Selasa, 02 September 2014

Iran Tanggapi Kabar Penutupan Pusat Kebudayaan di Sudan



Deputi Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Arab dan Afrika, Hossein Amir-Abdollahian mengatakan, beberapa gerakan sedang mencoba untuk merusak hubungan baik Iran dan Sudan.
Amir-Abdollahian, Rabu (3/9/2014) kepada IRNA, menyinggung kabar yang tersiar di beberapa media tentang penutupan Pusat Kebudayaan Republik Islam Iran di Sudan. Dia menuturkan, kedutaan dan pusat-pusat kebudayaan dan ekonomi Iran dan Sudan akan melanjutkan kegiatan rutinnya di kedua negara tersebut.
“Sudan tidak akan membiarkan rusaknya kondisi sejarah hubungan kedua negara dan langkah-langkah seperti itu akan menciderai hubungan baik antara Tehran-Khartoum,” jelasnya.
Sebelumnya, sumber-sumber Barat mengabarkan penutupan pusat-pusat kebudayaan Iran di Sudan dan meminta para pegawainya untuk meninggalkan negara Afrika itu dalam waktu 72 jam, tanpa menyebutkan alasan di balik tindakan tersebut.
sumber : IRIB Indonesia

Sudan Menutup Pusat Kebudayaan Iran



Sumber-sumber Barat mengabarkan penutupan pusat-pusat kebudayaan Iran di Sudan dan meminta para pegawai lembaga itu untuk meninggalkan negara Afrika itu dalam waktu 72 jam, tanpa menyebutkan alasan di balik tindakan tersebut.

Televisi CNN seperti dikutip koran Jamejam cetakan Tehran, melaporkan, sumber-sumber terpercaya menginformasikan keputusan pemerintah Sudan untuk meliburkan pusat-pusat kebudayaan Iran di negara itu ketika sama sekali tidak ada tanda-tanda sebelumnya, yang menunjukkan ketegangan antara Tehran dan Khartoum.

Iran sampai sekarang belum mengkonfirmasikan penutupan pusat kebudayaannya di Sudan dan juga belum menanggapi sejumlah laporan media terkait masalah itu.

Namun, Fars News Agency menulis Sudan menyerukan penutupan pusat kebudayaan Iran.

Televisi CNN mengutip koran Sudan Tribune menulis, pemerintah Sudan sama sekali tidak memberi penjelasan tentang penutupan kedutaan Iran di Khartoum.

Koran al-Intibaha Sudan juga melaporkan penutupan pusat kebudayaan Iran di Khartoum dan semua cabangnya di seluruh Sudan. Harian ini menambahkan, beberapa sumber terpercaya mengatakan Khartoum secara umum tidak puas dengan hubungan Sudan dan Iran.

Kantor berita AFP mengutip seorang pejabat Khartoum melaporkan, Kementerian Luar Negeri Sudan telah memanggil Kuasa Usaha Iran di negara itu dan berita penutupan tiga pusat kebudayaan Iran telah disampaikan kepadanya.
sumber : IRIB Indonesia

KENAPA SYIAH BEGITU PESAT TERSEBAR: INI BIANG KEROKNYA...


Syaikh Muhammad Hasan Akhtari:
Umat Islam Syiah Meningkat 50 juta Orang Pasca Revolusi Iran

"Majma Jahani Ahlul Bait as selama 24 tahun telah melakukan pelayanan dan pengkhidmatan kepada para pengikut Ahlul Bait di seluruh dunia, dan terus berupaya untuk melakukan pelayanan yang sebaik-baiknya."

Menurut Kantor Berita ABNA, Hujjatul Islam wa Muslimin Muhammad Hasan Akhtari, Sekjen Majma Jahani Ahlul Bait as dalam pernyataannya di sekretariat Majma Jahani Ahlul Bait di kota Qom Republik Islam Iran selasa [22/10], mengatakan, "Majma Jahani Ahlul Bait as selama 24 tahun telah melakukan pelayanan dan pengkhidmatan kepada para pengikut Ahlul Bait di seluruh dunia, dan terus berupaya untuk melakukan pelayanan yang sebaik-baiknya."

Dalam penjelasannya yang lebih lanjut, Hujjatul Islam wa Muslimin Syaikh Akhtari menyebutkan diantara tujuan terpenting dari didirikannya Majma Jahani Ahlul Bait yang beranggotakan ratusan cendekiawan dan ulama Islam di seluruh dunia tersebut adalah untuk menyebarkan dan mendakwahkan ajaran suci Ahlul Bait ke penjuru dunia, "Ada sekitar 300 juta umat Islam Syiah di seluruh dunia, dan sekitar 50 juta diantaranya baru beralih ke Syiah pasca revolusi Islam Iran." Kata beliau.

"Majma Jahani Ahlul Bait memiliki interaksi dan kerjasama yang intens dengan sekitar 360 lembaga Islam di seluruh dunia dan juga menaungi 3000 muballigh yang sebelumnya belajar di Hauzah Ilmiah di Iran dan kembali kenegaranya untuk berdakwah dan tabligh setelah menyelesaikan masa studinya. Ini tentu sebuah perkembangan yang positif, yang insya Allah akan terus ditingkatkan." Lanjutnya.

Hujjatul Islam wa Muslimin Syaikh Akhtari kemudian menambahkan, "Usaha lain yang Majma Jahani Ahlul Bait tempuh untuk mensyiarkan dakwah Ahlul Bait adalah dengan melakukan serangkaian penelitian ilmiah dan menerbitkan buku-buku. Dalam hal ini, ribuan buku telah dicetak dan disebarkan dan ditulis dalam 50 bahasa dunia. Selain itu juga melakukan dakwah dan penyebaran ajaran Islam melalui website dan pembuatan CD-CD dan software Islami."

"Majma Jahani Ahlul Bait juga berperan untuk mewujudkan persatuan umat Islam dan pendekatan antar mazhab, dengan melakukan serangkaian seminar, pertemuan, dialog ilmiah dan silaturahmi dengan ulama-ulama dan yayasan-yayasan Islam di beberapa negara muslim. Kegiatan kami ini bisa disaksikan di stasiun televisi berbahasa Arab "Tsaqalain", 12 jam setiap harinya." Jelas Sekjen Majma Jahani Ahlul Bait.

Hujjatul Islam Syaikh Akhtari optimis, dengan kegiatan dakwah yang intens, dan upaya menjawab fitnah mengenai Syiah dengan cara-cara yang ilmiah, elegan dan dialogis, ajaran Ahlul Bait akan mampu diterima kaum muslimin di dunia.

Sumber : http://www.abna.ir/indonesian/service/important/archive/2013/10/22/474682/story.html

Santri-santri (SYIAH) Nekat Indonesia



Laporan : Majalah Tempo


Sampai sekarang ini Qom masih memiliki daya tarik bagi santri asal Indonesia .
Indonesia salah satu pemasok santri bagi hauzah atau madrasah di Qom , Iran . Sejak kemenangan revolusi Islam Iran pimpinan Imam Khomeini, negeri para mullah itu menjadi daya tarik bagi pemuda Indonesia untuk belajar agama. Sebelumnya, minat pelajar Indonesia menimba ilmu agama umumnya ke Universitas Al-Azhar Mesir, Ummul Qurra Arab Saudi, Irak, dan Pakistan .
Saat ini, menurut catatan Yayasan Jahani, lembaga yang bergerak mencari dan memantau lulusan hauzah Qom di mancanegara, tercatat 150 alumnus hauzah Qom di Indonesia. ”Saya berharap mereka bermanfaat untuk masyarakat sekitarnya. Percuma saja sudah jauh-jauh ke Iran dan diberi fasilitas tapi tak menjadi manfaat bagi umat,” kata pemimpin Jahani, Ayatullah Murtadha Muqtadai, yang berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu.
Lulusan Qom di Indonesia kini tersebar di berbagai pelosok Nusantara. Ada yang menjadi pendakwah, guru, penulis, bahkan politikus. Saat ini masih ada ratusan santri Indonesia yang belajar di Qom . Di bawah ini beberapa profil alumnus hauzah Qom .
Musa Kadzim Siraj, 43 tahun
Pria kelahiran Bangkalan, Madura, 1963 ini semula mahasiswa Jurusan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur, selama dua tahun. Tak puas dengan pendidikan yang diterimanya, Musa mulai berkorespondensi dengan lembaga pendidikan yang ada di Timur Tengah: Arab Saudi, Mesir, dan Iran .
Ternyata proposalnya diterima di Iran . ”Saya berminat ke Iran karena negeri itu punya daya tarik yang luar biasa. Bahasa dan budaya Persia tua. Iran salah satu kekuatan timur pada zaman rasul. Dan tentu saja revolusi Islam Iran yang dibawa Imam Khomeini,” katanya.
Namun tak mudah untuk bisa masuk ke negeri itu. Apalagi pemerintah Orde Baru saat itu sedang ketakutan dengan isu ekspor revolusi Islam yang diembuskan negara Barat yang anti terhadap pemerintahan Khomeini. Walau tanpa visa, Musa langsung terbang ke Karachi , Pakistan , pada 1985. Ia sempat terdampar selama tiga bulan dan ditampung oleh mahasiswa asal Iran , Mr Daud, di Dow Medical Centre, sebuah asrama mahasiswa Iran yang dibangun Shah untuk mahasiswa Iran di Pakistan.
Setelah memegang visa Iran , Musa lebih dulu belajar bahasa Persia di Nejafabad, delapan kilometer dari Kota Isfahan, selama setahun. Setelah itu, bersama 10 orang lainnya dia ”dijebloskan” ke Hauzah Ilmiyah Hujatiyah, Qom . Kampusnya hanya 100 meter dari makam Hazrat Maksumah Fatimah. Sebelumnya, sudah ada enam orang Indonesia lain belajar di madrasah yang memang khusus untuk orang asing itu.
Di sekolah itu Musa, dengan bahasa pengantar Arab, belajar mengkaji akidah Islam, bahasa Arab, fikih, tafsir, dan logika (mantiq). Musa belajar Babul Hadi Asyar (akidah karya Alamah al-Hlli) dari Hujatul Islam Jafar Hadi, murid kesayangan Ayatullah Jafar Subhani. Ia juga belajar Mantiq al-Mudaffar 2 jilid karya Dr Syekh Nabil, Fiqh, Tahrir Wasilah karya Imam Khomeini, dan Tafsir Al Mizan fi Tafsirul Qur’an karya Ayatullah Muhammad Thabathabai. ”Yang paling berkesan belajar di Iran adalah perilaku ulama-ulama yang ada di Qom, yang begitu baik menghargai pelajar-pelajar dari Indonesia, tidak merasa lebih tinggi atau pintar. Mereka benar-benar memahami Islam dengan baik dari perilakunya,” ujar Musa.
Setelah lima tahun di Qom, 1990, Musa kembali ke Indonesia, langsung bersilaturahmi ke ulama-ulama, terutama di Martapura, Kota Baru, dan Banjarmasin, Kalimantan. ”Di Martapura ada Guru Zain. Martapura itu seperti Qom. Seluruh ulama Kalimantan untuk mengkaji irfan harus ke Guru Zain itu,” katanya.
Selain mengajar bahasa Persia di Pusat Kebudayaan Islam (ICC), Jakarta, Musa aktif berdakwah di kalangan bawah, waria, dan buruh migran. Bulan lalu, selama sebulan Musa mengadvokasi buruh migran di Hong Kong. ”Pemerintah harus memperhatikan buruh migran yang menghasilkan devisa tidak kecil bagi negeri ini,” ujarnya.
Abdullah Beik, 37 tahun
Berawal dari membaca buku-buku anti-Syiah dan Imam Khomeini, pelajar Lembaga Pendidikan Bahasa Arab (LPIA) milik pemerintah Arab Saudi itu kemudian justru penasaran terhadap ajaran ahlul bait. ”Apalagi setelah menonton film detik-detik kematian Imam Khomeini,” ujar Abdullah Beik. Dengan modal bahasa Arab dari LPIA yang bagus, lulusan SMA di Sumenep, Madura, ini melamar ke lembaga pendidikan di Iran,
Pria kelahiran 1970 tersebut masuk ke Hauzah Hujatiyah Qom pada 1991. Lulus sarjana jurusan syariah, ia lalu pulang ke Indonesia. ”Pendidikan di sana sudah modern. Saya sempat belajar langsung dari murid Imam Khomeini, Syekh Nur Muhammadi,” kata Beik. Saat masih mahasiswa, Beik tinggal di asrama dengan para pelajar bujangan lainnya.
Tak puas hanya jadi sarjana, setelah menikah, Beik memboyong istrinya mengambil gelar master teologi dan filsafat di Sekolah Tinggi Imam Khomeini, Qom, sejak 1999. ”Saya tinggal di rumah yang disediakan pemerintah Iran khusus untuk mahasiswa asing yang sudah berkeluarga,” ujarnya.
Ayah satu anak ini kembali ke Indonesia pada 2004 dan kini menjadi Manajer Pendidikan dan Dakwah ICC, Jakarta. Sebagai lulusan Qom, Beik juga memantau rekan-rekannya yang aktif di berbagai bidang. ”Setiap tahun kami bertemu dalam silaturahmi nasional,” ujarnya.
Dibandingkan dengan India, Pakistan, Turki, atau Afganistan, menurut Beik, lulusan Indonesia tak terlalu banyak. ”Jika dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, atau Filipina, Indonesia memang lebih banyak,” kata penggemar film Oshin itu.
Ali Hussein, 32 tahun
Tiga tahun nyantri di Pesantren Al-Hadi, Pekalongan, Jawa Tengah, pimpinan Habib Ahmad Baragbah, ia tak cukup puas. Melalui relasi yang dimiliki ajengan pesantren itu, Ali Hussein, yang sering dipanggil sebagai Ali Pati, berangkat ke Qom pada 1994.
Sebelum diterima di Hauzah Hujatiyah, pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, itu belajar bahasa Persia selama enam bulan di Madrasah Sahabiyah. Di Hujatiyah, Ali bersama pelajar mancanegara asal Tunisia, Sierra Leone, Afrika Selatan, Pakistan, India, dan Malaysia belajar ilmu-ilmu teologi, akidah, fikih, bahasa Arab, ushul fiqh, dan tafsir Al-Quran. ”Kelas berisi hampir 40 orang, tiap pagi belajar tiga jam dan sore tiga jam,” katanya.
Selain ustad-ustad yang disediakan madrasah, sering datang juga dosen tamu. ”Kami pernah diajar oleh pemimpin Hizbullah Libanon, Hassan Nasrallah,” kenang Ali. Sekretaris Direktur ICC ini punya alasan memilih belajar di Qom. Kota itu dianggap sebagai pusat perkembangan ilmu makrifah Islam, terutama bidang-bidang filsafat, dan ilmu kalam. ”Banyak sekali ulama lulusan Qom, bahkan sebagian besar ulama ahlul bait di dunia ini pernah belajar di Qom, marja’-marja’ terkenal juga punya kedudukan di Qom,” katanya. Lulus setingkat sarjana, Ali sempat bekerja selama dua tahun untuk Radio Republik Islam Iran (IRIB) seksi Melayu.
Ammar Fauzi, 33 Tahun
Berawal dari suka filsafat, santri YAPI, Bangil, Jawa Timur, ini mengakses karya-karya orang Iran. Lalu Ammar berhubungan dengan guru-guru yang datang dari Qom.
Pria kelahiran Purwakarta, Jawa Barat, itu nekat pergi dengan tiket satu kali jalan (one way). ”Entah bagaimana situasi masa itu, rombongan kecil kami harus mengambil visa entry dari Kedutaan Iran di Kuala Lumpur,” katanya. Lebih dari seminggu Ammar dan kawan-kawan harus berada di Singapura dan Malaysia. Setelah visa diperoleh, barulah bisa berangkat ke Teheran. ”Proses perjalanan seperti ini tidak dialami lagi oleh mereka yang datang setelah saya,” ujarnya.
Di Qom, seperti santri Indonesia lainnya, ia diceburkan ke Hauzah Hujatiyah (1994-1998), lalu dilanjutkan ke Hauzah Muassasah Pezwuhesh, Institut Penelitian Misbah Yazdi (1995-2001). Kini Ammar adalah mahasiswa semester akhir program doktoral filsafat Islam Hauzah Imam Khomeini—sejak 2000. Di tempat kuliah, Ammar mendapat pelajaran bahasa Persia, sastra Arab, ilmu-ilmu agama, logika Aristotelian, teologi, filsafat, fisiologi, psikologi, dan matematika. ”Sekarang banyak bermunculan guru pemikir muda yang melakukan perimbangan dan terobosan baru di banyak bidang ilmu,” ujarnya.
Ketika awal masuk Qom, Ammar tinggal di asrama. ”Seperti tinggal di rumah sendiri,” katanya. Keragaman pelajar waktu itu cukup terlihat. Kini keragaman itu jauh lebih kompleks dan fasilitasnya jauh lebih memadai. Ammar, yang sudah berkeluarga, tak lagi tinggal di asrama. ”Kami tinggal di perumahan dan apartemen yang telah disediakan,” ujarnya. Ammar tinggal lima kilometer dari tempat kuliahnya di kawasan Haram Sayidah Ma’sumah.
Tiap bulan Ammar mendapat biaya hidup dari marja’-nya berkisar 250 ribu tuman atau senilai Rp 2,5 juta. ”Cukuplah untuk hidup di sini,” katanya. Bagi Ammar, jalan-jalan di pertokoan buku sudah merupakan hiburan.
Abdurahman Baragbah, 46 tahun
Abdurahman Baragbah sudah lelah tinggal di Iran . ”Saya mau kembali ke Indonesia , saya sudah bikin surat pengunduran diri,” ujar penyiar Radio Republik Islam Iran seksi Melayu itu. Pria asal Pekalongan, Jawa Tengah, yang menguasai bahasa Arab, Persia, dan Inggris ini sudah lebih dari 20 tahun berada di Iran.
Tiga belas tahun ia menjadi penyiar dan penerjemah di IRIB Teheran, setelah delapan tahun mondok di Hauzah Hujatiyah Qom . ”Dulu, ketika awal belajar di Qom, kayak di pesantren, kami harus menempel seorang ulama,” katanya. Namun belakangan sistem itu diubah menjadi sistem modern dengan kelas dan hitungan SKS.
Ada kenangan yang tak terlupakan saat ia berada di Qom. Ketika rudal-rudal Irak menghantam sasaran sipil, para ulama meminta para pelajar mancanegara pindah untuk sementara. ”Kami semula tidak ada yang mau, dan dengan bersemangat ingin bertahan bersama-sama di pesantren kami. Namun marja’ dengan tegas mengatakan, ini perintah, kami tak bisa menolak,” kata ayah dua anak ini.
Ustad Aman, begitu teman-teman memanggilnya, diberi tanggung jawab mengurusi kepindahan para pelajar ke Mashad. Dengan fasilitas yang terbatas dan waktu menunggu beberapa hari, pemerintah Iran menyediakan dua bus kota—karena bus antarkota dipakai untuk membawa para pejuang ke front depan. Selama 20 jam bus menembus jalan yang dingin dan bersalju.
Dua bulan di Mashad, akhirnya para pelajar kembali menuntut ilmu di Qom. Aman segera kembali ke Indonesia jika proses pengunduran dirinya diterima. Dua anaknya sudah lebih dulu dikirim bersekolah di Yayasan Pesantren Islam di Bangil, Jawa Timur. ”Saya ingin mendirikan sekolah Islam modern di Purwokerto,” katanya bercita-cita.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Rabu, 02 Juli 2014

SYIAH JEPARA : ASYURA JEPARA 2011

Berikut reportase liputan kegiatan  hari pertama Muharram yang berlangsung di Kabupaten Jepara. Di kabupaten Jepara `asyura Muharram dilaksanakn di beberapa tempat
MALAM PERTAMA
TPQ al Hasanain, Desa Guyangan
Muharram. Bulan suci yang dinodai oleh sekelompok umat islam yang mengaku muslim, namun tega membantai cucu Nabi saww Al-husain bin Ali as. Memasuki bulan ini para pecinta Ahlulbayt berkumpul bersama untuk mengenang tragedi pembantaian Imam Husain as di Karbala, Irak. Begitu juga dengan para pecinta Ahlulbayt di desa Guyangan dan sekitarnya. Mereka berkumpul di bangunan madrasah diniyah Al-hasanain Guyangan, dan mengadakan majlisil aza’ imam Husain as.
Acara yang ceramahnya diisi oleh ustadz Nur Alim ini berjalan begitu sederhana. Selepas berziarah bersama, para ikhwan desa Guyangan juga bersama-sama membaca doa akhir tahun yang dipimpin oleh ustadz Nur Alim. Meski begitu sederhana, dikatakan sederhana karena dalam acara itu tak terdapat perlengkapan-perlengkapan asyura, mereka merasa bahagia bisa menjadi bagian dari para pecinta Imam Husain as yang meninggalkan urusan dunia mereka dan memilih untuk mengenang tragedi Karbala.
rep : alamsyah
Mushola H. Zabidi al Mahdi, Krasak
Di Mushola Zabidi Almahdi tiap Muharom selalu mengadakan majlis aza’. Tapi Muharom sekarang berbeda dengan Muharom tahun-tahun lalu, salah satu keistimewaan Muharom tahun ini adalah, kami mendapatkan giliran ustadz. Di malam pertama Muharom, tepat setelah adzan Isya’ selesai, ustadz Bunari sebagai pembaca acara menuturkan dalam prolognya akan pentingnya madrasah Asyuro dan semoga kita dapat mengambil banyak hikmah dari madrasah Asyuro. Kemudian beliau juga merasa begitu bahagia karena mendapat undangan dari Imam Husein untuk hadir memperingati hari-hari Asyuro. Acara kemudian dilanjut dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang disenandungkan oleh adik Zaenab Azakiyah yang sangat merdu nan indah seperti lantunan qori’ terkenal yang dijual dalam kaset-kaset Al-Qur’an. Setelah itu, untuk meminta syafaat Rosulullah dan Ahlul Bayt, acara pun dilanjutkan dengan tawasul yang begitu menyentuh sehingga seakan-akan waktu itu hati kita merasakan di depan kita, Rosulullah dan Ahlul Baytnya hadir di depan kita dan berada disekitar kita.
Setelah tawasul selesai, acara pun dilanjutkan dengan ceramah oleh ustadz Miqdad yang bertema dimensi keghoiban. Sebelum menyampaikan inti yang dibawakan beliau memberi semangat kepada kita bahwa walaupun disini sedikit, banyak yang diundang tidak hadir, tapi semoga dengan yang sedikit ini, Dan apabila disertai dengan niat yang tulus dan hati yang bersih, insyaAllah Ahlul Bayt juga ikut bergabung bersama kita di majlis ini. Setelah itu beliau memberikan beberapa kisah tentang dimensi keghoiban, yang salah satunya adalah dikisahkan ada seseorang yang ikut membunuh pengikut Imam Husein, Dan sejak saat itu dia mengakui bahwa dalam setiap tidurnya ada orang yang mengajaknya masuk ke dalam api neraka.
Dan kisah terakhir yang diberikan ustadz Miqdad begitu sangat menyentuh hati kita semua. Dikisahkan ada seorang musafir kehabisan bekalnya, kemudian dia hanya minta kepada Imam Husein uang 3000 dirham, padahal pinjam atau yang lainnya bisa, tapi dia tidak mau, maunya hanya minta pada Imam Husein. Dengan keyakinannya yang penuh itu, ada seorang wanita mendengar doanya pada Imam Husein kemudian mendatangi musafir tersebut Dan memberikan uang yang di perlukannya. Musafir tersebut tidak mau, tapi wanita tersebut bilang, aku adalah ibunya orang yang kau mintai. Sungguh kisah tersebut dapat memberikan kepada kita pelajaran bahwa ketika kita yakin dengan penuh, Dan minta pertolongan lewat Rosulullah Dan Ahlul Bayt, mereka akan melihat Dan membantu kita. Kita di dunia ini, tak punya bekal di akhirat yang bisa kita banggakan, maka perlu syafaat dari insan-insan suci. Maka dari itu mari kita bersama-sama membuat tali ikatan yang kuat dengan mereka, senantiasa menziarahi mereka, tawasul kepada mereka disetiap waktu kita. Begitulah pesan ustadz Miqdad mengakhiri ceramahnya. Acara pun ditutup dengan ziarah kepada Imam Husein as dengan penuh khidmat, sampai tak ada raut wajah yang bahagia sedikit pun, semuanya sedih, menangis, tersedu-sedu seakan-akan di depan kita adalah kuburan Imam Husein as.
rep : Ummi`s
PESANTREN DARUT TAQRIB, JEPARA
Bulan Muharram merupakan bulan kesedihan bagi keluarga suci Rasulullah saww. Yang mana pada bulan ini seluruh umat islam para pecinta Ahlulbait as memperingatinya atas syahadahnya Imam Husain as, keluarga dan para sahabat beliau di Karbala.
Untuk mengenang kembali pengorbanan dan perjuangan beliau dalam menegakkan amar ma’ruf wa nahi munkar, maka Ponpes Darut-Taqrib Jepara mengadakan acara majlis ‘Azza Imam Husain as, dengan tema : “Menepuk dada di ‘Asyura, memerah darah di Karbala, duka cita untuk sayyidu syuhada.
Acara berlangsung di masjid Imam Mahdi, dimulai tepat jam 20.00 WIB. Yang hadir dalam majlis kesedihan ini lebih dari empat puluh orang terdiri dari ikhwan dan akhwat juga anak-anak dari sekitar kota Jepara.
Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan ceramah yang disampaikan oleh Habib Ali Al Attas, sekaligus dengan pembacaan Maqtal oleh beliau.
Adapun tema yang beliau sampaikan perihal “Revolusi Kebangkitan Imam Husain as”. Bahwa beliau menyampaikan hal itu terkait dengan revolusi yang terjadi di Iran pada tahun 1979 M. Yang dipimpin langsung oleh Imam Khumaini qs. Begitu juga Kebangkitan Hizbullah yang dipimpin oleh  Sayyid Hasan Nasrullah yang bertahan dan mengalahkan zionis Israel. Yang mana mereka ini tidak lain karena belajar dari revolusi kebangkitan Imam Husain as.
Setelah beliau menyampaikan ceramah dan maqtalnya. Dilanjutkan dengan lantunan sya’ir Maktam oleh santri-santri Darut Taqrib dan terakhir Doa Ziarah Imam Husain as. yang dipimpin langsung oleh Habib Ali Al-Attas.
rep : Rohimat
ASYURA SYIAH JEPARA: MALAM KEDUA
PQ al Hasanain, Desa Guyangan
Masih dalam suasana Muharram, untuk malam kedua kali ini kami meliput majlis ‘Azza di Guyangan yang belokasi di Madrasah Al-Hasanain. Susunan acara disini pun sama dengan majlis ‘Azza di Ponpes Darut-Taqrib. Acara dimulai pukul 20.00 WIB-Selesai. Akan tetapi akhwatnya lebih dominan dari pada ikhwan dan kebanyakan dari mereka yang hadir adalah para pemuda.
Penceramah inti malam kedua ini adalah ust. Mukhlisin dan tema yang beliau sampaikan perihal “Rasa Cinta kepada Imam Husain as”. Beliau menyampaikan pesan kepada kita untuk selalu tetap mencintai Rasulullah saww dan Ahlulbaitnya. Dikarenakan kecintaan kepada merekalah kita mencintai Allah SWT. Dan jangan sampai kita menjadi seorang pembenci Ahlulbait as, na’udzubillah. Maka kita sebagai umatnya harus bertawali (berwilayah kepada Ahlulbait Nabi Saww) dan berbaroah kepada musuh-musuhnya.
Setelah beliau menyampaikan ceramahnya, dilanjutkan dengan lantunan syair-syair maktam oleh santri-santri pesantren Darut Taqrib yang ditugaskan, kemudian pembacaan maqtal oleh ust.Nur Alim sekaligus doa ziarah dan penutup.
rep : Rohimat
MUSHOLA H. ZABIDI AL MAHDI, KRASAK
Begitu pentingnya meraih kehidupan yang hakiki, itulah prolog majlis aza’ yang diungkapkan pada malam kedua Muharom di Mushola Zabidi Al-Mahdi. Walaupun yang hadir baru beberapa orang, tepat jam 19.00 wib, Majlis pun di tetap dimulai dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan dilanjut dengan persembahan kepada Imam Husein as berupa puisi dan ma’tam. Malam itu tampak bingung dan canggung saat persembahan dilantunkan, dirasakan begitu asing di telinga yang mendengarkannya, dikarenakan ma’tam malam itu, baru dan merupakan hadiah khusus untuk Imam Husein.Setelah itu, untuk lebih memeberi tali ikatan kita pada insan-insan suci, majlis pun diisi dengan tawasul kepada Rosulullah dan Ahlul Baytnya yang suci.
Satu, dua orang, Dan seterusnya bergantian, akhirnya pun banyak yang hadir dalam majlis tersebut. Setelah meminta hajat kita masing-masing di penghujung tawasul, majlis pun dilanjutkan dengan ceramah inti yang disampaikan oleh ustadz Alam Firdaus.
Malam itu, ustadz Alam menjelaskan tetang pentingnya menerima nasehat. Karena dengan nasehat yang kita terima, kita dapat mengambil manfaat baik di dunia maupun di akhirat. Dari kisah Imam Husein waktu itu, beliau memberi nasehat kepada Umar bin Saad dan juga pasukan Yazid yang lainnya, tapi hati mereka telah tertutup nasehat sehingga mereka rela memerangi sebuah kebenaran. Dan hanya Al Hur yang hatinya terbuka menerima nasehat Dan berpindah membela Imam Husein. Dari situ dapat disimpulkan bahwa nasehat merupakan pertaruhan antara surga dan neraka.
Dengan angin malam yang sepoi-sepoi, ustadz pun memberikan hal-hal yang membuat hati kita tertutup, Dan enggan menerima nasehat yaitu :
1.   Karena memakan sesuatu yang haram.
1.   Kecintaan pada duania yang berlebihan.
Ustadz pun menghimbau kepada kita agar berhati-hati dalam menggunakan harta yang kita peroleh, karena ketika belum di zakati Dan di humusi berarti kita juga memakan hal yang haram yang merupakan hak orang lain. Selain itu ustadz pun menghimbau agar kita tidak hanya berlepas diri dari orang yang jahat seperti musuh Imam Husein, tapi juga berlepas diri dari perbuatan mereka.
Walaupun ada beberapa anak kecil yang ikut sudah terlihat mengantuk, mereka tetap semangat mendengarkan ceramah dan menunggu hingga majlis selesai, akrinya sebagai akhir ceramah beliau, ustadz pun memberikan hal-hal yang dapat melembutkan hati kita, sehingga kita dapat menerima nasehat, yaitu :
·         Selalu yakin akan pengawasan Allah dalam setiap perbuatan kita, sehingga dengan itu kita tak akan berani melakukan dosa dan maksiat sehingga mudah menerima nasehat dari orang lain.
·         Selalu mengingat hari akhir, tapi yang terpenting adalah tidak hanya mengingat sesudah itu selesai tapi juga, apa reaksi kita, perbuatan kita setelah kita mengingat kematian.
·         Sering bermunajat kepada Allah, curhat dengan Allah, berdialog dengan Allah Dan menganggap Allah adalah sahabat terbaik kita.
·         Banyak membaca Al-Qur’an.
Setelah itu, ustadz Alam pun menutup ceramahnya dengan bertawasul kepada Imam Husein, keluarganya, dan pengikut-pengikutnya yang setia. Majlis pun ditutup dengan berziarah kepada Imam Husein as.
rep : Ummi`s
PESANTREN DARUT TAQRIB, JEPARA
Sudah merupakan tradisi Ahlulbayt, bahwasannya seorang pecinta Ahlulbayt haruslah mengadakan majlis `aza imam Husain as di 10 hari awal bulan Muharram.
Dan hari ini (07/01) adalah malam ke-2 (dua) dalam memperingati tragedi asyura itu. Diisi dengan ceramah oleh ustadz Miqdad Turkan, dan para hadirin tampak begitu khusyuk mengikuti jalannya acara.
Ada poin penting yang harus dimiliki pecinta imam Husain as di seluruh dunia, menurut ustadz Miqdad Turkan, yaitu harus adanya hubungan secara emosional (batin) dengan imam Husain as.
Dalam acara yang diadakan di Masjid imam Mahdi afs itu (pesantren Darut Taqrib, Jepara), ustadz Miqdad juga menekankan betapa pentingnya majlis aza’ imam Husain seperti ini. Semoga tangisan kita tak hanya dalam ‘acara’ saja. Semoga selepas acara tangisan kita masih terdengar hingga bulan Muharram pergi dan berganti bulan-bulan yang lainnya, begitulah beliau mengakhiri ceramahnya.
rep : Alamsyah
ASYURA SYIAH JEPARA: HARI KELIMA
Bulan asyuro, bulan duka bagi para pecinta Rosulullah saww dan Ahlul Baytnya. bara kesyahidan Imam Husein as di Karbala’ akan terus menggelora dalam dada pecintanya. aroma kesyahidannya akan senantiasa harum dan menjadi sumber spirit perlawanan dan pengorbanan bagi penerus misinya.
Masih dalam hari-hari duka bagi Rosulullah dan Ahlul Baytnya, dengan semangat kami Majlis Ta’lim Fathimiyah Bangsri, Jepara, mengadakan peringatan Asyuro khusus Akhwat di hari ke-5 setelah 10 Muharom, tepatnya hari Ahad tanggal 15 Muharom 1433 H (11 Desember 2011) di Mushola Al-Husaini Candi Banjaran, Bangsri, Jepara. tepat pukul 13.00 wib acara pun dimulai. seperti peringatan yang lainnya diawali dengan pembukaan, sambutan ketua panitia, persembahan untuk Imam Husein as, ceramah inti, maqtal, ma’tam dan ziarah. akan tetapi yang berbeda dari peringatan ini adalah semua yang terlibat adalah akhwat, yang menyiapkan (seluruh panitia), yang mengisi acara dari awal hingga akhir dan juga para hadirin semuanya akhwat, dari tua, muda, remaja, anak-anak hadir dalam majlis tersebut. sehingga kaum hawa dapat bebas bergerak, dalam mengekspresikan bakat-bakatnya yang terpendam.
Alhamdulillah Acara kali ini merupakan acara peringatan khusus akhwat yang ke-6, sejak dimulai tahun 2006 yang lalu. tidak hanya warga sekitar jepara yang hadir akan tetapi, kami juga mengundang daerah-daerah seperti Pati, Kudus, Demak, Semarang. bahkan peringatan kali ini ada hadirin yang datang jauh-jauh dari Jakarta.
Subhanallah… dalam suasana duka tersebut, ustadzah Fathimah Ba Muqoddam dari Bangil memberikan ceramahnya yang sangat menyentuh para hadirin, sehingga tak terdapat satupun hadirin yang tersenyum, semuanya larut dalam duka. beliau memberikan tausiah kepada kita, agar tidak melewatkan satu pun acara peringatan Imam Husein As. akan tetapi setelah kita mengikuti acara, kita harus bisa berubah dari sebelumnya. karena tujuan Imam Husein adalah memurnikan ajaran Islam yang telah koyak di tangan Yazid, memerangi kedholiman, kefasikan dan kemungkaran. oleh karena itu, kita juga harus bisa seperti beliau, memerangi segala hal kemungkaran dalam diri kita khususnya, misalnya kita harus berniat, teguh dalam hati untuk berhenti ghibah, berhenti maksiat dan lain-lain.
“Hal min nasirin yansuruni” “adakah penolong yang mau menolongku” teriakan Imam Husein selalu menggema setiap zaman, semoga kita termasuk salah satu yang menjawab dengan siap dan sigap panggilan beliau dengan lantang “labbaika ya Husain, labbaika ya Mahdi” di setiap langkah kita. amin. 
rep : ZahroInsiye