Kamis, 18 Mei 2017

CATATAN TTG MUDZAKARAH ANNAS BAG KEDUA



Soroti Ideologi Imamah dan Pertahankan TAP MPRS 1966, Mudzakarah ANNAS Lahirkan 9 Pernyataan

Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) rampung menggelar Mudzakarah Nasional II di Bandung, Ahad (sore). Selain diisi seminar, acara yang dihadiri ratusan kiai, ulama, da’i dan aktivis lintas ormas Islam dari seluruh Indonesia ini juga menggelar sidang komisi. Dari mulai bidang organisasi, program, politik dan pemerintah hingga komisi media, internasional dan strategi dakwah.
Usai menggelar sidang komisi para peserta memaparkan hasil rumusan sidang kepada para peserta. Acara lalu diakhiri dengan pembacaan 9 butir pernyataan sikap yang dibacakan oleh Sekretaris Umum ANNAS HM Rizal Fadhillah. Berikut 9 butir pernyataan sikap ANNAS:
Pertama, mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya pemerintah untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan akan ancaman gerakan komunis yang kini bangkit kembali untuk menggantikan ideologi Pancasila menjadi ideologi Komunis serta Syiah yang semakin menguat untuk mencapai target utamanya yaitu menegakkan ideologi imamah yang dimulai dari proses pembinaan, kemudian penggalangan, lalu penyusupan dan akhirnya pengambil alihan kekuasaan. Baik Komunis maupun Syiah melakukan cara gerilya untuk mencapai tujuannya.
Kedua, mendorong masyarakat dan pemerintah agar memiliki pemahaman yang benar, keyakinan yang kokoh serta pegangan yang jelas mengenai kesesatan dan bahaya Syiah bagi akidah, syari’ah dan akhlak, lebih jauhnya merusak kesatuan bangsa dan menggoyahkan sendi ideologi Negara. Pandangan atau fatwa ulama dan organisasi keagamaan tentang kesesatan bahaya Syiah di Indonesia kiranya dapat menjadi pengangan dan landasan pengambilan kebijakan bagi pemerintah untuk melindungi rakyat dari ancaman gerakan Syiah.
Ketiga, mendesak Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk berani segera mengeluarkan fatwa kesesatan ajaran Syiah agar menjadi pedoman kuat bagi masyarakat maupun bagi pemerintah dan aparat keamanan, penegak hukum dalam mengambil kebijakan terhadap gerakan sesat Syiah.
Keempat, Mendukung penuh tetap dipertahankannya ketetapan MPRS nomor 25 tahun 1966 mengenai larangan pengembangan komunisme dan menentang segala upaya yang ingin mencabut ketentuan tersebut.
Kelima, mendesak pemerintah untuk berhati-hati dalam menjalin hubungan dan kerja sama dengan pemerintah Iran, baik dalam bidang pendidikan, keagamaan, ekonomi maupun politik dan militer. Karena di balik kerja sama tersebut tersisipi bahkan dominan kepentingan kegiatan syiahisasi yang cepat atau lambat akan menimbulkan gesekan atau konflik di kalangan masyarakat dan rakyat Indonesia yang senyatanya berpahamkan Ahlu Sunnah wal Jamaah. Pemerintah harus berani menutup atase kebudayaan kedutaan besar Iran karena disinyalir telah meyimpangkan fungsi atase menjadi markas komando pengembangan ajaran sesat Syiah di Indonesia.
Keenam, mendorong pemerintah daerah untuk lebih jeli memantau ajaran Syiah di daerahnya dan dengan dukungan organisasi, tokoh dan lembaga dakwah Islam yang ada, berani mengambil kebijakan dan langkah-langkah nyata dalam mencegah tumbuh dan berkembangnya paham sesat Syiah. Kebijakan tegas pemerintah daerah bahkan provinsi maupun kabupaten/kota akan memberikan pengaruh kuat pada pemerintah pusat untuk dapat tegas pula mengambil kebijakan dan melakukan langkah strategis mencegah, menindak dan membubarkan lembaga-lembaga pengembangan Syiah.
Ketujuh, meminta seluruh elemen politik khususnya partai politik untuk melakukan pengawasan dan penelitian secara seksama akan kemungkinan disusupi oleh kader dan aktivis paham sesat Syiah. Melakukan pembersihan dan penindakan, hal ini penting bagi kebaikan elemen politik khususnya partai politik agar terjaga citranya di masyarakat dan terlebih-lebih dalam rangka menjaga agar institusi tidak digunakan oleh paham sesat Syiah untuk berlindung dan memanfaatkannya demi tujuan merealisasikan misi mengacaukan stabilitas Negara dan menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi Imamah.
Kedelapan, mengimbau aparat penegak hukum baik kepolisian dan kejaksaan serta TNI untuk mengambil langkah-langkah preventif dan antisipatif terhadap perkembangan paham Syiah di berbagai pelosok daerah di Indonesia. Jalinan kerja sama ANNAS maupun organisasi-organisasi keagamaan dengan pihak aparat penegak hukum dan keamanan selama ini kiranya dapat ditingkatkan, hal ini demi melindungi bangsa dan Negara kita dari perpecahan yang mungkin terjadi akibat keagresifan pengembangan paham sesat syiah. Keterlambatan atau lemahnya jalinan kerja sama antar pihak dapat membawa kita kepada kekisruhan seperti di negara-negara Timur Tengah: Yaman, Irak, maupun Suriah. ini semua akarnya adalah radikalisme, takfiri dan permusuhan Syiah terhadap Ahlu Sunnah wal Jamaah.
Kesembilan, berkaitan dengan perjuangan pengikut Syiah untuk menegakkan ideologi Imamah yang jelas-jelas bertentangan dengan ideologi Pancasila dan konstitusi Negara, maka kami mendesak pemerintah melalui proses hukum untuk melakukan pembekuan dan pembubaran institusi atau organisasi Syiah di Indonesia, baik itu Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) atau Ahlul Bait Indonesia (ABI) atau yayasan-yayasan dan lembaga lain yang berafiliasi kepada gerakan sesat Syiah. Kebijakan ini penting dan mendesak mengingat keresahan masyarakat sudah cukup tinggi, aktivitas pengikut Syiah di seluruh Indonesia sudah sangat intens dan menghawatirkan.
“Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan sebagai wujud tanggung jawab keagamaan dan kenegaraan ANNAS dalam membentengi umat dari penyesatan paham Syiah dan melindungi Negara dari konflik keras akibat gerakan Syiah yang memang memiliki paham ideologi yang sangat bertentangan dengan ideologi Pancasila dan UUD 1945 serta dapat merongrong stabilitas NKRI,” tutup Rizal Fadhillah yang juga menjabat Sekretaris Umum Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat ini. (Pizaro/INA)


Habib Zein Al Kaff: Pemkot Bandung Harus Berani Tegas Terhadap Syiah

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jawa Timur, Habib Achmad bin Zein Al-Kaff menegaskan, tidak ada kompromi dengan Syiah. Menurutnya, Syiah adalah aliran yang sesat dan menyesatkan yang berbahaya bagi agama dan negara.
“Syiah ini adalah aliran yang sesat dan menyesatkan. Tidak ada kompromi dengan Syiah. Sebab Syiah ini berbahaya bagi agama, bangsa dan negara,” katanya kepada wartawan usai menghadiri Mudzakarah ANNAS ke-2 di Hotel Grand Asrila Kota Bandung, Ahad (14/5/2017).
Dengan digelarnya Mudzakarah ANNAS ke-2 di Bandung diharapkan pemerintah daerah khususnya pemkot Bandung untuk berani mengambil sikap tegas terhadap keberadaan gerakan Syiah.
“Terutama di Bandung ini, harus berani ambil sikap yang tegas. Mereka (Syiah_red) telah menghina semuanya, menghina Rasulullah, menghina Allah Rabbil’alamin, dan para ulama,” ujarnya.
“Insya Allah dengan adanya (ANNAS_red) ini bisa mengembalikan mereka, menjaga mereka yang belum terkena paham ini,” pungkas dia.
Sebagaimana diketahui, perayaan Asyura (hari besar Syiah) kerap berlangsung di Kota Bandung dengan pengamanan aparat kepolisian. Bahkan, tahun lalu perayaan memperingati kematian Sayyidina Husein ini dilangsungkan di Stadion Sidolik yang diikuti oleh ratusan jemaat dari berbagai kota di Indonesia. (baca: Umat Islam Jawa Barat Siap Hadang Perayaan Asyura Syiah)
Reporter : Agus Cahyanto Redaktur : Ally Muhammad Abduh 

Prof. Dr. Didin Hafidhuddin: Syiah Itu Troublemaker

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Prof. Dr. Didin Hafidhuddin menilai, Syiah adalah ajaran pembuat masalah (troublemaker) karena ajaran ini didasarkan pada kebencian dan kedengkian.
“Ajaran mereka ini didasarkan pada kebencian terhadap para sahabat Nabi, kepada imam-imam hadist. Dan kebencian mereka ini adalah penyakit yang terus ditularkan kepada para pengikutnya. Sehingga Syiah ini dimana-mana selalu menjadi troublemaker, pembuat masalah, bukan kedamaian,” paparnya dalam Mudzakarah Nasional II ANNAS di Bandung, Ahad (14/5/2017).
Ia mengungkapkan fakta-fakta sejarah yang membuktikan Syiah selalu menjadi pemicu konflik peradaban. Jatuhnya Baghdad kepada Tatar yang dipimpin oleh Hulagu Khan pada tahun 656 H atau 1258 M tidak lepas dari pengkhianatan tokoh Syiah, yaitu Muayududdin Muhammad yang menyebabkan ratusan ribu nyawa kaum muslimin hilang.
Pada tahun 638 H, Kyai Didin melanjutkan, Syiah juga bersekongkol dengan tentara Salib dalam merebut Palestina, ditambah pembantaian umat Islam di Suriah, Irak dan pengkhianatan-pengkhiantan Syiah kepada umat Islam lainnya.
 “Oleh karena itu, tidak ada kata lain selain pemerintah harus mengambil sikap tegas bahwa Syiah ini adalah aliran yang membahayakan,” tegasnya.
Oleh sebab itu, mantan Rektor Universitas Ibn Khaldun (UIKA) itu meminta pemerintah untuk tidak memberikan ruang gerak kepada Syiah dimana pun dan dalam bentuk apapun.
“Maka di forum ini saya sampaikan kepada pemerintah untuk mengambil sikap tegas terhadap Syiah, karena watak ajaran ini adalah troublemaker,” pungkasnya.
Reporter : Aryo Jipang Redaktur : Ally Muhammad Abduh 


Sumber : jurnalislam.com dan salam-online.com







CATATAN TTG MUDZAKARAH ANNAS BAG PERTAMA



Mudzakarah Nasional II ANNAS Soroti Bahaya Syiah dan Komunis
Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) menggelar Mudzakarah Nasional II di Hotel Grand Asrilia, Bandung. Selain bahaya Syiah, mudzakarah kali ini juga menyoroti ancaman Komunis.
Dalam sambutannya, Ketua Umum ANNAS KH. Athian Ali Dai Lc. MA. mengaku prihatin dengan ancaman yang luar biasa terhadap akidah umat dan negeri ini. “Kehadiran Syiah dan Komunis bisa jadi kesempatan dari Allah kepada kita untuk mempertahankan negeri yang kita cintai. Untuk membela umat dari pemahaman yang sesat dan menyesatkan,” ujarnya Ahad (14/5).
Komunisme, lanjut KH. Athian, sudah terbukti berulang kali melakukan kudeta hingga menimbulkan korban. “Komunis bukan lagi ancaman tapi sudah terbukti membahayakan bangsa Indonesia,” imbuhnya.
KH. Athian menambahkan, Syiah boleh jadi lebih berbahaya dari komunisme. Hingga kini, keberadaan Syiah menimbulkan konflik horizontal di Indonesia.
Menurutnya ajaran Syiah benar-benar bisa memancing darah seorang muslim mendidih. Pasalnya, ajaran Syiah penuh dengan penodaan terhadap ajaran Islam.” Ajaran Islam mereka hina dan nista. Allah dan Rasulullah mereka hina,” paparnya.
Kini, Syiah tengah melakukan kekacauan di dunia Islam. Di Irak, Iran, Arab Saudi, Suriah, Yaman, dan negara-negara lainnya. “Saya pernah ke Iran selama sepekan dan umat Islam semakin sulit bernafas di Teheran,” jelas dia.
Informasi yang diperoleh Islamic News Agency (INA), acara ini dihadiri oleh 300 alim ulama, dai dan aktivis dari seluruh Indonesia. Turut hadir Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat, Prof. DR KH Didin Hafidhudin, para pejabat di daerah Jawa Barat dan perwakilan ormas Islam.

Wagub Jabar: MUI Harus Lindungi Akidah Umat dari Bahaya Syiah

Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar mendorong Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk berperan banyak melindungi akidah umat dari bahaya Syiah. Ajaran Imamah yang dianut paham itupun dinilainya sangat berbahaya.
“MUI punya peran sentral menjaga kemurnian akidah umat. Terkait paham Syiah, dalam rakernas tahun 1984, MUI telah merekomendasikan bahwa paham Syiah memliki perbedaan pokok dengan Ahlussunah yang menjadi keyakinan umat Islam Indonesia,” jelasnya saat memberi sambutan di Mudzakarah Nasional II Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) di Hotel Grand Asrilia, Bandung, Ahad (14/5).
Deddy mengatakan pihaknya tidak ingin konflik Syiah yang terjadi di berbagai daerah kembali terulang di Indonesia. Seperti konflik Sampang yang telah melahirkan banyak korban.
“Kita tidak ingin insiden Sampang terjadi di bumi pertiwi, khususnya di Jabar. Sehingga acara ini harus bisa menjadi masukan bagi pemerintah,” imbuhnya.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa tahun 2018 adalah tahun politik di mana pilkada serentak akan dilaksanakan. Karena itu, Dedy meminta umat Islam mewaspadai tahun politik ini dimanfaatkan oleh Syiah.
“Keimamahan paham Syiah sudah sangat jelas bahaya dan perlu diwaspadai,” tandasnya.
Reporter: Pizaro/INA
Editor: Imam S.

Mudzakarah Nasional ANNAS: Syiah Mengincar Kekuasaan di Indonesia

Guna mencegah keberadaan bahaya paham sesat Syiah, Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), menggelar Mudzakarah Nasional (Munas) di Hotel Grand Asrilia Bandung, Ahad (14/05). Agenda ini dihadiri oleh 400 orang lebih peserta dari 30 kota/ kabupaten seluruh Indonesia.
Disampaikan oleh Rizal Fadilah, selaku Anggota Dewan Pakar ANNAS, bahwa Syiah dengan konsep Imamah-nya telah bertentangan dengan ideologi Pancasila. Bahkan bukan hanya bertentangan namun juga membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Syiah dengan konsep Imamah-nya bukan hanya bertentangan dengan Pancasila, namun juga mengancam keutuhan NKRI,” kata Rizal dalam pembacaan hasil keputusan Mudzakarah ANNAS.
“Seperti kita ketahui bahwa Syiah adalah aliran sesat yang harus dihilangkan dari bumi Indonesia,” tambahnya.
ANNAS menilai, Syiah saat ini sedang mengincar kekuasaan di Indonesia, bahkan gerakan Syiah telah mengarah pada gerakan politik guna mencapai kekuasaan di negeri ini.
“Syiah sejak kelahirannya hingga kini merupakan gerakan politik, aspek spiritualitas dan kaifiyah ta’abudi-nya (tata cara ibadah) hanya kamuflase dari misi yang diperjuangkannya, yaitu kekuasaan,” jelas Rizal.
Masyarakat kerap terkecoh dengan keberadaan Syiah, seakan Syiah dianggap sebagai mazhab yang eksistensinya harus ditoleransi dan didukung sepenuh hati.
“Masyarakat kerap terkecoh dengan keberadaan Syiah. Syiah dianggap sebagai mazhab yang harus dilindungi bahkan didukung sepenuh hati,” tutur rizal
Beberapa contoh kesesatan Syiah, lanjut dia, adalah menghalalkan penumpahan darah bagi pengikutnya, bahkan dianggap sebagai penghargaan bagi darah Husein di Karbala. Nikah mut’ah juga merupakan tradisi yang kerap dilakukan Syiah, bahkan dalam nikah mut’ah menjadi halal untuk saling bertukar istri.
 “Bagi Syiah penumpahan darah merupakan persembahan bagi Husein di Karbala,” pungkas Rizal.
Guna mengantisipasi hal ini, ANNAS akan melakukan beberapa hal, di antaranya akan mempersiapkan citizen journalisme untuk mengupdate dan memantau keberadaan Syiah. Selain itu ANNAS juga akan mendorong pemerintah agar segera menghentikan paham Syiah di Indonesia, bahkan diminta untuk membubarkan Syiah hingga ke akarnya.
“Kita akan mempersiapkan citizen journalisme bagi mereka yang berada di daerah sehingga bisa mengupdate jumlah dan keberadaan Syiah di tempat masing-masing. Kita juga akan mendorong pemerintah agar segera membasmi paham Syiah di Indonesia,” tuturnya.
Reporter: Saifal
Editor: M. Rudy
Sumber : kiblat.net


Selasa, 09 Mei 2017

WISATA GRATIS ALA SYIAH : DOSEN2 SUNNI DIWISATAKAN GRATIS



Delegasi Pimpinan Universitas Islam Swasta se Indonesia Timur PLESIR KE IRAN

Menurut sumber syiah, rombongan Kopertais wilayah VIII Sulawesi, Maluku dan Papua yang dikepalai Prof. Dr. H. Abd. Rahim Yunus, MA dan Prof. Dr. H. Sabaruddin Garancang, MA shalat Jum'at berjamaah yang diimami Ayatullah Sayid Ahmad Khatami di halaman Universitas Tehran di kota Tehran Jum'at (28 April 2017).

Delegasi pimpinan Universitas Islam swasta tersebut di Iran dengan modus mengikuti kegiatan Short Course di kota Qom selama 11 hari dari 23 April sampai 3 Mei 2017. Bisa jadi acaranya sehari atau dua hari, tapi yang merupakan acara inti adalah kampanye bahwa mereka di Iran tidak melihat adanya kejanggalan. Mereka tidak akan melihat ahlusunnah yang minoritas dan ditindas oleh rezim syiah. Rombongan juga menziarahi makam Imam Khomeini dipinggiran kota Tehran dalam perjalanan kembali ke Qom untuk menjalankan agenda-agenda Short Course selanjutnya. Mereka ditunjukkan ke tempat-tempat ritual syiah, agar mereka tertarik dan terpesona. Setidaknya mereka menjadi sunni yang moderat, yang tidak akan menyuarakan kesesatan syiah kepada para mahasiswa khususnya dan kepada umat islam di Indonesia pada umumnya.

Rombongan terdiri dari :

1.      Pimpinan STAI As’adiyah Sengkang, KH. Dr. M. Yunus Pasenreseng Andi Padi M. Ag

2.      Dr. H. Zulkifli Musthan, M.Si dari Insitut Ilmu Al-Qur’an Jannatu Adnin Kendari.

3.      Perwakilan dari Manado.

4.      Perwakilan dari Palu.

5.      Perwakilan dari Kolaka dan

6.      Perwakilan dari Papua Barat.

 


Guru Besar dan Dosen sejumlah Universitas Islam Indonesia Timur shalat dibarisan VIP DI TEHERAN



Disela kunjungan, Guru besar yang juga mantan wakil rektor UIN Alauddin Makassar Prof. DR. H. Abd. Rahim Yunus, MA melakukan pertemuan dengan sejumlah mahasiswa dari Indonesia Timur yang sementara menuntut ilmu di kota Qom Iran selasa malam (25/4). Dia  mengatakan, “Ilmu adalah kajian akademik, yang bisa didapat dan dituntut dari mana saja. Sehingga pada dasarnya semua ilmu dimana saja memiliki kesamaan, baik secara epistomologis, ontologis maupun aksiologis. Yang hasilnya bagaimana mengembangkan karakter, membangun otak dan kecerdasan intelektual serta membangun kecerdasan emosional dan spritual diri. Adalah suatu kebahagiaan melihat, mahasiswa-mahasiswa Indonesia tersebar dibanyak negara untuk menimba ilmu, khususnya ilmu keislaman, di Mesir, Yaman, Arab Saudi sampai ke Iran.”

“Saya melihat keberadaan mahasiswa Indonesia di Iran memiliki potensi yang sama, sebagaimana mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang juga belajar di luar negeri lainnya, yaitu bagaimana kelak memanfaakan ilmu yang telah dituntut untuk bisa semakin memperkaya khazanah keislaman di tanah air. Islam yang tentu saja memiliki spirit untuk membangun negara. Islam yang menjunjung toleransi dan membangun kesepahaman bersama untuk memperkokoh Islam Nusantara yang rahmatalil ‘alamin.” Tambahnya.

“Memang disayangkan, di masyarakat kita masih berkembang pemahaman dikotomi dari mana ilmu itu diperoleh. Namun Alhamdulillah di Sulawesi sendiri masih banyak intelektual dan pakar-pakar yang masih mengedepankan pemikiran akademik. Bahwa ilmu bisa diperoleh dari mana saja untuk kemudian membawanya kembali ke tanah air untuk dikembangkan dan memberi kontribusi positif. Apalagi kalau ilmu itu ilmu Islam. Dimana saja belajarnya, sumbernya tetap sama, yaitu dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Memang terdapat perbedaan dalam memahami, namun itu semestinya dipandang sebagai khazanah keilmuan yang bisa semakin memperkaya sudut pandang, bukan untuk dipertengkarkan yang hanya akan membuang banyak energi sia-sia.” Ungkap Ketua DPD Jam’iyyatul Islamiyah Provinsi Sulawesi Selatan tersebut.
“Seperti misalnya, pengalaman dari UIN Alauddin Makassar sendiri. Ketika Jalaluddin Rahmat yang seorang pakar mengambil doktornya di UIN Alauddin, sejumlah kelompok tidak menerima bahkan melakukan gerakan penolakan. Namun intelektual dan para pakar di UIN menolak sikap pandang dikotomi yang seperti itu. Saya salah seorang pengujinya saat itu yang kerap kali didatangi oleh mereka, namun saya jelaskan, dunia akademik itu bebas dari cara berpikir yang dikotomis. Dunia akademis tidak bisa dicampuri dengan sudut pandang kepentingan aliran-aliran tertentu. Selama bisa dipertanggungjawabkan secara akademis dan ilmiah, maka sebuah lembaga pendidikan harus menerimanya. Dengan sikap intelektual semacam itu dari pakar-pakar kita di Sulawesi Selatan, Jalaluddin Rahmat berhasil meraih gelar doktornya dengan tesis mengenai Sunnah sahabat dari sudut pandang Syiah. Bahkan dengan pendekatan metodologi tersebut justru memperkaya metodologi yang selama ini telah digunakan.” Tambahnya.

Wakil Ketua MUI Sul-Sel lebih lanjut menambahkan, “Hal ini saya sampaikan, untuk kita ketahui bahwa siapapun yang menimba ilmu dari manapun harus kita hargai, harus kita respon dan hormati sebanyak apapun perbedaan-perbedaan yang ikut bersamanya. Perbedaan bukan untuk ditakuti dan dipandang sebagai ancaman, namun untuk dikelola supaya bisa memberi rahmat, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw, ikhtilaf pada ummatku adalah rahmat. Tidak mungkin dengan sejarah yang panjang, sejak Nabi Muhammad Saw sampai sekarang, kita hanya memiliki satu sudut pandang yang sama. Karenanya, alumni-alumni dari Iran sebagaimana juga alumni-alumni dari Mesir dan negara-negara Timur Tengah lainnya diharap untuk bisa menghasilkan karya-karya yang mampu menjawab tantangan-tantangan zaman yang bisa membuat negara kita makin maju.”

“Saya melihat pemikir-pemikir Islam Iran juga tidak kalah dari pemikir-pemikir Islam di negara lainnya. Sebagai salah seorang pengurus MUI Sul-Sel, dalam setiap kegiatan pengkaderan ulama, kami juga menjadikan kitab tafsir dari ulama Iran diantaranya Tafsir Al-Mizan karya Allamah Thabathabai sebagai bahan kajian, yang juga merupakan salah satu referensi Prof. Quraish Shihab dalam menyusun kitab tafsir al-Misbahnya. Ini menunjukkan perbedaan dan varian-varian ilmu Islam yang ada, yang dituntut dan ditimba dari banyak negara dari Mesir, Yaman, Arab Saudi, Iran dan negara-negara Islam lainnya sesungguhnya bisa dikelola untuk semakin memperkaya khazanah keislaman kita di tanah air. Kita susun varian-varian yang beragam itu, untuk membentuk Islam Nusantara yang toleran, dan saling meghargai perbedaan.” Jelasnya.

“Jika mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Iran mampu menghasilkan karya yang membangun bangsa, sebagaimana kita lihat para intelektual dan pakar Islam di Iran memberi kontribusi besar dalam memajukan negaranya, tentu saja tanpa diminta, kelak akan banyak yang tertarik untuk turut menimba ilmu di Iran.” Ungkapnya mengakhiri pembicaraan.

Pertemuan kekeluargaan yang berlangsung tiga jam tersebut dihadiri 15 mahasiswa Indonesia Timur yang sementara menimba ilmu di kota Qom Iran. Pertemuan tersebut diselingi dengan shalat berjamaah yang diimami oleh Prof. DR. H. Abd. Rahim Yunus dan makan malam bersama.

Mereka juga bersilaturahmi dengan sejumlah ulama Iran seperti Ayatullah Makarim Shirazi, Ayatullah Araki, Ayatullah Jawadi Amuli dan Ayatullah A’rafi rombongan juga akan mengunjungi sejumlah lembaga pendidikan di Qom dan Masyhad. 

Kegiatan pengiriman tokoh islam adalah hal yang rutin dilakukan iran sejak bertahun. Setahun bisa dua kali atau lebih. Mereka selaihn dibiayai full gratis dari iran, juga akan mendapatkan oleh2 mushaf yang tujuannya adalah kampanye bahwa quran syiah sama dengan yang di Indonesia. padahal yang menjadi masalah adalah keyakinan mereka bahwa quran yang ada sekarang ini adalah quran yang belum sempurna karena belum munculnya imam mahdi mereka.

Hati-hati terhadap tokoh yang sudah diwisatakan ke Iran, dia akan menjadi corong propaganda dakwah syiah. Hati2 terhadap tipu daya syiah. Selamatkan aqidah anda dan keluarga anda dari tipu daya syiah. (Ahmad Hasyim - tim fakta syiah )