Senin, 27 Februari 2017

PENOLAKAN SEMINAR KEMENANGAN REVOLUSI SYIAH IRAN DI INDONESIA

Aksi Penolakan Seminar 38 Tahun Kemenangan Revolusi SYIAH Iran

Aksi kembali digelar, kali ini oleh Ormas Islam, di depan Gedung Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta Selatan. Aksi tersebut sebagai bentuk penolakan atas kegiatan Seminar 38 Tahun Kemenangan Revolusi Islam Iran 1979-2017 bertajuk ‘Revolusi kami adalah ledakan cahaya’ yang berlangsung di Gedung ICC pada pukul 18.30 wib, Jumat 17 Februari 2017.
Aksi yang berlangsung selama 2 jam tersebut berjalan kondusif. Koordinator aksi sekaligus sekretaris ANNAS Jakarta mengatakan, seminar tersebut sangat berbahaya bagi umat Islam di Indonesia, sebab itu merupakan kegiatan-kegiatan Syi’ah.
“Hati-hati terhadap ICC, karena ICC ini kalau kita ibaratkan, sebagai buah semangka, kulitnya hijau (Tulisan Arab warna hijau), isinya merah (Darah). Hentikan! Hentikan seminar ini karena berbahaya bagi umat Islam di Indonesia,” tegas Nurdin Hamdani dalam orasinya.
Di sela-sela berjalannya aksi, Nurdin Hamdani saat ditanyai wartawan mengatakan, melalui ICC mereka (orang syiah) melakukan penyebaran atau virus ajaran syiah terhadap pribumi-pribumi umat Islam di Indonesia.
“Mereka melalui ICC ini menyebarkan dan mengkampanyekan ajaran syiah di seluruh Indonesia. Coba lihat, ada hubungan terhadap budaya-budaya syiah di Indonesia dengan ICC ini," kata Nurdin.
Selain itu, Nurdin Hamdani juga meminta kepada pihak pemangku wewenang di Jakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, agar ICC segera dibubarkan jika Indonesia ingin damai dan tidak terjerumus dalam ajaran-ajaran syiah.
“Kami menganjurkan agar ICC ini dibubarkan kalau Indonesia ingin aman, selamat, dan sejahtera,” pungkasnya.
Dalam undangan seminar tersebut dihadirkan beberapa narasumber. Selain Dr. Hakimelahi sebagai Direktur ICC Jakarta, juga Dubes Republik Islam Iran untuk Indonesia, Dr. Valiullah Mohammadi, dan anggota DPR RI, Dr. Jalaluddin Rakhmat.
SUMBER : Klikanggran.com


Jalaluddin Rakhmat Sebut Revolusi Iran Syiah Cocok Diterapkan di Indonesia
JAKARTA, Pentolan Syiah Indonesia, Jalaluddin Rakhmat menyarankan Indonesia meniru revolusi yang dilakukan Khomeini di Iran tahun 1979. Menurutnya cara tersebut tepat dibanding revolusi menegakkan syariat Islam yang dikampanyekan kelompok tertentu.
“Revolusi yang dilakukan Imam Khomeini di Iran global dan universal, tidak partikular. Jadi cocok bila digunakan di Indonesia,” katanya saat seminar “Kemenangan Revolusi Iran 1979-2017” di aula Islamic Cultural Centre Jakarta, Jum’at (17/2/2017).
Anggota Komisi VIII DPR RI itu menilai bila revolusi tujuannya hanya menegakkan syariat Islam tidak menarik perhatian dunia. Hanya menguntungkan umat Islam saja.
“Menegakkan syariat Islam kerjaannya dimanapun hanya menumbangkan pemerintahan yang ada. Tak peduli pemerintahannya zalim atau engga. Itu hanya membuat masyarakat dunia empati,” ujarnya.
Jalal melanjutkan, bila mengikuti cara Khomeini dapat menarik simpati dan perhatian dunia. Karena yang diperjuangkannya nilai-nilai kemanusiaan dan menghapus penindasan.
Seperti diketahui, dalam sejarah Revolusi Iran tahun 1979 yang dilakukan Khomeini, banyak umat Islam disiksa dan dibunuh bila tidak mau memeluk agama Syiah. 
Sumber : voa-islam.com



LPAS Bersama Ormas Islam di Jakarta Geruduk Peringatan Revolusi Syiah Iran
SYIAH SESAT. Panglima Laskar Pemburu Aliran Sesat (LPAS) Makassar, Ustad Abu Bakar Asshiddiq (kanan), ikut hadir mengecam kegiatan kaum Syiah yang berlangsung di Islamic Cultural Center, Jakarta Selatan, Jumat (17/2). Foto: Istimewa
Sejumlah aktivis ormas Islam mendatangi Islamic Cultural Center (ICC), Jalan Buncit Raya, Jakarta Selatan, Jumat (17/2) sore kemarin.
Mereka mengecam penyelenggaraan dialog bertema “Seminar 88 Tahun Kemenangan Revolusi Islam Iran 1979-2017”, yang diadakan oleh kaum Syiah.
Panglima Laskar Pemburu Aliran Sesat (LPAS) Makassar, Ustad Abu Bakar Asshiddiq bersama dengan beberapa anggotanya dari Kota Makassar, turut hadir menggeruduk lokasi yang menjadi markas utama penganut paham Syiah itu.
Para pejuang Islam itu melakukan orasi di luar gedung dan menyuarakan akan ancaman paham Syiah.
Aksi tersebut mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian sehingga berjalan tertib dan selesai pada malam hari.
Sebagaimana Majelis Ulama Indonesia (MUI) beberapa waktu yang lalu, telah mengeluarkan fatwa akan kesesatan aliran Syiah.  
Adapun dalam acara yang berlangsung di ruang aula itu, menghadirkan Direktur ICC Jakarta Hakimelahi, Dubes Iran untuk Indonesia Valiullah Mohammadi, serta pentolan Syiah Indonesia, yang juga anggota DPR RI, Jalaluddin Rakhmat.
Sumber : Harianamanah.com, Jakarta


Dua Tahun Pemerintahan Jokowi, Dubes Iran: Hubungan Indonesia-Iran Sangat Erat

Jakarta- Duta Besar Iran untuk Indonesia, Valilullah Muhammadi mengaku sejak dua tahun pemerintahan Jokowi hubungan Indonesia dan Iran sangat erat. Hal itu dibuktikan dengan beberapa kunjungan kenegaraan dan kerjasama kedua negara di berbagai sektor.
“Dalam kesempatan ini saya menyampaiakn bahwa dalam hubungan dua tahun terakhir antara Iran dan Indonesia sangat erat serta perkembangan yang cukup pesat dan signifikan,” katanya dalam diskusi ‘Seminar 88 Tahun Kemenangan Revolusi Islam Iran’ pada Jumat (17/02) di Gedung ICC Jakarta.
Dia juga mengatakan bahwa keakraban antara Iran dan Indonesia ditunjukkan dengan kunjungan Iran ke Jakarta. “Begitu sebaliknya, kunjungan presiden Indonesia pada bulan desember lalu,” tuturnya.
Valilullah juga mengungkapkan dalam berbagai pertemuan, khususnya pertemuan presiden telah dilakukan berbagai kesepakatan dan berbagai kerjasama yang sangat baik yang tidak akan lama lagi dilakukan.
“Dan perminyakan, bahan bakar, minggu ini sudah dimulai diekspor dari Iran ke Indonesia. Begitu juga kerjasama lain dilakukan dalam minggu ini,” ungkapnya.
Dan hal keilmuan, kata dia, juga ada kesepakatan antara Iran dan Indonesia untuk melakukan peningkatan di bidang keilmuan antar perguruan tinggi Indonesia-Iran.
“Kerjasama di bidang keilmuan antara perguruan tinggi Indonesia dan Iran, ada tukar menukar beasiswa antar dua negara. Rektor UI juga sudah mendatangi Iran untuk menyepakati kerjasama di bidang ilmu pengetahuan,” tukasnya.
Reporter: Taufiq Ishak
Editor : Syafi’i Iskandar

Sumber : kiblat.net

Aswaja Gelar Demo Anti Syiah

Kelompok yang menamakan diri Aswaja (Ahlus Sunnah Wal Jamaah) menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Islamic Cultural Center (ICC), Jalan Buncit Raya, Kavling 35, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (17/2) sore.
Aksi yang diikuti 15 orang itu dipimpin ole Nurdin Hamdani. Mereka menolak diselenggarakannya seminar 38 Tahun Revolusi Iran di gedung ICC. Rencananya dihadiri oleh Dubes Iran dan Jalaludin Rahmat.
Sebanyak satu pleton personel Polres Jakarta Selatan, dan 15 personel Polsek Pasar Minggu yang dipimpin Kasat Intel Polres Jakarta Selatan. (dus)

SUMber: https://idnews.co.id/aswaja-gelar-demo-anti-syiah/

GALERI FOTO-FOTO :






BERITA SEMINAR ICC VERSI MEDIA SYIAH

Kemajuan Iran Pasca Revolusi

ICC Jakarta – Revolusi Islam Iran telah memasuki usia 38 tahun. Tepatnya tanggal 11 Februari 1979 lalu, kekuasaan monarki di bumi Persia (Iran) di bawah kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi runtuh. Kejadian itu menjadi peristiwa paling spektakuler pada abad ke 20. Peristiwa besar yang menggetarkan dunia, baik di timur maupun di barat. Sebuah gelombang kekuatan rakyat (people power) yang digerakkan oleh seorang Faqih, Filosof dan Revolusioner Agung yang telah menginjak usia 77 tahun, yakni Imam Khomeini.
Penyalahgunaan kekuasaan oleh rezim pada saat itu, ditambah eratnya hubungan Zionis Israel dan Amerika, rakyat Iran sebelum revolusi berada di bawah ketidakadilan dan penderitaan. Revolusi Islam merubah segalanya. Meski mendapat serangan balik bertubi-tubi; diembargo dan diboikot oleh banyak negara; Iran justru mengalami kemajuan dan perubahan besar dengan kecepatan yang tinggi, baik kemajuan  yang dinikmati bangsa Iran sendiri maupun masyarakat dunia.
Direktur Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Dr Hakimelahi dalam seminar memperingati kemenangan Revolusi Islam Iran di Jakarta menyampaikan beberapa kemajuan-kemajuan yang dimiliki Republik Islam Iran saat ini.
Dr. Hakimelahi meringkas kemajuan-kemajuan itu menjadi 3 poin: Kemajuan spriritual yang berhubungan dengan urusan keagamaan, kemandirian sebagai sebuah bangsa, dan kemajuan di bidang ilmu dan teknologi.
Pertama, tentang kemajuan dari sisi spiritual (hal- hal yang berhubungan dengan urusan agama).
Bisa disaksikan dengan adanya perkembangan dan kecenderungan kepada hal-hal yang bersifat religiousitas. Hal-hal yang bersifat keagamaan dan spiritual, sehingga satu sama lain kemudian dengan dasar keagamaan itulah akan makin erat persaudaraan di kalangan mereka.
Kehadiran para pemuda Republik Islam Iran di masjid-masjid dalam acara ritual keagamaan seperti itikaf dan acara lainnya, dengan penuh semangat, itu juga sebagai pertanda perkembangan dan perolehan pasca revolusi.
Kedua, kemandirian sebagai sebuah bangsa.
Iran merupakan negara yang sangat jarang ada di dunia, dengan kemandiriannya mengambil kebijakan tanpa adanya tekanan dan hegemoni dari negara luar.
Iran sampai saat ini telah menyelenggarakan pemilu lebih dari 35 kali baik tingkat daerah maupun pusat, maupun memilih dewan ahli yang memilih pemimpin spiritual Republik Islam Iran. Selain itu kebebasan di negara Republik Islam Iran juga bisa dilihat dengan adanya 17.000 LSM dalam negeri, dan terbitnya 2.635 majalah.
Ketiga, Kemajuan di bidang ilmu dan teknologi.
Ada berbagai angka-angka yang menurut logika bayak orang dianggap mustahil dan tidak mungkin terjadi, tapi relitas bisa disaksikan itu telah terjadi di Republik Islam Iran.
Sebelum revolusi, dalam hal produksi sama sekali Iran tidak memiliki kemampuan untuk produksi dalam negeri. Semua yang dibutuhkan adalah impor dari berbagai negara luar. Namun saat ini berkah dari revolusi, Iran termasuk 10 negara yang memproduksi barangnya serta kebutuhanya di dalam negeri sendiri. Dari segi ilmu pengetahuan Iran adalah 11 kali lebih maju dari berbagai negara regional.
Kemajuan Iran juga bisa dilihat dari nanoteknologi dan peluncuran satelitnya ke udara. Tercatat pula 36.000 produk kualitas internasional dihasilkan. Dalam hal keilmuan, lebih dari 10.000 makalah ilmiah dicatat di dunia internasional dan diakui hasil karya putra-putri Republik Islam Iran saat ini.
Mereka yang buta huruf sebelum revolusi jumlahnya lebih dari 47 persen, tapi pasca revolusi, hari ini, dari mulai anak kecil yang saatnya sudah membaca sampai usia 50 tahun, 100 persen semuanya bisa membaca. Artinya, di Iran tidak ada yang buta huruf usia di bawah 50 tahun.
Di atas usia 50 tahun sampai saat ini ada 92 persen mereka telah melek huruf dan beberapa bulan dan tahun kedepan Iran akan mencapai 100 persen semuanya melek huruf.
Sebelum revolusi, Iran hanya miliki 223 perguruan tinggi. Saat ini Iran memiliki 2.540 Perguruan tinggi. Artinya, setiap kota memiliki perguruan tinggi.
Sebelum revolusi, mahasiswa Iran yang di perguruan tinggi kurang dari 170.000 orang. Saat ini lebih dari 5 juta mahasiswa dan mahasiswi sedang menempuh pelajaran atau di perguruan tinggi.
Begitu juga dari sisi jurusan yang ada di perguruan tinggi, Iran telah memiliki semuanya. Artinya Iran tidak bergantung lagi para perguruan tinggi di luar negeri.
Sebelum revolusi Iran kekurangan dokter. Banyak dokter yang diimpor dari Pakistan dan Bangladesh dan beberapa negara lainnya. Namun, pasca revolusi hari ini Iran memiliki kelebihan dokter, bahkan kelebihan hingga puluhan ribu dokter dan mereka banyak yang “nganggur” karena kebanyakan.
Sebelum revolusi Iran hanya memiliki 7.000 orang dokter spesialis. Sekarang, Iran memiliki 120.000 dokter spesialis. Begitu juga dari sisi obat,  97 persen diproduksi di dalam negeri.
Dalam produksi berbagai vaksin, Iran saat ini telah mampu untuk menanggulangi kebutuhan dalam negeri dan bahkan ekspor ke berbagai negara di Timur Tengah.
Di Tehran ada lebih dari 300 lembaga riset yang tingkatnya tidak kalah dengan berbagai negara Eropa dan Amerika.
Hal yang mungkin banyak diketahui adalah kemajuan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Iran saat ini masuk 5 negara besar dunia yang berhasil mengembangkan itu. Begitu juga dalam hal produksi peralatan militer dan mengirim satelit ke angkasa, Iran juga telah mengunggulinya.
Semua itu didapat dalam kondisi embargo. Tapi, semuanya dapat diraih Iran dengan kesungguhan, kegigihan dan kepercayaan diri kepada potensi yang dimiliki.
“Perbandingan yang dilakukan antara sebelum revolusi dan pasca revolusi ini merupakan satu catatan penting, mengingat semuanya itu juga diraih Iran dalam kondisi berada dalam boikot ekonomi,” terang Dr. Hakimelahi.
Seminar yang diselenggarakan Jumat malam, 17 Februari 2017 itu juga menghadirkan pembicara lain yakni, Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, Msc, (Anggota DPR RI), dan Dr Valiullah Mohammadi (Dubes Republik Islam Iran).
Disadur dari ABIPRESS


JELATA-JELATA TAKFIRISME

Hanya karena anda dikenal sebagai penganut sebuah mazhab, tak harus menjadi ‘pemadam kebakaran’ menanggapi segala kesalahpahaman, apalagi fitnah terhadap mazhab anda.
Para serdadu virtual rezim pembantai ribuan balita Yaman sekutu sejati rezim penjajah Palestina ini bekerja keras untuk melakukan segala cara untuk menguras energi, mengalihkan perhatian, melakukan pembusukan, menciptakan stigma negatif di tengah masyarakat Ahlussunnah dengan menyebarkan aneka fitnah, dusta, hoax berita manipulatif dan provokatif.
Salah satu modusnya adalah memancing para penganut mazhab Syiah memasuki arena debat kasar seputar tema-tema purba dan menaikkan tensinya dengan terus menerus melontarkan api fitnah dan sampah dusta yang didaur ulang agar sibuk membantahnya.
Para jelata takfiri ini disebar dan dikendalikan secara struktural oleh sentra-sentra talfirisme bersampul pelatihan tahfid dan bahasa Arab yang menternak dan membiakkan ribuan organisme jumud melalui penjejalan doktrin palsu “manhaj” dan cita-cita kosong atau utopia khilafah.
Dengan militansi tinggi, mereka menyebar secara online via televisi, radio, akun-akun palsu dan ratusan situs yang menggoreng berita fitnah demi radikalisasi dan merangsang setiap orang menjadi penganut akidah kebencian, dan secara offline melalui perampasan masjid-masjid Ahlussunnah, upacara provokasi berlabel tablig dan bedah buku picisan atau seminar.
Beberapa hari lalu beberapa gelintir jelata takfiri memancing cemooh para pengendara saat demo depan gerbang ICC (Islamic Cultural Center) di Buncit Raya Jakarta Selatan.


UNDANGAN SEMINAR SYIAH DI ICC, FEBRUARI 2017

Seminar 38 Tahun Revolusi Islam Iran – 17 Februari 2017

ICC Jakarta – Departemen Riset ICC Jakarta akan mengadakan acara seminar 38 tahun kemenangan Revolusi Islam Iran dengan menghadirkan beberapa pembicara sebagai berikut:
  1. Dr Hakimelahi (Direktur ICC Jakarta) – Capaian-capaian Revolusi Islam Iran
  2. Dr Valiullah Muhammadi (Dubes Republik Islam Iran untuk Indonesia)  – Politik Luar Negeri Republik Islam Iran
  3. Dr Jalaluddin Rakhmat (Anggota DPR RI Indonesia) – Pengaruh Global Revolusi Islam Iran

Yang akan diadakan pada hari Jumat, 17 Februari 2017, di Aula ICC Jakarta, jam 18.30.

PERS RILIS ANNAS BANTEN

Deklarasi dan Penetapan Pengurus ANNAS Banten 

Memasuki tahun 2017 telah dideklarasikan sekaligus penetapan pengurus Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) di beberapa Wilayah Indonesia. Bertepatan, 1 Januari 2017 lalu, diawali telah dideklarasikannya ANNAS Solo Raya Jawa Tengah, kemudian ANNAS Sulawesi Selatan (5/2/2017), ANNAS Aceh (12/2/2017), dan segera akan dideklarasikan pula ANNAS Wilayah Banten.

Tim Formatur ANNAS Banten, akan menyelenggarakan kajian umum dengan tema: “Bahaya Laten Syiah” sekaligus Deklarasi dan Penetapan Pengurus ANNAS Banten yang akan dilaksanakan pada:

Hari / Tanggal     : Ahad, 19 Februari 2017
Waktu                 : Pukul 08.30 – 11.30 WIB.
Tempat               : Aula Masjid At-Taubah Kemang Kota Serang - Banten

Orator                 :

1.    K.H. Athian Ali M. Da’i, Lc. M.A. (Ketua Umum ANNAS Pusat)
2.    H.M. Rizal Fadillah, S.H. (Pengurus Dewan Pakar ANNAS Pusat)
3.    K.H. Juheni M. Rois, Lc (Tokoh Ulama Banten)
4.    Agus Rahmat, S.H. (Tokoh Ulama Banten)
5.    Son Haji Ujaji, S.Ag., M.Si (Tokoh Ulama Banten)
6.    Drs. H. Aep Saepudin, MR (Tokoh Ulama Banten)

Setelah ANNAS Provinsi Banten dideklarasikan, menyusul kemudian dalam waktu dekat akan dideklarasikan pula ANNAS di beberapa provinsi di antaranya, Kalimantan Timur (Samarinda), Sumatra Barat, Pekanbaru, Lampung dan wilayah-wilayah lain di Tanah Air.

Formatur ANNAS Banten mengundang kaum Muslimin untuk menghadirinya. 

 

Bandung, 17 Februari 2017


PELAKSANAAN DEKLARASI ANNAS DI BANTENG LANCAR, UMAT MENDUKUNG

Hari ini, Ahad (19/2/2017) Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) wilayah Banten resmi dikukuhkan. Pengukuhan wadah anti Syiah Banten ini diharapkan bermanfaat untuk menjaga aqidah umat Islam di provinsi agamis ini.
“Bagi kita akidah ini sesuatu yang termahal dari hidup ini. Kita tidak ingin akidah lepas dari tangan saudara kita, kita tidak ingin tiket masuk surga lepas dari mereka,” kata Ketum ANNAS Pusat, KH Athian Ali kepada Jurniscom di Aula Masjid At-Taubah, Kemang, Serang, Ahad (19/2/2017).
“Membiarkan tiket itu lepas merupakan sebuah dosa luar biasa di mata Allah,” tambahnya.
Ia berharap, Banten dengan wilayah yang banyak ulamanya serta kental dengan keagamaan Islam dapat bersinergi dengan ANNAS dalam mencegah perkembangan Syiah.
“Mudah-mudahan nanti tidak ada satu pun umat Islam di Banten yang tersesatkan oleh Syiah,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua terpilih ANNAS Banten, KH. Hafidin mengucapkan rasa syukur akan terbentuknya ANNAS di Banten. Ia berjanji akan memaksimalkan kinerja ANNAS untuk umat.
“Kami berharap nantinya umat Islam di Banten dapat memahami apa itu Syiah dan dapat mengambil sikap. Alhamdulillah, dengan adanya Aksi 411 dan 212 umat bersemangat dan dapat diajak menjadi pengurus ANNAS Banten,” tutup pimpinan Yayasan Ashabul Maimanah Serang ini.

‘GERAKAN SYIAH ITU SEPERTI ULAR’

SERANG, Dewan Pakar Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), HM. Rizal Fadhillah menegaskan, gerakan Syiah itu seperti ular. Ia bersembunyi saat lemah dan menyerang dengan licik ketika mempunyai kekuatan.

“Gerakan Syiah ini seperti ular, bergerak sembunyi ketika belum kuat. Tapi ketika sudah tinggi dia akan menggigit dan menyemprotkan bisanya, menghabiskan umat,” katanya dalam kajian strategis bertajuk “Bahaya Laten Syiah” di Aula Masjid At Taubah, Kemang, Serang, Ahad (19/2/2017).

Ia mengungkapkan, pergerakan Syiah di Indonesia saat ini sedang bergerilya dengan memasuki berbagai lini termasuk pemerintahan. Syiah, kata dia, menipu umat dengan taqiyahnya, berkedok demokrasi agar dapat diterima.

“Itulah ular, gerilya ke parpol politik, ke istana Presiden, dan lain-lain. Tipuan demokrasi, untuk gerakan politik,” terangnya.

Sementara itu, salah satu tokoh Banten, Juheni M Rois menyatakan, Syiah itu aliran yang paling sesat dan berbahaya. Sebab, dalam pergerakannya Syiah didukung oleh internasional dan sebuah negara, yakni Iran.

“Mestinya peran ANNAS itu adalah peran negara. Karena Syiah ini amat sangat berbahaya. Tidak ada toleransi, harus tegas!,” tegasnya.


Sumber : jurnalislam.com