rosulullah adalah orang-orang pilihan yang mampu hidup dalam kezuhudan, ketaqwaan, jadi ketika kita mengaku pecinta mereka kita juga harus bisa meniru seperti mereka dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam hal makanan, dan pakaian, mereka hanya makan makanan sederhana dan sering dalam kelaparan karena lebih mengutamakan orang lain. Mereka juga berpakaian apa adanya, bahkan sayidah Fathimah memberikan baju barunya untuk pengemis. Memang kita hidup dalam zaman yang sangat mengedepankan life style, tapi apakah gaya hidup yang ditawarkan di televisi itu sesuai dengan ajaran Ahlul Bayt? Lalu apakah kita masih layak menjadi pengikut dan pecinta Ahlul Bayt ketika kehidupan kita tidak sesuai dengan apa yang mereka ajarkan?
Kita harus bertekad sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri sebagai pecinta Ahlul bayt dengan melakukan segala perintah Allah Dan menjauhi larangan Allah, karena ajal kita selalu mengikuti kita, kapan saja Allah bisa mengambnil nyawa kita. Apakah kita sudah mempunyai bekal untuk di akhirat? Imam Ali as mengatakan, bahwa di alam barzakh itu sangat menakutkan, kalau amal kita di dunia ini jelek maka kita akan dihimpit oleh kuburan kita dan kita pun akan susah dalam menjawab pertanyaan malaikat tentang siapa Tuhan kita, Nabi kita, sampai 500 tahun lamanya baru kita bisa menjawabnya. Dikarenakan akibat maksiat yang kita lakukan, maka ketika sakaratul maut akan mengalami rasa sakit yang sangat sehingga kita kehilangan hafalan-hafalan selama kita didunia.
Sebelum menutup ceramahnya, ustadzah Khodijah menyebutkan amalan hari Ghodir Khum. Diantaranya:
1. Berpuasa
2. Mandi kemudian sholat sunnah 2 rekaat sebelum dhuhur dengan bacaan Al-Fatehah, kemudian al-ikhlas, ayat kursi, dan al-qodr masing-masing sepuluh kali.
3. Membaca Doa Nudbah
4. Memberi sedekah
5. Memberi makan kepada yang berpuasa
6. Saling mengucapkan selamat kepada kaum muslimin yang ditemui, dengan mengucapkan“Allahummaj’alna minal mutamassikina biwilayati Amiril Mu’minin wal aimmati asâ€

7. Menggembirakan sesama mukmin dengan memberi.

SYIAH JEPARA ; HAUL SYARIFAH ANISAH, 2010

Minggu (5/12) tepat jam dua siang ta’lim rutin Fathimiyah diadakan. Taklim kali ini bertempat di rumah almarhumah Syarifah  Bafagih bertepatan juga dengan haul Syarifah Anisah. Acara dimulai  dengan khataman Al-Quran 30 juz, setelah itu dilanjutkan tahlil kemudian ta’lim yang diisi oleh ustadz Haidar Alaydrus.
Ta’lim yang disampaikan bertema renungan tentang akhir tahun. Ust. Haidar mengatakan; Setelah kita melakukan perjalanan hidup selama satu tahun, banyak momen-momen, peringatan-peringatan dan yang lainnya yang telah kita lalui, dan yang baru-baru ini adalah Idul Adha, Idul Ghodir dan hari Mubahalah. Lalu apakah kita dapat mengambil hikmah dari semua hari-hari penting selama satu tahun?  Lalu apa saja yang telah kita lakukan dahulu? Sudah sesuaikah dengan ajaran Rosul Dan Ahlul Baytnya? Semua anggota tubuh kita, kita gunakan untuk apa? Kemana masa luang kita? Untuk apa saja masa muda kita? Harta yang telah kita peroleh kita gunakan untuk apa? Apakah Rosulullah Dan Ahlul Bayt tersenyum melihat kita? Atau bahkan sedih melihat kita? Kita harus bisa intropeksi diri, jangan sampai untuk tahun depan, kita sama dengan yang tahun ini atau bahkan lebih buruk dari yang sekarang!!!
Beliau melanjutkan bahwa kita harus menyongsong masa depan yang lebih baik. Jadikan Bulan Zulhijah ini sebagai pamungkas akhlaq yang buruk. Kokohkan niat kita, lanjutkan hidup dengan kembali pada nilai-nilai Agama Islam, karena kenyataan yang terjadi sekarang, Negara yang mayoritas Islam yang dulunya memegang erat budaya timur, khususnya Indonesia sekarang terkontaminasi dan meniru budaya barat. Media apapun, TV, majalah, internet, dimana-mana ditampilkan wanita yang membuka aurat. Tontonan film yang tidak mendidik dan jauh dari akhlaq dan moral, begitu mudahnya didapat.
Sebagai wanita, tugas penting kita adalah menciptakan generasi-generasi yang baik, menjadi suri tauladan yang baik untuk anak. Karena wanita sebagai tonggak negara, ketika negara tersebut, wanitanya baik insyaallah negaranya akan maju. Moga diakhir tahun ini, kita yang ikut dalam ta’lim ini dapat membenahi diri, sehingga tahun yang akan datang dapat menjadi lebih baik. Berusaha sekuat tenaga, bersama-sama, saling mengingatkan, saling membantu, mulai dari diri kita, di Majlis ini dan insyaallah dari yang sedikit ini dapat mewarnai kehidupan di Indonesia ini menjadi lebih baik. Amin. Demikian Ust. Haidar mengakhiri ceramahnya.
Acara sore hari itu berakhir dengan pengumuman bahwa Majlis Taklim Fatimiyah akan mengadakan peringatan peringatan `Asyura Imam Husain khusus akhwat, tanggal 19 Desember 2010. (daruttaqrib/ummi`s/sa)

SYIAH JEPARA : PERINGATAN MILAD SAYYIDAH ZAHRA AS, 2010.

Pada Tanggal 20 Jumaditasni atau 6 Juni 2010, pecinta Ahlul Bait wilayah Bangsri, Jepara mengadakan peringatan Milad Sayyidah Fatimah Zahra as. Bertempat di gedung PGRI Bangasri.
Acara dimulai jam 13.00 WIB dan dihadiri bukan hanya dari kota Jepara saja akan tetapi dari berbagai kota yang ada di Jawa tengah, sehingga gedung yang biasa menampung sekitar enam ratus orang pun tidak cukup, dan akhirnya sebagian ditempatkan diluar gedung. Walaupun hujan mengiringi acara tersebut akan tetapi para pecinta Sayyidah Zahra as. tetap bersemangat hingga akhir acara.
Pembicara utama dalam ucara tersebut adalah al Habib Ust. Ahmad Baraqbah dari Pekalongan, dan beliau merupakan tokkoh besar bagi pecinta Ahlul Bait Indonesia terutama Jawa Tengah.
Bapak wakil bupati kabupaten  Jepara, KH. Drs. Marzuki MM, ditengah kesibukannya beliau berkenan hadir dan memberikan sambutan dalam aara tersebut.
Kesempurnaan acara terasa lebih sempurna ketika panitia Milad Sayyidah Zahra as mengadakan bakti sosial kemanusiaan. Bakti sosial kali ini dengan mengadakan pemberian santunan kepada anak-anak yatim dan donor darah dari para pecinta Sayyidah Fatimah bagi mereka yang membutuhkan yang langsung ditangani dan disalurkan pihak PMI Jepara. (DATA.sa)