SEJARAH NEGARA
IRAN
Sejarah
Iran (Persia) setelah “dibebaskan/ditaklukkan” oleh pasukan Islam pada masa
Umar bin Khattab bisa dibagi menjadi beberapa fase besar.
1. Masa Penaklukan Persia (633–651 M)
Dimulai
sejak masa Abu Bakar dan mencapai puncak di masa Umar. Persia saat itu
diperintah oleh Kekaisaran Sasaniyah. Terjadi pertempuran penting yaitu Perang
Qadisiyah, dengan kemenangan besar umat Islam. Perang Nahawand. Pada tahun 651
M, raja terakhir Persia, Yazdegerd III wafat dan kekaisaran runtuh. Persia
masuk ke dalam kekuasaan Islam (Khulafaur Rasyidin).
2. Masa Khilafah Islam (651–1258 M)
a.
Dinasti Umayyah (661–750 M).
Persia
menjadi provinsi kekhalifahan. Bahasa Arab mulai digunakan dalam administrasi.
b.
Dinasti Abbasiyah (750–1258 M)
Ini
masa penting bagi Iran. Orang Persia mulai berperan besar dalam pemerintahan
dan ilmu. Muncul banyak ulama dan ilmuwan dari Persia. Budaya Persia justru
mempengaruhi peradaban Islam (bahasa, sastra, administrasi).
3. Islamisasi Iran (abad 8–10)
Penduduk
Persia awalnya mayoritas Zoroastrianisme. Secara bertahap mereka masuk Islam
(tidak langsung sekaligus). Banyak yang masuk Islam karena: interaksi sosial, ekonomi,
dan dakwah.
4. Munculnya Dinasti-Dinasti Persia
(semi merdeka)
Setelah
Abbasiyah melemah, Iran mulai punya penguasa sendiri:
Dinasti
Samaniyah, Dinasti Buyid, Dinasti Seljuk. Identitas Persia mulai bangkit lagi
(bahasa Persia hidup kembali).
5. Serangan Mongol (abad 13)
Tahun
1258: Penaklukan Baghdad oleh Mongol. Iran dihancurkan oleh pasukan Genghis
Khan dan penerusnya. Kehancuran besar kota-kota Persia. Tapi kemudian Mongol
juga masuk Islam
6. Lahirnya Iran Syiah (Dinasti Safawi –
1501)
Dinasti
paling penting dalam sejarah Iran modern: Dinasti Safawi. Iran resmi menjadi
negara Syiah sejak berdirinya Dinasti Safawi pada tahun 1501.
Shah Ismail I, pendiri dinasti ini, memaksa penduduk yang awalnya mayoritas
Sunni untuk menganut Syiah Dua Belas sebagai agama resmi negara. Proses konversi
ini berlangsung agresif dan menjadikan Syiah identitas khas Iran hingga kini.
7. Era Modern Awal
Dinasti
Qajar dan Dinasti Pahlavi. Pengaruh Barat mulai kuat, Modernisasi Negara
8. Revolusi Iran (1979)
Dipimpin
oleh Ruhollah Khomeini. Kekuasaan Shah berakhir. Iran jadi negara Islam Syiah
(Republik Islam Iran). Kekuasan berlangsung sampai saat ini (april 2026).
AHLUSUNNAH
DI IRAN DALAM LINTASAN SEJARAH
Kondisi Ahlus Sunnah (Sunni) di Iran
1.
Jumlah & Sebaran Sunni di Iran: Sunni adalah minoritas di Iran, Sekitar
5–10% penduduk. Tinggal terutama di wilayah: Kurdistan (barat laut) Baluchistan
(tenggara) Golestan & Turkmen (utara)
2.
Secara Hukum Konstitusi Iran
Iran
adalah negara Syiah resmi. Sunni adalah kaum minoritas dan mendapat perlakuan
berbeda dari pemerintah.
3.
Keluhan diskriminasi terhadap warga sunni, seperti:
-
Jabatan
tinggi dibatasi. Sunni tidak bisa jadi Presiden, Pemimpin tertinggi, dan Kepala
peradilan
-
Keterbatasan
fasilitas ibadah. Di ibu kota Teheran tidak ada masjid Sunni resmi.
-
Ketimpangan
wilayah. Daerah Sunni seperti: Sistan-Baluchistan, termasuk wilayah termiskin
di Iran
-
Representasi
politik kecil Jumlah wakil Sunni di pemerintahan, lebih sedikit dari proporsi
penduduknya
Masjid sunni di kota Teheran
Di
Teheran tidak ada masjid Sunni resmi, Pemerintah hanya mengizinkan “rumah
salat” (namaz khaneh) daripada masjid besar.
Pembatasan
pembangunan masjid. Banyak laporan bahwa, Sunni tidak diizinkan membangun
masjid resmi di Teheran.
DAERAH
MAYORITAS SUNNI DI IRAN
Di
Iran, wilayah mayoritas Sunni umumnya berada di daerah perbatasan, bukan di
pusat negara.
1.
Sistan dan Baluchestan (Tenggara). Mayoritas penduduk: Suku Baluch (Sunni) Kota
penting: ZahedanBerbatasan dengan Pakistan & Afghanistan
2.
Kurdistan & wilayah Kurdi (Barat / Barat Laut)
Banyak
orang Kurdi Sunni (mazhab Syafi’i)
3.
Golestan & wilayah Turkmen (Utara) Mayoritas: Turkmen Sunni
4.
Khorasan (Timur Laut), Sunni Turkmen dan sebagian Persia
5.
Selatan Iran (Larestan – Provinsi Fars), Penduduk asli Persia tapi Sunni
KEBEBASAN ORANG
YAHUDI DI IRAN
Kondisi
komunitas Yahudi di Iran cukup unik. Mereka diakui dan dilindungi meski ada batasan
tertentu.
Jumlah
& sejarah singkat. Yahudi sudah hidup di Iran sejak ±2.500 tahun lalu
(zaman Persia kuno) Dulu jumlahnya besar (±80.000–100.000 sebelum 1979)
Sekarang
tinggal sekitar: 8.000 – 15.000 orang
Iran
merupakan sebuah Negara yang punya komunitas Yahudi terbesar di Timur Tengah di
luar Israel.
Status
hukum (resmi diakui) dalam konstitusi Iran. Yahudi adalah minoritas agama
resmi. Mereka punya hak beribadah di sinagog, sekolah sendiri, hukum agama sendiri
(untuk urusan internal), bahkan mereka punya 1 kursi khusus di parlemen. Mereka
hidup terutama di Teheran, Isfahan dan Shiraz.
Politik
Yahudi di Iran
Iran
memusuhi Israel sebagai Negara tapi tidak secara resmi memusuhi Yahudi sebagai
agama Bahkan pemimpin Iran sering menegaskan bahwa Yahudi Iran tidak sama
dengan Zionisme Israel.
PROVINSI UTAMA
PENGHASIL MINYAK
1.
Khuzestan (Terbesar)
Ini
adalah jantung minyak Iran. Menyumbang sebagian besar produksi minyak Iran
Banyak
ladang minyak besar seperti Kupal oil field dan Shadegan oil field. Kota
penting di dalamnya adalah Ahvaz, bahkan perusahaan minyak terbesar Iran
berpusat di sini
2. Bushehr
Terletak
di pesisir Teluk Persia, banyak ladang minyak & gas lepas pantai, Dekat
dengan jalur ekspor minyak, termasuk wilayah strategis energi Iran.
3. Kohgiluyeh and Boyer-Ahmad
Ada
ladang besar seperti: Gachsaran oil field (salah satu terbesar). Produksi
minyak sudah sejak zaman sebelum revolusi Iran
4. Ilam
Berbatasan
dengan Irak, Memiliki cadangan minyak dan gas penting
5. Hormozgan
Wilayah
selatan dekat Selat Hormuz, Lebih fokus ke distribusi & pelabuhan minyak
6. Pulau Kharg
Tempat
ekspor utama minyak Iran. Sekitar 90% ekspor minyak lewat sini. Ini seperti
“urat nadi” ekonomi Iran
Hubungan Amerika
Dan Iran Sejak Tahun 1979 Sampai Sekarang.
Hubungan
Iran dan Amerika pada awal Revolusi Iran (1979) berubah sangat drastis dari
yang awalnya sangat akrab, menjadi musuh besar dalam waktu singkat.
1. Sebelum revolusi, Iran adalah sekutu
dekat Amerika.
Sebelum
1979, Iran dipimpin oleh Mohammad Reza Shah Pahlavi. Amerika sangat mendukung
Shah berupa bantuan militer, kerja sama ekonomi dan Iran jadi sekutu utama AS
di Timur Tengah.
2. Tahun 1979, Revolusi Iran terjadi Dipimpin
oleh Ruhollah Khomeini
Shah
digulingkan. Iran jadi negara Islam (Republik Islam) Dampaknya: Iran langsung
anti-Barat, terutama Amerika. Amerika dianggap:Penjajah dan pendukung diktator
(Shah)
3. Puncak konflik: Krisis Sandera
(1979–1981)
4
November 1979: mahasiswa Iran menyerbu Kedutaan Besar AS di Teheran
52
diplomat Amerika disandera selama 444 hari. Hal ini terjadi karena AS menerima
Shah ke Amerika untuk berobat. Iran marah karena ingin Shah diadili. Trauma
masa lalu (kudeta 1953). Iran curiga AS mau menjatuhkan pemerintah lagi
4. Dampak langsung hubungan Iran–AS
Setelah
krisis sandera, hubungan diplomatik putus dan Kedua negara tidak punya hubungan
resmi sampai sekarang.
AS
mulai menjatuhkan sanksi ke Iran. Iran menyebut Amerika setan besar.
5. Setelah itu makin memburuk
1980:
Perang Iran–Irak. Amerika mendukung Irak secara tidak langsung dan
Ini
makin memperdalam permusuhan
Hubungan
Iran–Amerika pada masa Barack Obama
Terjadi
hubungan yang lebih “lunak” dibanding sebelumnya, tapi tetap penuh ketegangan. Awal
masa Obama (2009). Obama mencoba pendekatan baru, yaitu dialog, diplomasi dan “mutual
respect” (saling menghormati).
Iran
dipimpin Mahmoud Ahmadinejad yang cukup keras terhadap Barat. Program nuklir
Iran jadi masalah besar. Demonstrasi besar di Iran tahun 2009 juga bikin
hubungan makin rumit
Pada
tahun 2015, ada titik penting berupa Kesepakatan Nuklir. Inilah puncak hubungan
Iran–AS di era Obama: Terjadi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) dengan
Isi kesepakatan:
Iran
setuju : membatasi program nuklir, mengurangi uranium dan menerima inspeksi
internasional. Amerika & sekutu setuju dan mencabut sebagian sanksi ekonomi.
Dampak kesepakatan Setelah JCPOA adalah Hubungan membaik (meski terbatas), Ekonomi
Iran agak membaik, dan Komunikasi diplomatik mulai terbuka.
Tetapi
AS tetap memberi sanksi lain:soal HAM, rudal, dukungan kelompok militant.
Disertasi oleh
Parsi: Hubungan Iran Amerika Dan Israel
“Aliansi
Pengkhianat: Kesepakatan Rahasia Israel, Iran, dan Amerika Serikat”
Parsi bukan sekadar periset akademis, ia adalah
konsultan dalam kebijakan asing mantan Presiden Barack Obama, dan Founder and
Dirrector of Iran American National Council (NIAC), berdasarkan bukunya tentang
lebih dari 130 wawancara pribadi Dengan pejabat politik dan keamanan dari
ketiga belah belah pihak, disamping dokumen diplomatik dan catatan resmi yang
belum blm d publis,
Musuh
Terlihat & Sekutu Tersembunyi:
Parsi melihat bahwa hubungan antara Iran dan Israel
tidak pernah benar-benar bermusuhan, apa adanya media. Ini adalah sebuah relasi
yang didasari pada kewaspadaan dan kepentingan bersama. Pada perang Iran-Irak
pada tahun 1980-an, Israel adalah penyedia terbesar senjata untuk Teheran. Meskipun
pidato iran di publik menjelaskan israel (setan besar). Laporan terpercaya menyebutkan
bahwa 80% senjata yang digunakan oleh Iran dalam perang telah diperoleh dari Israel
dengan berkoordinasi Amerika secara langsung.
Tidak hanya itu, tetapi buku ini menandakan bahwa
Iran berada di awal tahun 80-an, ditawari Israel untuk menggunakan bandara
(khususnya di Tabriz), jika ia memutuskan untuk melancarkan serangan udara di
Irak. Ini mencerminkan sifat dari sebuah hubungan yang praktis, bahkan jika itu
dirangkum oleh permusuhan fenomenal.
Kelompok
minoritas dan kepentingan politik yang sama!
Parsi jelas-jelas mengindikasikan bahwa Iran dan
Israel adalah entitas sekuler dan minoritas dalam struktur budaya dan politik
wilayah dan terlibat dalam satu obsesi :
Memecah struktur tatanan Arab yang sunni yang selalu
menjadi pusat politik Islam dan sipil. Zionisme dan syiah sama-sama menentang warisan
Islam Arab, mereka sama-sama membaca bahwa kemenangan Islam sebagai kesalahan
strategis harus dikoreksi setelah berabad-abad dengan sarana baru.
Dolar,
milisi, sangsi, dan kesepakatan belakang,
Sejatinya musuh kedua entitas ini bukan salah satu
dari mereka, tapi Timur Tengah dengan mayoritas suninya. Ini terlihat jelas
posisi Iran pada perang Irak, Suriah, Lebanon, Dan Yaman, dengan dukungan Israel
Dan Amerika.
Bukan
permusuhan abadi tapi pengkhianatan sementara saja:
Saat Iran melancarkan rudal ke Israel, itu tidak
terlihat dalam lingkaran keputusan sebagai deklarasi perang beneran tetapi
hanya sebagai Surat Negosiasi Kasar.
Inilah yang menjelaskan bahwa konfrontasi antara
Hizbullah dan Israel, misalnya, tidak melebihi batas (serangan sirkumulatif),
dan perjanjian antara kedua belah belah pihak selalu lebih cepat dari kebakaran
rudal. Kapanpun saluran perundingan tersumbat akan segera disalurkan kembali
dan tenang kembali. Posisi mereka bukan teman dan musuh tapi sebagai tiga
serangkai: terlihat tidak akur sementara, tapi jika sudah reda, mereka akan
berbagi kue.
Tujuan
Bersama: Memperbaiki Sejarah Dan Membangun Kembali Wilayah.
Parsi sangat jelas melihat bahwa Iran dan Israel
sedang mencari cara-cara yang berbeda untuk mengoreksi apa yang mereka anggap sebagai
celah sejarah yang terjadi pada abad ke-7, ketika orang Arab keluar dari padang
gurun mereka, lalu mereka menjatuhkan takhta kehancuran Kaisar dan mendirikan
sebuah peradaban baru yang merubah umat manusia untuk hanya menyembah kepada Allah
saja.
Sejarah itu menurut Zionis dan Safawi ini harus
dikoreksi, bukan dengan pedang, tapi dengan memecah belah Negara-negara yang
ada. Memecah belah tentara Arab dan mengubah orang-orang menjadi penakut yang
hanya mencari-cari roti. Merubah dari generasi yang memimpin menjadi generasi
yang lembek dan tidak martabat.
Kesimpulan:
Pemusuhan antara Iran dan Israel tidak nyata, tapi
hanya sampul untuk menutupi kepentingan bersama, yang dioperasikan oleh Amerika
dan dikuasai oleh kedua belah pihak.
Perselisihan antara mereka bukan pada prinsip,
tetapi pada kepentingan. Problemnya bukan menjatuhkan roket disana atau disini,
tapi ketika kompas jatuh dan mereka yang menyangka bahwa apa yang sedang
terjadi adalah peperangan (benar dan salah), padahal nyatanya cuma permainan kepentingan,
bukan antara benar dan salah.
Jangan hanya percaya pada panggung, fakta di
lapangan jelas dari kepulan asap yang ada. Musuh yang mengirim senjata kepada lawannya
di saat perang, lalu dia menentangnya pada konpresnya.
(sumber buku "Sumpah
Pengkhianatan".Mashari Hamoud Al-Amiri
Hubungan
Iran Amerika menurut Parsi:
Bukan
konflik agama tapi konflik kepentingan geopolitik. Bisa berubah (tidak
permanen). Diplomasi adalah kunci utama. Iran dan Amerika itu bukan “musuh bebuyutan”
tapi “lawan politik yang bisa jadi mitra kalau kepentingannya cocok”
MENGAPA AMERIKA
MENYERANG IRAN
Kepentingan geopolitik
Menurut
banyak analisis, Amerika ingin menjaga pengaruh di Timur Tengah. Iran juga ingin
jadi kekuatan besar di kawasan. AS ingin mengontrol stabilitas kawasan &
jalur minyak. Iran ingin mandiri dan berpengaruh. Sama-sama memiliki agenda
politik besar di kawasan itu.
Faktor minyak & energi
Timur
Tengah adalah pusat minyak dunia. Iran punya cadangan minyak besar. Kawasan
Teluk sangat penting untuk ekonomi global. Amerika berkepentingan menjaga
aliran minyak tetap aman mencegah satu negara (Iran) terlalu dominan.
Program nuklir Iran
Amerika
khawatir Iran mengembangkan senjata nuklir.
Keamanan & sekutu Amerika
Amerika
juga bertindak untuk:melindungi sekutunya (misalnya Israel & negara Teluk menghadapi
kelompok yang dianggap ancaman. serangan ditujukan ke fasilitas militer, sistem
rudal dan markas militer Iran.
Balasan konflik sebelumnya
Serangan
sering terjadi sebagai aksi balasan. Pada tahun 2020, AS membunuh Jenderal Iran
Qasem Soleimani. Iran membalas dengan serangan ke pangkalan AS.
Konflik terbaru (2026)
Dalam
konflik terbaru: AS melakukan ribuan serangan ke target militer Iran. Tujuannya
disebut adalah menghancurkan program rudal & nuklir melemahkan kekuatan
militer Iran. Iran melihat ini sebagai agresi dan campur tangan asing.
Mengganggu Ekonomi China
China
terganggu dengan konflik AS-Iran karena risiko stabilitas ekonomi, terutama
terganggunya pasokan energi dari Timur Tengah, yang merupakan komponen vital
bagi pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Perang berpotensi menutup Selat Hormuz, yang
mengancam krisis energi nasional. Selain itu, konflik meningkatkan
ketidakpastian global yang merugikan investasi Belt and Road Initiative (BRI)
China
PROXY
IRAN DAN SYIAH DI DUNIA ARAB
Hizbullah
Hizbullah
adalah sebuah organisasi politik sekaligus militer (sering disebut “kelompok
bersenjata”) yang berbasis di Lebanon. Organisasi Syiah Berdiri di Lebanon.
Mereka mempunyai sayap militer, sayap politik dan jaringan sosial (sekolah,
rumah sakit). Pasukannya terlatih dan sering kali
dianggap lebih kuat dari militer Lebanon sendiri.
Hizbullah
muncul sekitar tahun 1982, saat Israel menginvasi Lebanon. Kelompok Syiah ini ingin
melawan pendudukan. Awalnya Hizbullah punya tujuan melawan Israel, mengakhiri
pengaruh Barat di Lebanon dan Mendirikan sistem berbasis Islam (versi Syiah)
Peran
militer
Hizbullah
dikenal sebagai kekuatan militer kuat di Lebanon. Pernah berperang dengan
Israel pada Perang Lebanon 2006
Peran
politik
Hizbullah
juga ikut dalam pemerintahan Lebanon. Punya kursi di parlemen. Mereka menjadi
salah satu kekuatan politik besar di sana
Hubungan
dengan Iran
Iran
memberi dukungan dana dan pelatihan militer. Karena itu sering disebut sekutu
utama Iran di Timur Tengah. Kelompok
ini menerima pendanaan, pelatihan, dan persenjataan dari Iran, menjadikannya
salah satu sekutu utama Iran di kawasan Timur Tengah.
Gerakan Houtsi
Houthi
adalah Kelompok politik militer di Yaman.
Berbasis pada komunitas Syiah Zaidiyah pada awalnya. Berasal dari wilayah utara
Yemen terutama Saada. Ibu kota Sana’a (sekarang mereka kuasai)
Sejarah
singkat
Didirikan
oleh Hussein Badreddin al-Houthi, Muncul sekitar tahun 1990-an Awalnya adalah gerakan
keagamaan & social Lalu berkembang menjadi gerakan perlawanan terhadap
pemerintah Yaman
Sejak
2014, Houthi merebut ibu kota Sana’a. Menjatuhkan pemerintah resmi. Konflik ini
jadi besar karena melibatkan banyak negara: Houthi didukung Iran (dituduh
memberi dukungan).
Aktivitas
militer : serangan rudal & drone, serangan ke Arab Saudi, gangguan jalur
kapal di Laut Merah
Syiah Iraq
Di
Irak, tidak ada satu kelompok Syiah tunggal yang sepenuhnya mendominasi. Yang
ada adalah beberapa partai/koalisi Syiah besar yang bersama-sama menguasai
politik sejak 2003. Mereka adalah, Partai Dawa (Islamic Dawa Party). Pernah
melahirkan banyak Perdana Menteri Irak. Tokoh pentingnya adalah Nouri al-Maliki
dan Haider al-Abadi.
Berikutnya
adalah Koalisi Fatah, yang kuat secara militer & politik. Mereka adalah dari
kelompok milisi Syiah (PMF) yang dekat dengan Iran.
Gerakan
Sadrist, Salah satu yang paling populer di rakyat dan dipimpin oleh Muqtada
al-Sadr. Mereka sangat Nasionalis dan tidak terlalu pro-Iran. Basis massa besar
di kalangan rakyat miskin.
Syiah Di Suriyah
Kelompok
Syiah di Suriah. Yang paling dominan adalah syiah Alawi (kelompok paling
berkuasa). Sering disebut juga Nusayriyah. Mereka minoritas (sekitar 10–15%
penduduk) tapi menguasai pemerintahan. Tokohnya adalah Bashar al-Assad dan Keluarganya.
Kekuasaan Suriah sangat terkait dengan kelompok ini
Sejak
perang saudara (2011), kelompok Syiah (terutama Alawi) mendukung pemerintah Bashar al-Assad dan dibantu oleh Iran
dan Hizbullah.
HUBUNGAN SYIAH
DAN SUNNAH
Gerakan taqrib
Gerakan
Taqrib adalah salah satu gagasan penting yang sering dikaitkan dengan Iran,
khususnya setelah Revolusi 1979.
Peran Iran dalam Taqrib
Setelah
Revolusi Iran 1979, Iran sangat aktif mendorong konsep ini. Iran bahkan membentuk
lembaga khusus: Majma’ al-Taqrib (Forum Pendekatan Antar Mazhab), Didirikan
tahun 1990 dengan tujuan menyatukan ulama Sunni & Syiah dialog antar mazhab
dan kerja sama dunia Islam.
Bentuk
kegiatan Taqrib :
-
konferensi
ulama internasional
-
dialog
Sunni–Syiah
-
kerja
sama organisasi Islam
-
pendidikan
& dakwah persatuan
Gerakan
ini tidak diterima semua pihak. Ada yang menilai gerakan ini adalah alat
politik Iran dalam menyebarkan pengaruh Syiah.
Taqrib versi Indonesia
Tokoh dan
Lembaga Penggerak:
M. Quraish Shihab: Salah satu tokoh intelektual yang aktif mempromosikan
harmonisasi melalui pemikiran dan karya-karyanya.
Ahlulbait Indonesia (ABI): Salah satu organisasi kemasyarakatan Syiah yang aktif
menyerukan persatuan dan dialog. Banyak program ABI yang mempraktekkan
bagaimana terjadi taqrib antar sunni syiah di seluruh Indonesia. Salah satu
satu contoh faktanya adalah mengadakan mauled bersama antara sunni syiah di
kota Jepara jawa tengah hamper setiap tahun. Mengadakan mauled bersama suuni
syiah di masjid syiah al Mahdi bekasi pada tahun 2014. (Ribuan Warga Bekasi
Rayakan Maulid Nabi Bersama Haddad Alwi, 22 Februari, 2014By Ahlulbait Indonesia)
MUHSIN (Majelis Sunni-Syiah
Indonesia): Forum yang pernah dideklarasikan
untuk menjembatani dialog antar kedua kelompok.
Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah
Indonesia (MUHSIN) dideklarasikan pada 20 Mei 2011 di Jakarta, bertujuan menjalin
dialog dan kegiatan sosial antara penganut Sunni dan Syiah di Indonesia, bukan
mencampurkan ajaran. Deklarasi ini memicu pro-kontra, dengan penolakan dari
sebagian ormas Islam, dan diinisiasi oleh tokoh seperti Jalaluddin
Rakhmat.
Berikut adalah poin-poin penting
mengenai deklarasi MUHSIN:
Waktu & Tempat: Dideklarasikan 20 Mei 2011 di Masjid Akbar Kemayoran,
Jakarta, setelah rencana awal di Masjid Istiqlal batal.
Tujuan: Sebagai wadah silaturahmi, dialog, dan kerja sama sosial,
didorong oleh keinginan membangun ukhuwah Islamiyah.
Tokoh Kunci: Dipelopori oleh Jalaluddin Rakhmat (IJABI) dan didukung
beberapa unsur pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI).
Slogan: Salah satu poin deklarasi adalah "memendam dalam-dalam
warisan perpecahan dan permusuhan di antara kaum mukmin".
Akademisi dan Lembaga Pendidikan: Beberapa seminar internasional sering diadakan oleh
perguruan tinggi Islam (seperti Unisnu) untuk membahas harmoni Sunni-Syiah.
Risalah Amman
Risalah
Amman (Amman Message) adalah sebuah deklarasi penting dalam dunia Islam yang
bertujuan menegaskan persatuan umat dan mengurangi konflik antar mazhab. Dikeluarkan
tahun 2004 Di kota Amman. Yang memprakarsai adalah Raja Abdullah II.
Isi
pokok Risalah Amman :
-
Mengakui
8 mazhab Islam yang sah, termasuk: Sunni (4 mazhab)
Syiah (Ja’fari,
Zaidiyah) dan Ibadi. Artinya semua mazhab ini diakui sebagai bagian dari Islam
-
Larangan
takfir. Tidak boleh mengkafirkan sesama Muslim untuk menghentikan konflik
internal
-
Otoritas
fatwa hanya boleh dikeluarkan oleh ulama yang kompeten. 🌍
Risalah
Amman mendapat dukungan oleh ratusan ulama dari berbagai negara
tokoh
Sunni dan Syiah dan lembaga Islam internasional.
Kemiripan
gerakan taqrib dan Risalah Amman :
1.
sama-sama
ingin persatuan umat Islam
2.
Taqrib
banyak didorong Iran
3.
Risalah
Amman diprakarsai Yordania (lebih netral)
Risalah
Amman didukung ulama dunia namun secara praktik: pengaruhnya tidak luas di
lapangan. “berhasil di tingkat wacana, lemah di implementasi”. Setelah Risalah
Amman (2004), justru muncul konflik besar: Perang di Irak (pasca 2003), Perang
di Suriah, Konflik di Yaman.
Berikut adalah beberapa
perwakilan/tokoh Indonesia terkait Risalah Amman:
- KH. Hasyim Muzadi:
Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) merupakan salah
satu tokoh ulama Indonesia yang terlibat aktif dalam pertemuan-pertemuan
terkait Risalah Amman dan Islam moderat (wasathiyah) di Yordania.
- Din Syamsuddin:
Pernah menghadiri pertemuan terkait sebagai Utusan Khusus Presiden untuk
Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP).
·
Dr.
Tutty Alawiyah, Rektor Universitas Islam Al-Syafi'iyah
·
Rabhan
Abd Al-Wahhab, Dubes RI untuk Yordania
·
Rozy
Munir, Mantan Wakil Ketua PBNU
·
Muhamad
Iqbal Sullam, International Conference of Islamic Scholars, Indonesia
Risalah Amman sendiri adalah
deklarasi internasional yang diterbitkan pada 9 November 2004 oleh Raja
Abdullah II bin Al-Hussein dari Yordania.
Selesai