Rabu, 30 November 2016

NIKAH MUT'AH DI MAKASSAR SULAWESI SELATAN

Makassar sejak dahulu hingga kini tetap menjadi salah satu kota terpenting dan memiliki daya pikat yang tinggi. Satu di antara sekian daya pikat itu adalah tempat menuai ilmu dari lembaga-lembaga pendidikan tingkat tinggi yang berdiri di setiap sudut Ibu Kota.

                                                                 Para wanita syiah

Kota berpenduduk heterogen ini adalah tempat berkumpulnya segala etnis dari penjuru Nusantara. Geliat kajian-kajian keislaman yang dipelopori segenap mahasiswa juga demikan, tumbuh berkembang bak jamur di musim hujan. Dunia kampus adalah dunia akademis yang penuh kebebasan dalam berekpresi. Dan undang-undang menjamin hal itu.

Nikah mut’ah yang dianjurkan –untuk tidak mengatakan diperintahkan—dari sebuah gerakan pemahaman yang bernama Syiah juga sangat tumbuh subur. Hal ini terungkap dengan jelas dan tidak dapat disangkal lagi, sebagaimana pandangan beberapa intelektual diabolik (berwatak iblis, tahu kebenaran tapi tetap ingkar) yang berpandangan bahwa nikah mut’ah itu hanya isapan jempol belaka.

Adalah sebuah skripsi dari hasil penelitian mahasiswa Universitas Negeri Makassar tahun 2011 dengan judul “Perempuan Dalam Nikah Mut’ah” telah mematahkan semua argumen akan ketiadaan praktik nikah mut’ah di tengah-tengah kita. Golongan jin dan Iblis pun tak kuasa membantah kenyataan pahit ini.

Dalam skripsi itu tertulislah pengakuan beberapa wanita yang telah melakukan nikah mut’ah. Tidak sedikit di antara mereka yang melakukan lebih dari sekali bahkan berkali-kali. Motivasi utamanya adalah untuk menjalankan sunah rasul, karena hadis-hadis tentang anjuran untuk nikah mut’ah sering disuguhkan para mentor.

Dituliskan bahwa seorang mahasiswi yang masih berusia 24 tahun telah melakukan nikah mut’ah sebanyak tiga kali. Mahasiswi pada salah satu perguruan tinggi ini menikah untuk ketiga kalinya bersama seorang mahasiswa yuniornya, pernikahan pertama kandas karena cerai sebelum kontranya habis, kedua dan ketiga berakhir karena tempo yang telah disepakati telah selesai.

Dikisahkan pula bagaimana proses perkawinan itu berlangsung.  Berawal dari ketertarikan antara lawan jenis sebagaimana manusia normal pada umumnya, maka sang junior mengutarakan hatinya –menembak, meminjam istilah anak muda zaman sekarang- kepada seniornya itu. Sang mahasiswi menolak untuk pacaran, dan mengusulkan untuk nikah mut’ah saja. Dengan penjelasan yang meyainkan dari sang senior dan atas  dasar suka sama suka dari kedua belah pihak, mahar berupa hand phone dan cincin disertai ucapan serah terima (ijab qabul) dan tempo kontrak, tanpa wali nikah dan saksi apalagi walimah (pesta), maka pernikahan mereka berdua sudah dianggap sah. Sepasang kekasih pun sudah halal melakukan hubungan suami-istri. (Perempuan dalam Nikah Mut’ah, UNM 2011, ‘Skripsi’ hal. 61).

SUMBER : lppimakassar.com

Minggu, 27 November 2016

Kritik-kritik Sunni terhadap Syiah

Oleh: Kholili Hasib
Pengikut Syiah dari Medan SUMUT

SEMENJAK kasus Bangil 15 Pebruari 2011 -tahun lalu- hingga kasus Sampang 29 Desember 2011 baru-baru ini, Syiah menjadi sorotan publik. Beragam respon -baik dari tokoh maupun media- telah mengemuka, yang kesemuanya bisa menjadi alasan agar kita lebih membuka akar persoalan yang sesungguhnya. Kritik yang ditujukan kepada Syiah sejauh ini tampak masih rasional dan proporsional, sebagaimana yang telah ditulis oleh Prof. Dr. Mohammad Baharun (Ketua Komisi Hukum MUI Pusat) di harian Republika pada (24/01/2012).

Data Ilmiah
Ulama’ Sunni selama ini mengkritik dengan membeber data-data pustaka Syiah sekaligus pengalaman di lapangan. Di kalangan Sunni, referensi-referensi pokok Syiah saat ini memang sudah tidak asing lagi. Kitab-kitab pokok seperti al-Kafi, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, Tahdzib al-Ahkam, dan al-Istibshar sudah di tangan mereka. Beberapa pengkaji ternyata tidak mencukupkan diri dengan data pustaka itu. Mohammad Baharun, misalnya, lebih dari dua puluh tahunan memiliki pengalaman berinteraksi dengan penganut Syiah.

Disertasinya di IAIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2006 yang berjudul Tipologi Syiah di Jawa Timur merupakan hasil rekam pengamatan beliau. Saya sendiri waktu itu ikut membantu mencari data di lapangan. Ada banyak hal yang dapat diperoleh di lapangan, setidaknya untuk meng-‘kroscek’ data pustaka dengan pengamalan Syiah di lapangan.

Saya sempat bertemu dengan seorang tokoh Syiah di Pasuruan. Diksusi panjang tentang isu tahrif al-Qur’an terjadi waktu itu. Saya mendapatkan poin penting di sini. Dengan jujur, dikatakan bahwa memang sesungguhnya tahrif itu ada. Bahkan ia mengaku akan menerbitkan buku tentang ayat-ayat al-Qur’an yang ia katakana hilang. Namun ide tersebut, menurut pengakuannya, dicegah kawan-kawannya. Dikhawatirkan akan menimbulkan kisruh di kota tersebut.

Di sini artinya, tudingan bahwa Syiah meyakini al-Qur’an mushaf Ustmani tidak orisinil bukanlah tudingan yang mengada-ada. Baik secara faktual di lapangan maupun data pustaka Syiah, isu tahrif al-Qur’an tersebut memang fakta yang tidak bisa ditutupi kalangan Syiah.

Kritik dari kalangan Sunni merujuk kepada kitab al-Kafi -kitab rujukan Syiah paling otoritatif – untuk membuktikan Syiah meyakini ada tahrif dalam al-Qur’an. Di antaranya ditulis dalam al-Kafi; “Dari Abi Abdillah as, beliau berkata: Sesungguhnya ayat-ayat al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril as kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah sebanyak 17000 ayat” (al-Kafi, Juz II halaman 634).

Dalam penelitian tim penulis Pesantren Sidogiri, keyakinan ini dianut oleh mayoritas (ijma’) ulama Syiah bahkan menjadi perkara yang aksiomatis.
Sedangkan kalangan Syiah kontemporer biasanya menampik isu tersebut. Namun dengan menyodorkan fakta di lapangan bahwa di kalangan Syiah, keyakinan tahrif itu tetap ada, seperti yang saya tulis di atas. Maknya cukup wajar bila Sunni menuding Syiah kontemporer sedang memasang topeng taqiyah.

Apalagi ditemukan di dalam kitab al-Kafi petunjuk anjuran untuk bertaqiyah dalam soal isu tahrif al-Qur’an ini. Dalam kitab tersebut juz dua dikemukakan bahwa suatu kali Abu Abdillah, Imam Syiah, ditanya pengikutnya, “Wahai Aba Abdillah, saya mendengar bacaan al-Qur’an orang-orang di sana yang tidak sama dengan bacaan yang kami baca. Sang Imam lantas menganjurkan untuk memakai bacaan orang-orang (bacaan al-Quran kaum muslimin), tetap dalam hati yakin kelak di hari kiamat Imam terakhir akan membawa al-Qur’an yang asli.

Dengan demikian, apa yang terjadi di dalam Syiah kontemporer, yang mengelak adanya isu tahrif al-Qur’an dapat ditafsirkan sebagai metode taqiyah belaka. Baik bukti pustaka Syiah maupun bukti faktual di lapangan menunjukkan mereka memang meyakini adanya tahrif. Hanya saja, hal itu ditutupi dengan metode taqiyah.

Dua pendekatan ini memang penting untuk dipakai, sebab terkadang orang tidak langsung percaya dengan pustaka Syiah. Maklum, pustaka Syiah tidak mudah ditemui di kalangan awam. Kalangan Syiah kontemporer pun bisa mengelak, bahwa Sunni menyalah-tafsirkan teks-teks klasik Syiah.
Jujur Terbuka

Sejauh ini, apa yang telah dilakukan Sunni sudah cukup proporsional. Kritikus Sunni kenyatannya lebih terbuka dalam berdiskusi. Argumen-argumen antagonistik tidak menjadi selera peneliti Sunni.
Pada tahun 2007, enam santri senior Sidogiri yang dikomandani ustadz Ahmad Qusyairi menyusun buku “Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?)”.

Buku ini menjawab buku Quraish dengan membeber literatur-litelatur pokok Syiah. Tim penulis tersebut sempat menulis surat ajakan kepada Quraish untuk berdiskusi. Sayangnya surat itu tak direspon.

Jawaban-jawaban Fahmi Salim di Republika (06/01/2012) terhadap tulisan Haidar Bagir berjudul “Syiah dan Kerukunan Umat” di Harian yang sama pada (20/01/2012) juga sudah ilmiah.

Fahmi Salim mengukip kitab-kitab Syiah dan Ahlus Sunnah lengkap dengan halamannya. Cara ini memang harus dilakukan, agar tidak dianggap asbun (asal bunyi).

Karena ini perdebatan akidah maka harus terbuka, agar tidak menimbulkan kerancuan-kerancuan. Kejujuran wajib dikedepankan. Jika dimungkinkan, referensi-referensi kedua pihak, Sunnah dan Syiah, dibawa ke meja diskusi. Jikapun ada tuduhan Sunni keliru menafsirkan teks-teks klasik Syiah, maka di meja diskusi Syiah bisa berkesempatan menjelaskan secara jujur.

Sekali lagi, di meja disksusi diharapkan Syiah melepaskan dulu taqiyahnya, agar semua menjadi jelas. Kejujuran dan keterbukaan adalah cara yang ilmiah. Diharapkan dua hal itu –jujur dan terbuka- dikedepankan dalam budaya kritik di kalangan Sunni maupun Syi’i.

Penulis adalah peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya, alumnus Program Kaderisasi Ulama (PKU) ISID Gontor
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Minggu, 16 Oktober 2016

MAKASSAR DAN KENDARI TOLAK PERAYAAN ASYURO 2016 SYIAH

Perayaan asyuro 2016 baru saja selesai. Masyarakat Indonesia ada berbeda sikap, ada yang pro dan ada yang kontra. Kami meneliti, ada banyak kota besar yang menjadi basis syiah terjadi penolakan. Berikut laporan dari admin blog ini yang sudah mengumpulkan data penolakan syiah di berbagai tempat di Indonesia. cukuplah ini sebagai bukti bahwa Syiah di tolak oleh masyarakat Indonesia kecuali sedikit orang saja.

MAKASSAR, Sedikitnya 50 ormas yang menamakan diri Petisi 50, menolak rencana perayaan Asyura ala Syiah yang akan digelar di Makassar, Sulawesi Selatan.

50 ormas yang terdiri dari lembaga LBH, LSM pengurus masjid, dan organisasi Islam membacakan petisi mereka bersama, di Coffeholic by Sija Makassar, Sabtu (8/10/2016).

Dalam petisinya itu, ormas-ormas tersebut mengecam perayaan Asyura oleh Syiah karena dianggap sebagai ajaran yang sesat dan menyesatkan.

"Perayaan Asyuro kelompok Syiah kerap kali mengumandangkan orasi penghinaan dan pelecehan kepada istri dan sahabat Rasulullah secara bersama-sama," kata Syamsul Umar, Koordinator Umum ormas.

Ia pun dengan tegas melarang perayaan asyuro syiah kapan dan di mana pun karena dianggap bisa menimbulkan perpecahan antarumat dan mengancam stabilitas NKRI.

"Kami tidak main-main dengan apa yang kami sampaikan. Kami berkumpul atas dasar aqidah iman kami, bahwa kami menolak Syiah," tegasnya.

Mereka juga mengimbau kepada pemerintah provinsi, pemerintah kota, Polda Sulsel, dan Kodam VII Wirabuana tak memberikan izin untuk pelaksanaan kegiatan itu.

"Kami menyerukan dan meminta kepada aparat keamanan dalam hal ini Kapolda Sulsel beserta jajarannya dan Pangdam VII untuk tidak mengeluarkan izin keamanan juga tempat perayaan asyura," kata dia.

Para ormas juga mengancam akan mengambil tindakan sendiri jika imbauan mereka tidak diindahkan.

"Kami akan cegah jangan sampai izin itu keluar. Namun jika pihak terkait bersikukuh untuk memberikan izin tempat dan keamanan, maka kami akan membubarkan acara itu apapun caranya," tegasnya.
SUMBER : Lingkarmedia.com




Adapun Penolakan umat di Kendari Sultra adalah sebagai berikut : 

Allahu Akbar! Warga Kendari Bubarkan Perayaan Asyura Syiah 

Ratusan warga Kota Kendari bersama sejumlah ormas Islam mendatangi Hotel Kubra di Jalan Edi Sabara Kendari, Selasa (11/10/2016) sore. Mereka menolak kegiatan peringatan Asyuro yang digelar penganut Syiah di hotel tersebut.

Warga datangi hotel Kubro tempat berlangsungnya peringatan asyuro syiah (Kompas.com)

Warga meminta kegiatan peringatan asyuro oleh syiah itu dihentikan karena meresahkan masyarakat.

Selain meneriakkan tuntutan pembubaran dan memekikkan takbir di depan hotel, warga juga sempat berusaha masuk ke aula tempat berlangsungnya acara tersebut. Namun, petugas polisi menghalau aksi tersebut.

Pimpinan Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (Ijabi) Sultra, Nunung Siagi selaku penyelenggara acara tersebut mengatakan bahwa meskipun pihaknya penganut Syiah, namun bukanlah syiah yang sesat seperti kabar yang beredar di tengah masyarakat.

Kapolres Kendari AKBP Sigit Hariadi yang hadir di lokasi kemudian memediasi kedua belah pihak. Hasil mediasi, menurutnya, akan dibawa ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kendari.

Akhirnya, warga pun pulang dan kegiatan peringatan asyuro oleh Syiah dihentikan. (Ibnu K/Tarbiyah.net)
Warga Bubarkan Perayaan Hari Asyura Kaum Syiah di Kendari   
Selasa, 11 Oktober 2016

EMPO.CO, Kendari - Ratusan warga Kota Kendari mendatangi Hotel Kubra di Jalan Edi Sabara, Kelurahan Lahundape, By Pass Kendari, pada Selasa sore, 11 Oktober 2016. Masyarakat yang didominasi warga sekitar hotel itu menolak kegiatan peringatan Hari Asyura oleh kaum Syiah. 

Menggunakan sepeda motor serta mobil, warga mengepung hotel sembari berteriak-teriak agar kelompok Syiah menghentikan aktivitasnya. Warga juga memekikkan takbir. Pantauan Tempo, ratusan polisi disiagakan di sekitar lokasi untuk mencegah pertikaian. 

Abu Dihyah, seorang warga yang ikut berunjuk rasa, mengatakan kegiatan perayaan Hari Asyura tidak boleh dibiarkan berlanjut. Menurut dia, kegiatan kelompok Syiah sudah meresahkan. "Mereka ini sudah jelas sesat, tidak boleh kita biarkan. Saya menyesalkan kenapa polisi membiarkan acara ini berlangsung," ujar Abu Dihyah

Pemimpin kegiatan perayaan Hari Asyura, Nunung Siagi, membanta ajaran Syiah dikatakan sesat. "Intinya, kita di sini saling menghargai kepercayaan orang lain. Kami juga tidak pernah mengusik kepercayaan siapa pun. Selama kami tidak mengusik keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kami tidak pernah takut," katanya. 

Kepala Kepolisian Resor Kendari Ajun Komisaris Besar Sigit Hariadi, yang memediasi kedua belah pihak, mengatakan polisi tidak masuk terlalu dalam terhadap persoalan itu karena berkaitan dengan keyakinan. "Kami di sini cuma bertugas untuk mengamankan agar tidak terjadi benturan di antara dua kelompok," tutur Sigit. 

Untuk menghindari perselisihan, kata dia, polisi memediasi dua kelompok yang berseberangan. Hasil mediasi disepakati bahwa perayaan Hari Asyura dihentikan. Polisi menyerahkan persoalan ini kepada Majelis Ulama Indonesia Kota Kendari. 

Manajer Umum Hotel Kubra Abdul Majid mengaku tak tahu-menahu tentang kegiatan tersebut. Menurut dia, laporan yang disampaikan kepada pihak hotel hanya menyebutkan bahwa kegiatan itu berupa silaturahmi biasa. "Tidak mungkin kami tolak, kan di pikiran kami ini cuma halalbihalal," ucap Majid. 

ROSNIAWANTY FIKRI

Link : http://www.kabarmakkah.com/2016/10/lakukan-perayaan-sesat-di-hari-asyura.html




BANDUNG JAWA BARAT TOLAK PERAYAAN ASYURO SYIAH

Perayaan asyuro 2016 baru saja selesai. Masyarakat Indonesia ada berbeda sikap, ada yang pro dan ada yang kontra. Kami meneliti, ada banyak kota besar yang menjadi basis syiah terjadi penolakan. Berikut laporan dari admin blog ini yang sudah mengumpulkan data penolakan syiah di berbagai tempat di Indonesia. cukuplah ini sebagai bukti bahwa Syiah di tolak oleh masyarakat Indonesia kecuali sedikit orang saja.

 UMAT ISLAM BANDUNG JAWA BARAT TOLAK SYIAH
Di Bandung juga terjadi penolakan syiah. Berikut ulasannya di beberapa media islam :

Tolak Asyura Syiah, Umat Islam Jabar Datangi Yayasan Muthahhari & Majelis Alwi Assegaf
Seratusan massa perwakilan dari elemen dakwah dan ormas di Kota Bandung dan Jabar yang tergabung dalam Pembela Ahlu Sunnah (PAS) Jabar mendatangi Mapolrestabes Bandung dan Kantor Walikota Bandung, Jum’at (7/10/2016). PAS yang didukung sejumpah Ormas Islam dan elemen dakwah  seperti Dewan Dakwah, KODAS, Jundulloh ANAS, GARDAH, KORNI dan beberapa elemen dakwah mendatangi Mapolrestabes Bandung yang diterima oleh Kompol Haeruman selaku Kasat Intelkam Polrestabes Bandung.
Sampaikan Surat Penolakan Asyura Syiah, PAS Jabar Datangi Yayasan Muthahhari dan Majelis Alwi Assegaf
Dalam pertemuan tersebut Penasehat  PAS Jabar yang juga pimpinan Dewan Dawah Jabar ustadz Roinul Balad menyampaikan maksud kedatangannya untuk memberikan surat penolakan perayaan Asyura Syi’ah di Kota Bandung khususnya dan Jawa Barat pada umumnya. Surat penolakan tersebut juga disertai dengan melampirkan pula pernyataan dari MUI Provinsi serta Kemenag Provinsi Jawa Barat mengenai kesesatan Syi’ah.
“Informasi yang disampaikan beliau sejauh ini pihak Polrestabes Bandung mengatakan bahwa tidak akan memberikan izin apapun terkait perayaan Asyura Syi’ah di wilayahnya nanti,” ungkap ustadz Roin lewat rilisnya, Sabtu (8/10/2016).
Usai mendatangi Mapolrestabes Bandung massa PAS Jabar mendatangi Kantor Walikota Bandung yang sedianya akan langsung menemui Walikota Bandung Ridwan Kamil namun karena yang bersangkutan tidak ada ditempat maka hanya diterima oleh Kepala sub bidang penanganan kerawanan sosial, Badan Kesatuan Bangsa dan Pemberdayaan Masyarakat (BKBPM) Kota Bandung, Iwan Hermawan, diperoleh informasi bahwa Walikota Bandung sedang berada di Korea.
Dalam kesempatan tersebut Ustadz Abdul Hadi juru bicara  PAS Jabar dari Jundullah ANNAS menyampaikan surat penolakan perayaan Asyura Syiah di wilayah Bandung Raya dan Jawa Barat. Ia juga  megingatkan jangan  sampai hasil tersebut terulang seperti tahun yang lalu .
Menanggapi hal tersebut Kesbangpol Kota Bandung menyampaikan bahwa hal tersebut sudah di antisipasi oleh pihak Pemkot dengan mengadakan pertemuan dengan semua pihak yang terkait. Iwan juga meyampaikan bahwa pihak yang selama ini merayakan asyura berjanji tahun ini tidak akan merayakannya.
Usai melaksanakan Shalat Jum’at massa PAS Jabar melanjutkan dengan mendatangi Yayasan yang juga sekolah Muthahhari di Jl.Kampus Kota Bandung.  Sebagaimana diketahui di yayasan dan sekolah yang didirikan oleh Jalaludin Rakhmat ini  setiap tahunnya menggelar perayaan Asyura. Di Sekolah Muthahhari ini perwakilan PAS Jabar diterima oleh Miftah Fauzi Rakhmat  anak Jalaludin Rakhmat yang juga pengurus sekolah. Kepadanya juga diserahkan surat penolakan acara Asyura Syiah berikut surat dari MUI Jabar dan Kemenag Jabar.
Selain mendatangi Yayasan dan Sekolah Muthahhari , massa PAS Jabar juga mendatangi kediaman Habib Alwi Khadim Assegaf di kawasan Jln. Kembar VI No. 8 Kota Bandung. Di tempat yang juga dikenal sebutan Majelis Habib Alwi Assegaf  tersebut biasanya setiap 10 Muharam juga menggelar perayaan Asyura. Seperti di Yayasan Muthahhari, di tempat tersebut perwakilan PAS Jabar juga menyampaikan surat penolakan perayaan Asyura Syiah berikut surat dari MUI Jabar dan Kemenag Jabar. (percikaniman)

Kelabuhi NU, Jalaludin Rahmat Berhasil Laksanakan Serangkaian Kegiatan Asyura
Pimpinan Pusat Ikatan Jamaah Ahlul Bait (PP IJABI) sebagaimana yang dijelaskan Ketua Umum Tanfidziyah IJABI, Syamsuddin Baharuddin telah berhasil mengisi 1-10 Muharram dengan beragam kegiatan yang disebutnya rangkaian Asyura Husaini 1438 H.
Mirisnya, rangkaian kegiatan itu digunakan Syiah untuk mengelabui warga NU Cirebon dalam bentuk Istighatsah dan Asyura Muharram.
Puncak kegiatan Asyura dilaksanakan IJABI di kota Cirebon pada rabu (12/10) bekerjasama dengan FSMI. Beberapa ulama dan sesepuh NU di Cirebon, di antaranya KH Zaelani (Ponpes Buntet), KH Ibrahim Rozi (Syuriah NU), KH Jajuli (Ponpes Kaliwadas), KH Syamsuddin (Ponpes Plered), KH Nasiruddin (Ponpes Plered) dan KH Dr Nuruddin Siradj turut menghadiri acara yang sejatinya Syiah agendakan sebagai cover ritual sesat Asyura.
Usai menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan pembacaan Pancasila, majelis diberkati dengan lantunan shalawat dan ma’tam Husaini. Ketua Dewan Syura IJABI, KH Jalaluddin Rakhmat dalam acara tersebut mulai tampil memberikan doktrin Syiah kepada hadirin dengan membacakan kisah kesabaran Sahabat Ali bin Abi Thalib. (nisyi/syiahindonesia.com)

Menjelang 10 Muharram, Syiah Jabar Berjanji Tak Adakan Perayaan Sesat Asyura
Ratusan massa perwakilan dari elemen dakwah dan ormas di Kota Bandung dan Jabar yang tergabung dalam Pembela Ahlu Sunnah (PAS) Jabar mendatangi Mapolrestabes Bandung dan Kantor Walikota Bandung, Jum’at (7/10/2016). PAS yang didukung sejumpah Ormas Islam dan elemen dakwah  seperti Dewan Dakwah, KODAS, Jundulloh ANAS, GARDAH, KORNI dan beberapa elemen dakwah mendatangi Mapolrestabes Bandung yang diterima oleh Kompol Haeruman selaku Kasat Intelkam Polrestabes Bandung, lansir percikaniman, (8/10/16).
Perwakilan Pas Jabar di Polrestabes Bandung
Dalam pertemuan tersebut Penasehat  PAS Jabar yang juga pimpinan Dewan Dawah Jabar ustadz Roinul Balad menyampaikan maksud kedatangannya untuk memberikan surat penolakan perayaan Asyura Syi’ah di Kota Bandung khususnya dan Jawa Barat pada umumnya. Surat penolakan tersebut juga disertai dengan melampirkan pula pernyataan dari MUI Provinsi serta Kemenag Provinsi Jawa Barat mengenai kesesatan Syi’ah.

Menanggapi hal tersebut Kesbangpol Kota Bandung menyampaikan bahwa hal tersebut sudah di antisipasi oleh pihak Pemkot dengan mengadakan pertemuan dengan semua pihak yang terkait. Iwan juga meyampaikan bahwa pihak yang selama ini merayakan asyura berjanji tahun ini tidak akan merayakannya.

Sumber : syiahindonesia.com






PERAYAAN ASYURO SYIAH 2016 DI BOGOR DI DEMO WARGA

KOTA-KOTA BESAR DI INDONESIA TOLAK ASYURO SYIAH 1438, BUKTI MASYARAKAT BENCI SYIAH

Perayaan asyuro 2016 baru saja selesai. Masyarakat Indonesia ada berbeda sikap, ada yang pro dan ada yang kontra. Kami meneliti, ada banyak kota besar yang menjadi basis syiah terjadi penolakan. Berikut laporan dari admin blog ini yang sudah mengumpulkan data penolakan syiah di berbagai tempat di Indonesia. cukuplah ini sebagai bukti bahwa Syiah di tolak oleh masyarakat Indonesia kecuali sedikit orang saja.

BOGOR 10 oktober 2016 jam 18:00 s/d 22:30 WIB
Lokasi : pasir kuda Gg. Siti hasanah BOGOR
- SYIAH BUKAN ISLAM -
PENOLAKAN DAN PEMBUBARAN ASYURO SYIAH OLEH UMAT MUSLIM BOGOR RAYA ..!!
Alhamdulillah Allahu Akbar Bidznillah
Pada hari senin 10 oktober 2016 tepat pukul 18:00 pejuang Alloh dari barisan MAJELIS MUJAHIDIN INDONESIA, JUNDULLAH ANNAS, GEMPA, ULIL ALBAB beserta barisan pejuang Alloh dan elemen masyarakat yg lain berhasil membubarkan jamaah dari sekte syiah di wilayah bogor khususnya
Sesuai dengan keputusan dan hasil musyawarah dengan jajaran kepolisian dan walikota bahwa TIDAK ADA LAGI PERAYAAN ASYURO DI WILAYAH BOGOR RAYA karena mereka bukan islam dan mereka adalah musuh islam perusak NKRI
" BUBARKAN ACARA SYIAH ATAU KAMI JIHAD "
Melalui negosiasi dan perjuangan yg cukup lama Alhamdulillah dengan ijin Alloh mereka membubarkan diri
Jika mereka tetap melaksanakan acara maka kemungkinan terburuk kami akan masuk dengan ratusan pejuang yg cinta akan Agama Alloh demi kedamaian di NKRI
Tanpa ada PENGKAFIRAN DAN PELAKNATAN TERHADAP SAHABAT NABI DAN MENCORENG NAMA BAIK ISLAM serta kerusuhan yg akan datang sewaktu waktu akibat makar syiah di waktu yg akan datang di NKRI
Karena bagi kami yg cinta akan Agama Alloh dan Rasulnya syahid adalah cita cita terbaik dalam hidup
Melawan segala bentuk kemungkaran dan kebathilan
Orang tua kita saja di hina dan di ejek oleh orang lain kita pasti akan marah
Lalu bagaimana dengan mereka syiah yg melaknat dan mengkafirkan para sahabat serta ummahatul mukminin sebagai pezina dan kita Ahlussunnah ini kafir bagi syiah..!!
Maka jangan biarkan mereka berkembang menjadi sebuah mayoritas di negeri ini
Karena apa bila mereka sudah menjadi mayoritas pedang pedang mereka akan menghunus tubuh tubuh Ahlussunnah
Yaman, lebanon, iraq dan suriah adalah contoh bagaimana mereka membuat makar
- TOLAK SYIAH DARI NKRI MEREKA BUKAN ISLAM –

PENOLAKAN SYIAH DI BOGOR :