Tampilkan postingan dengan label Syiah Jawa Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syiah Jawa Timur. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 April 2016

DEMO DAMAI NU MENOLAK SYIAH DI BONDOWOSO ATAS ACARA SYIAH NAS DI BONDOWOSO

KHM. Hasan Abd. Muiz: 34 Pesantren Dan Ormas Tolak Syiah
4 April 2016

Ribuan warga NU dari berbagai pesantren beserta ormas Islam sekabupaten Bondowoso turun ke jalan dalam rangka menolak dan menentang acara syiah berkedok ‘Milad Fatimah’ yang rencananya digelar Ikatan Jamaah Ahlul Bait (IJABI) di kampung Arab Bondowoso pada 5-6 April 2016 besok.
Koordinator aksi yang juga pengasuh pondok pesantren Sayyid Muhammad Bin Alawi Al Maliki Bondowoso, KH. Muhammad Hasan Abdul Muiz menyampaikan bahwa aksi turun ke jalan hari Ahad (3/4) kemarin diikuti oleh ribuan peserta dari 34 pesantren dan ormas Islam.
“Lebih dari 3500 peserta dari 34 pesantren dan ormas Islam, “kata Kiai Hasan saat dihubungi redaksi NUGarisLurus.com, Senin (4/4).
Saat ditanya soal tuntutan utama aksi, Kiai Hasan menegaskan bahwa ribuan massa ini menolak ajaran yang mencaci sahabat, menghalalkan nikah mut’ah, tidak mempercayai keautentikan al Quran, dan sebagainya dari ajaran-ajaran sesat.


“Memakai nama apapun ajaran tersebut Sekaligus menolak acara-acara yang dilakukan oleh mereka, “ungkapnya.
Dalam orasi yang disampaikannya, Kiai Hasan menjelaskan bahwa kaum Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang mayoritas di Bondowoso mempunyai hak agar para shahabat Nabi yang mereka cintai tidak dicaci maki.
“Jika orang tua kita saja dicaci maki kita tidak akan terima, padahal para Shahabat Nabi dan keluarga Nabi lebih kita cintai dari pada Ibu Bapak kita sendiri, “Kata Kiai Hasan.
Kiai Hasan memberikan pesan bahwa, Hari ini masyarakat masih mau mengikuti ulamanya dalam aksi damai. Namun jika acara tetap digelar, Maka jangan salahkan jika ada yang marah karena ingin membela Shahabat Nabi dan Keluarga Nabi dari cacian para penganut sekte syiah.

Beberapa pesantren dan ormas yang tergabung dalam aksi ini diantaranya; as Shofwah niqobah Bondowoso- Situbondo (himpunan alumni Sayyid Muhammad Alawi al Maliki, Makkah), IKSAS (Ikatan Santri dan Alumni Sukorejo) Cab. Bondowoso, IASS (Ikatan Alumni dan Santri Sidogiri) Cab. Bondowoso, IAS (Ikatan Alumni Sarang) Cab. Bondowoso, Tanaszaha (Ikatan Alumni dan Santri Zainul Hasan Genggong) Cab. Bondowoso, Ar Ruhama (Ikatan Alumni Pesantren Sayyid Muhammad al Maliki, Bondowoso), beberapa MWC NU, puluhan pesantren dan ORMAS Islam di Bondowoso. Wallahu Alam

Puisi Kami
Rais Aam PBNU harus bersih-bersih...
Membersihkan PBNU dan jama'ah NU dari para pendukung Syi'ah yang te;ah dinyatakan sesat oleh pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari.

“Jika melihat fatwa Hadratusy Syaikh Hasyim Asyari, beliau sangat mewaspadai Syiah, padahal pada masa itu di Indonesia Syiah belum berkembang. Syiah sendiri baru berkembang di Indonesia sejak terjadinya revolusi Iran tahun 1979″.
KH. Hasyim Asyari telah dengan tegas memfatwakan mazhab Syiah ini sesat dan tidak boleh diikuti, tidak boleh diambil fatwanya serta tidak boleh diambil hujjahnya.
“Ini fatwa yang dikatakan Hadratus Syaikh Hasyim Asyari dalam tulisan-tulisannya dan dalam Qanun Asasi Jam’iyah Nahdlatul Ulama”.
Meskipun belum mengkafirkan, namun NU telah memandang Syi’ah sebagai aliran sesat yang tidal boleh diikuti oleh Nahdliyin.

Ribuan warga NU dari berbagai pesantren beserta ormas Islam sekabupaten Bondowoso turun ke jalan dalam rangka menolak dan menentang acara syiah berkedok ‘Milad Fatimah’ yang rencananya digelar Ikatan Jamaah Ahlul Bait (IJABI) di kampung Arab Bondowoso pada 5-6 April 2016 besok.

Koordinator aksi yang juga pengasuh pondok pesantren Sayyid Muhammad Bin Alawi Al Maliki Bondowoso, KH. Muhammad Hasan Abdul Muiz menyampaikan bahwa aksi turun ke jalan hari Ahad (3/4) kemarin diikuti oleh ribuan peserta dari 34 pesantren dan ormas Islam.

“Lebih dari 3500 peserta dari 34 pesantren dan ormas Islam, “kata Kiai Hasan saat dihubungi redaksi NUGarisLurus.com, Senin (4/4).

Saat ditanya soal tuntutan utama aksi, Kiai Hasan menegaskan bahwa ribuan massa ini menolak ajaran yang mencaci sahabat, menghalalkan nikah mut’ah, tidak mempercayai keautentikan al Quran, dan sebagainya dari ajaran-ajaran sesat.

Ahad pagi, 03 April 2016

    “Subhanallah… Walhamdulillah…Walaa ilaaha illallaah… Wallahu Akbar….. ”

    Wajah langit di kota Bondowoso pagi itu sedang dikunjungi awan yang datang berarakan. Bersamaan dengan beraraknya ribuan santri dan umat Islam yang datang dari seluruh penjuru kota. Dari Tlogosari. Tamanan. Grujugan. Curahdami. Maesan. Tegalampel. Sukosari. Wonosari. Pujer. Dan dari seluruh penjuru dengan berbaju putih, kopyah putih, dan sebagian bersurban.

    Lantunan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir kian bergemuruh seiring kian membludaknya umat Islam di pelataran Masjid Al Muhibbin Tamansari, tempat pelepasan aksi damai kali ini. Arakan awan pun kian mendekat, seakan hendak memayungi para kiai yang datang dengan ketulusan hati. Awan kian menggumpal, tetapi tak setetes pun menurunkan gerimis.

    “Ini luar biasa… Di luar dugaan…!!!” ujar seorang aparat berpakaian preman yang juga ikut berbaur dengan lautan umat pagi itu. Dan memang betul. Konon, di sini nyaris tak pernah terjadi pengerahan massa untuk sebuah aksi sebanyak ini. Terkecuali jika massa diundang pengajian.

    Allahu Akbar….!!! Pekik takbir sesekali terdengar lantang dari pimpinan aksi. Ribuan umat pun merespon lebih lantang dan lebih bergemuruh. Ini adalah buncahan keresahan umat yang sudah lama terpendam. Tak tahu kepada siapa keresahan ini dimuntahkan? Kepada penganut agama Syiah kah, yang kian berulah dalam keminoritasannya? Atau kepada para pimpinan daerah yang seakan kian memberi panggung kepada agama Syiah di Bondowoso? Atau kepada para politisi yang semuanya Sunni, tapi konon telah menjadikan agama Syiah sebagai komoditi politik kepentingan sesaat?

    Ah, saya tak tahu menahu tentang semua itu. Namun setidaknya hari ini menjadi bukti bahwa umat Islam Ahlussunnah Waljamaah resah. Warga Nahdliyyin merasakan kegundahan bersama. Hari ini mereka kompak datang berduyun dari berbagai elemen umat Islam Bondowoso. Mereka terdiri dari:

    – IKSASS, ikatan santri dan alumni Salafiyah Syafiiyah Situbondo. Santri senior dari Kiai Asad Syamsul Arifin Situbondo.
    – IAS, alumni PP Sidogiri Pasuruan, yang diasuh KH Nawawi.
    – TANAZZAHA, ikatan alumni PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo, yang diasuh KH Mutawakkil Alallah.
    – Himpunan Alumni PP Al Anwar Sarang Jawa Tengah yang diasuh KH Maimun Zubeir.
    – Himpunan Alumni AL AZHAR Mesir di Bondowoso.
    – IKAPETE, ikatan alumni Pesantren Tebuireng Jombang di Bondowoso.
    – AR RUHAMA, ikatan santri dan alumni PP Al Maliki Koncer Bondowoso.
    – Hai’ah ASH SHOFWAH dan HAWARIY Bondowoso,
    dan beberapa perhimpunan alumni pesantren lainnya se Bondowoso.

    Komposisi inti dari aksi damai penolakan agama Syiah ini adalah puluhan pondok pesantren NU se Bondowoso yang mengerahkan ratusan santri dan dikawal langsung oleh para Kiai, Habaib, Asatidz, dan pengasuh. Juga tampak beberapa pengurus NU struktural, baik tingkat ranting, MWC, PC yang ikut aksi damai ini sejak awal. Semua begitu antusias, sehingga rela berjalan kaki sepanjang 4 km menuju Monumen Gerbong Maut Alun-Alun Bondowoso.

    Dalam gemuruh takbir dan tahmid itu, Kiai Taufiq sebagai Panglima Aksi lalu memulai orasi pembuka. Kiai muda alumni Pondok Al Anwar Sarang Jawa Tengah ini lalu membacakan etika aksi yang harus ditaati selama long march.

    “Saudara-saudara…. Tasbih yang baru saja kalian terima itu harus dikalungkan di leher kalian selama mengikuti long march. Sebagaimana Kiai Asad yang dikalungkan Tasbih oleh Syaikhona Kholil Bangkalan ketika diperintah menghadap Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari saat merestui pendirian NU. Hari ini, siang ini, kita datang kesini, untuk meneruskan perjuangan para ulama pendiri NU. Kita datang untuk membela dan mempertahankan Aswaja sebagai pilar utama keutuhan NKRI. Allahu Akbar….!!!

    Tolong jaga ketertiban dan sebar kedamaian. Teruslah bertasbih, bertahmid, bertahlil, dan bertakbir sepanjang long march. Agar mulut kita terhindar dari mencaci orang lain. Tunjukkan, bahwa Aswaja cinta damai… Dan jika gugur dalam aksi ini, maka kita gugur dalam keadaan bibir kita sedang bertasbih dan  berdzikir….. Allahu Akbar…!!!” Demikianlah diantara instruksi Kiai Taufiq kepada para peserta aksi.

    Sekitar jam 8.30, peserta long march pun berangkat dari Masjid Al Muhibbin Tamansari. Dilepas dengan Tawassul dan Doa oleh Habib Ahmad bin Hasan Barakwan. Ratusan aparat dari tiga satuan Polres (Bondowoso, Situbondo, Jember) turut mengawal, menjaga, dan mengamankan aksi damai ini.

    Sesekali berhenti di beberapa titik untuk menyampaikan orasi Ke-ASWAJA-an dan ke-NKRI-an oleh beberapa Kiai. Mulai dari KH Makshum Tirmidzi dari PP Darul Ihsan Pejaten, KH Zaini Bajuri Pengasuh PP Nurul Islam dari IKSASS, KH Ali Mudassir Pengasuh PP Al Ghofur Lombok Wonosari dari Alumni Sidogiri.

    Setelah orasi, dilanjut dengan gemuruh Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir. Orasi inti disampaikan di Pelataran Monumen Gerbong Maut Alun-Alun Ki Ronggo Bondowoso oleh beberapa Kiai. Diantaranya yang ada di panggung orasi, KH Moh. Hasan sebagai juru bicara, Kiai Fauzi dari PP Al Maliki, Kiai Imam Haromain dari PP Miftahul Ulum Jebung, KH Saiful Islam QZ dari PP Al Qurtubiy Pujer, Kiai Mudassir dari PP Al Ghafur Wonosari, KH Sinqithiy dari PP Pecalongan Sukosari, Kiai Ruslani dari PP Nurul Burhan Badean, KH Hasan Saifur Rijal dari Bangsal, dan berderet kiai pemangku pesantren se Bondowoso.

    Formasi aksi damai ini terlihat tertib dan damai. Yang tak lazim, dibarisan paling akhir terdapat tim penyisir yang bertugas membersihkan sampah-sampah yang berserakan pasca long march.

    Pihak kepolisian dan TNI tak henti memuji jalannya aksi. Hal ini tampak ketika Bapak Kapolres Dan Bapak Dandim juga berkenan tampil di atas mimbar bersama puluhan kiai. Bahkan menyampaikan apresiasinya di penghujung rangkaian orasi para kiai.

    “Saya sangat berterima kasih kepada para Kiai dan umat Islam yang ikut aksi, karena telah sukses menciptakan aksi yang damai, santun, dan tertib sebagaimana yang kita harapkan bersama.

    Saya berharap pada momen setelah ini, juga bisa berjalan damai seperti ini. Saya siap mendukung. Bahkan jika kendaraan kurang, saya siap membantu untuk mengantar para jamaah kembali ke tempat masing-masing….” ujar Bapak Djajuli, Kapolres Bondowoso yang disambut pekikan Takbir oleh ribuan umat peserta long march.

    Kiai Taufiq, sebagai pimpinan aksi mengakhiri orasinya dengan himbauan kepada seluruh peserta agar langsung kembali ke kendaraan masing-masing dan langsung pulang. Jangan sampai ada yang tersisa dan bertebaran di tempat lain, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

    Seusai aksi, pandangan sekilas menyapu pada Monumen Gerbong Maut, tempat dihelat orasi ini. Simbol kegigihan rakyat Bondowoso di dalam berjuang melawan penjajah. Hari ini, di tempat ini. Ribuan umat Islam dari seluruh penjuru Bondowoso berkumpul, berdzikir, bertakbir, bertasbih, sebagai sebentuk komitmen di dalam menjaga kota tercinta ini dari ancaman aliran sesat, yaitu agama Syiah. Sekte baru yang tidak hanya menjajah akidah umat, tetapi mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Allahu Akbar…!!!

    Subhanallah….
    Walhamdulillah….
    Wa laa ilaaha illallah…
    Wallahu Akbar….

Berikut foto dokumentasi aksi ribuan santri Ahad (3/4) kemarin.















PENOLAKAN SYIAH DI BANGIL JAWA TIMUR

Kronologi Pembubaran Acara Sekte Syiah Bertajuk Wiladah Fatimah di Bangil
Bangil – Ratusan massa umat Islam pada Jumat, (01/04) melakukan aksi demonstrasi membubarkan acara ‘Wiladah Sayyidah Fatimah’ yang digelar oleh sekte Syiah di Bangil, Pasuruan.
Berikut kronologi pembubaran sekte Syiah, sebagaimana disampaikan oleh Ustadz Munir Shokheh, Sekretaris Aswaja Bangil yang dikutip Kiblat.net dari NUgarislurus.com.
1.) Tanggal 26 Maret 2016: Aswaja Bangil menemukan selebaran undangan yang mengatasnamakan Pemudi Ahlul Bait Zainabiyah Bangil dalam acara Wiladah Sayyidah Fatimah Az-Zahra (As). Acara itu bertempat di gedung yang dimiliki oleh salah seorang penganut sekte syiah, yaitu di Graha Diponegoro Jl. Dorang 381 Bendomungal Bangil dengan pembicara Muhammad bin Alwi BSA.
2.) Tanggal 28 Maret 2016: Aswaja Bangil mengirim surat protes kepada Bapak Kapolres Pasuruan. Surat ditandatangani oleh Ketua Umum: KH Nurkholis Mustari dan Sekretaris: Munir Sokheh. Kemudian, disusul dengan pertemuan dengan Kapolres Pasuruan secara langsung dengan dihadiri oleh 4 orang pengurus Aswaja, yaitu: Habib Agil bin Agil, Ust. H Nur Fuadi, Munir Sokheh dan Basyir Hamid.
3.) Kamis,  31 Maret 2016
Pukul 11.00 – 13.00 WIB:
Pertemuan dan audiensi dengan Bapak Kapolres Pasuruan yang dihadiri oleh Ketua MUI Kabupaten Pasuruan dan ketua PCNU Pasuruan serta Aswaja Bangil dan beberapa ormas Islam seperti Majelis Maulid wat Taklim Raudlotul Salaf, Front Pembela Islam (FPI) Pandaan, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis, Dewan Dakwah Islam, Lembaga Dakwah Masjid Arriyad dan lain-lain.
Pukul 22.00 WIB:
Aswaja menerima kabar melalui Kasat Intel tentang hasil rapat Forpimda dan Muspida Kab. Pasuruan yang terdiri dari Bupati, Dandim, Kapolres dan lainnya yang memberitahukan bahwa kegiatan acara syiah di gedung Grahadi Diponogoro telah digagalkan dan dialihkan di tempat yang lain.
4.) Jum’at, 1 April 2016: Aswaja Bangil dan umat Islam dari berbagai komponen ormas Islam berkumpul melaksanakan unjuk rasa berdemo menolak syiah untuk melaksanakan kewajiban amar makruf nahi mungkar dan menuntut membubarkan kegiatan syiah yang telah dialihkan ke tempat lain di rumah seorang syiah yg bernama Abdurrahman Alidrus (Yik Mang) yg bertempat di Kalirejo Bangil.
Dengan  iringan lantunan sholawat badar peserta aksi demo menuntut acara sekte syiah segera dibubarkan. Ratusan aparat kepolisian serta satuan pamong raja mengawal jalannya aksi demonstrasi. Peserta aksi menggelar longmarch dan sempat  berhenti di depan Ponpes YAPI Bangil Putri (milik sekte Syiah, red) untuk menyampaikan orasi.
Longmarch berlanjut hingga menuju Kalirejo dengan pengawalan aparat. Setelah dilakukan negosiasi yang sangat alot dengan aparat keamanan Ketua DPR Kab. Pasuruan dan perwakilan Aswaja serta perwakilan pendemo. Alhamdulillah, acara syiah tersebut akhirnya dibubarkan dengan pengawalan ketat aparat.

Sumber : kiblat.net
Reporter: Bunyanun Marsus
Editor: Fajar Shadiq







Senin, 28 Maret 2016

PETA SYIAH DI JAWA TIMUR

YAYASAN SYIAH DI JAWA TIMUR DAN PENYEBARANNYA

Penyebaran syiah di Jawa Timur, dilihat dari yayasan yang ada, masih relatif sedikit. Hanya berpusat di beberapa titik. Ada data terbaru yang belum masuk yaitu yayasan syiah di Madura.
Yayasan tersebut adalah yayasan yang sudah ada sejak lama. Padahal dalam beberapa tahun terakhir ada dua ormas syiah yang relatif baru dan berkembang syiah di Jawa Timur. Yaitu IJABI dan ABI. Meski sudah difatwakan sesat oleh MUI Jawa Timur, tetapi mereka tidak berhenti menyebarkan ideologi syiah ke masyarakat sunni. Pusat pengkaderan syiah utama untuk tingkatan ma’had ada di Bangil yaitu dengan berdirinya YAPI. Setelah mereka lulus dari YAPI (setingkat SMA) mereka melanjutkan sebagian ke bangku kuliah milik syiah. Ada yang di Depok (STAIMI-Sekolah Tinggi Madinatul Ilmi). Ada yang ke STFI SADRA ( Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra ) Jakarta Selatan. Tidak sedikit yang melanjutkan ke Iran langsung. Ada juga yang melanjutkan ke kuliah umum, dan mereka menjadi kader syiah yang sekalian menyebarkan ajarannya secara bertahap.
YAPI beberapa kali mendapat tekanan masyarakat agar ditutup, tetapi hal itu tidak berhasil karena pemerintah belum sepenuhnya mendukung penutup.

(tim fakta syiah)

1.      Yayasan Al Yasin Jl. Wonokusumo Kulon GG 1/No.2 Surabaya
2.      Yayasan AL Hasyim Jl Menur III/25A Surabaya

3.      YAPI Jl Pandaan Bangil, Kenep Beji, Pasuruan Jatim
4.      Yayasan Attaqi Kedai Hijau, Jl. RA Kartini No.7 Pandaan Pasuruan Jatim
5.      Yayasan Azzhra Sidomulyo II No 38, Bululawang Malang Jawa Timur
6.      Yapisma Jl. Pulusari I/30, Blimbing, Malang Jawa Timur
7.      Yayasan Al Kautsar Jl.Arif Margono 23 A, Malang Jawa Timur

8.      Majlis T’lim Al Alawi Jl Cokroaminoto III/254, Probolinggo Jawa Timur
9.      Yayasan Al Muhibbiin Jl. Kh Hasan No.8, Probolinggo, Jawa Timur
10.  Yayasan Al Qoim Jl Sermah Abdurrahman No 43, Probolinggo Jawa Timur

11.  Yayasan Ja’far Asshodiq Jl KH Asy’ari II/1003/20 Bondowoso Jawa Timur 68217

12.  Yayasan Itrah PO BOX 2112, Jember Jawa Timur
13.  Yayasan Al Mahdi Jl. Jambu No.10, Balung, Jember Jawa Timur 68161
14.  FAJAR - Al-Iffah Jl. Trunojoyo IX / 17 Jember
15.  Yayasan BabIlm Jl. KH. Wahid Hasyim 55 Jember 68137. Jawa – Timur Telpon : 0331-483147 PO. BOX : 232
16.  Yayasan Al Hujjah Jalan Sriwijaya XXX/5 Jember Jawa Timur




Rabu, 28 Januari 2015

NU Jember Gelar Dialog dengan Syiah : TERLALU BANYAK PERBEDAAN ISLAM SUNNI DENGAN SYIAH

faktasyiah.com. Bertempat di Aula Pertemuan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, hari Senin (26/01/2015) digelar “Dialog Terbuka Aswaja NU – Syi’ah”



 













Hadir sebagai pembicara dari pihak Aswaja NU adalah Muhammad Idrus Ramli  (Jember), sedangkan dari pihak Syi’ah Abdullah Uraidhi  (Jakarta) dan Abdillah Ba’abud (Malang).

Dialog Terbuka ini diawali pembukaan dari pembawa acara dilanjut dengan beberapa sambutan.

Dalam paparannya panitia menjelaskan kedua pembicara Abdullah Uraidhi  (Jakarta) dan Abdillah Ba’abud (Malang) yang mewakili Syiah adalah alumni Iran.

Bahkan, Abdullah Uraidhi adalah termasuk ke dalam tim penulis (Tim Ahlul Bait Indonesia/ABI) yang baru saja menerbitkan “Buku Putih Mazhab Syiah” (Menurut Para Ulamanya Yang Muktabar).



 












Dialog terbuka dimulai oleh Abdullah Uraidhi yang menjelaskan mengenai Syiah secara singkat sebagaimana terurai di dalam “Buku Putih Mazhab Syiah (Menurut Para Ulamanya Yang Muktabar)”.

“Menurut ulama Syiah yang muktabar, tidak ada bedanya Syi’ah dengan Sunni,” demikian kata Abdullah Uraidhi.

Sesi kedua diberikan kepada pembicara Syiah yang kedua, yakni Abdillah Ba’abud.

Senada dengan Abdullah Uraidhi, Abdillah Baabud menyatakan bahwa Syi’ah itu bagian dari Sunni.

“Syi’ah bukan hanya menganggap sunni sebagai saudara, melainkan sudah menjadi bagian dari jiwa Syiah, jika Sunni sakit maka Syiah juga sakit, begitu pula sebaliknya,” ungkap Abdillah Baabud menukil pernyataan salah satu ulama Syiah.

Sesi ketiga diberikan kepada Muhammad Idrus Ramli dari ASWAJA Centre. Muhammad Idrus Ramli memberikan koreksi terhadap “Buku Putih Mazhab Syiah (Menurut Para Ulamanya Yang Muktabar)”.

Di antaranya, ia memberikan beberapa argumentasi karena kesannya dua pembicara dari Syiah yang hadir dalam dialog terbuka cenderung menyamakan doktrin keagamaan Syiah dengan Sunni.

“Dialog terbuka ini digelar untuk membahas hal yang berbeda dari Sunni dan Syiah, bukan untuk membahas hal yang sama,” demikian kritik Idrus Ramli.

Setelah itu,  Muhammad Idrus Ramli menguraikan apa yang dinilainya sebagai kesesatan-kesesatan Syi’ah menurut ulama Syiah di dalam berbagai referensi Syiah sendiri, termasuk meyakini tahrif Al-Qur’an, mencaci istri Nabi, mengkafirkan Sahabat, perbedaan rukun iman dan Islam antara Syiah dengan Sunni, perbedaan ibadah Syiah dengan Sunni, persamaan Syiah dengan mu’tazilah, dll.

Untuk menanggapi argumentasi yang dilancarkan Muhammad Idrus Ramli, moderator Dr. Faisal, memberikan waktu kepada dua pembicara Syi’ah.

Saat itu, yang aktif memberikan tanggapan terhadap argumentasi Idrus Ramli adalah Abdillah Baabud.

“Saya heran kepada Ustad Muhammad Idrus Ramli, sepertinya dia lebih memahami mengenai Syiah dari pada kami, padahal argumentasi Ustad Muhammad Idrus Ramli itu tidak lebih dari klaim-klaim belaka. Syiah yang saya pelajari, tidak ada hal-hal seperti yang dituduhkan Ustad Muhammad Idrus Ramli tersebut. Justru kitab-kitab Sunni memenuhi ruang dinding rumah kami,” kilah Abdillah Baabud.

Sementara itu, Abdullah Uraidihi menambahkan, “Yang menjaga Al-Qur’an itu adalah Allah sendiri sebagaimana didalam firmanNya. Kami juga menentang jika ada yang mengatakan Al-Qur’an tidak autentik. Silahkan tanya kepada 400 juta orang penganut Syiah di seluruh dunia, apakah mereka punya Al-Qur’an yang berbeda dengan Al-Qur’an yang ada saat ini?”


Menjawab pernyataan itu, Muhammad Idrus Ramli kembali memberikan tanggapan.

“Dari tadi pemaparan saya itu selalu saya nukil referensi dari kitab Syiah, namun Anda menyatakan hal itu hanyalah klaim belaka. Sekarang saya bawa kitab-kitabnya, dan Anda bisa membacanya sendiri jika tidak percaya. Di rumah kami juga banyak referensi-referensi Syiah, tapi apa berarti kami ikut pemikiran Syiah? Kan tidak!”

“Begitu juga di Syiah, banyak menyimpan referensi Sunni, namun bukan untuk ikut, melainkan sebagai propaganda dan menjiplak ajaran Sunni. Beberapa tahun yang lalu saat saya jalan-jalan ke Inggris, para orientalis pun banyak memajang literatur Sunni, namun bukan untuk mengikutinya.”

Setelah sesi dialog, masing-masing pihak diberi waktu untuk memberikan kesimpulan.

Pihak Syiah yang diwakili oleh Abdillah Baabud memberikan kesimpulan, “Syi’ah itu sama dengan Sunni, perbedaannnya hanya mengenai imamah,” katanya.

Sementara Muhammad Idrus Ramli memberikan kesimpulan  bahwa ada banyak perbedaan mendasar antara Sunni dan Syiah dibanding persamaannya.

“Perbedaan Sunni dengan Syiah terlalu banyak daripada persamaannya, sebab bukan hanya dalam aqidah yang berbeda, dalam bidang ibadah juga sangat berbeda,” ujarnya.”*/ Khofy Kutbhi

sumber : hidayatullah.com

Aswaja NU: Perbedaan Sunni-Syiah Terlalu Banyak
 

Menurut Muhammad Idrus Ramli dari ASWAJA Centre, hasil dialog menunjukkan banyak perbedaan mendasar dibanding persamaannya

Dialog Sunni Syiah yang dilakukan di Aula Pertemuan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember akhirnya tidak mencapai titik temu.

Sebagaimana diketahui, “Dialog Terbuka Aswaja NU – Syi’ah” yang diselenggarakan hari Senin (26/01/2015) dihadiri pembicara dari pihak Aswaja NU adalah Muhammad Idrus Ramli  (Jember), sedangkan dari pihak Syi’ah Abdullah Uraidhi  (Jakarta) dan Abdillah Ba’abud (Malang), keduanya lulusan Iran. [Baca: Aswaja NU Jember Gelar Dialog dengan Syiah]

Menurut Muhammad Idrus Ramli dari ASWAJA Centre, hasil dialog menunjukkan banyak perbedaan mendasar dibanding persamaannya.

“Perbedaan Sunni dengan Syiah terlalu banyak daripada persamaannya, sebab bukan hanya dalam aqidah yang berbeda, dalam bidang ibadah juga sangat berbeda. Orang Syiah yang mengkafirkan sahabat, mencaci istri Rasul, meyakini tahrif Quran, dll,” ujarnya.

sumber : hidayatullah.com
 

Senin, 13 Oktober 2014

AKSI KONTRA SYIAH DI BONDOWOSO OKTOBER 2014


Selamatkan Bondowoso dari Syiah

Ahad pagi dari pukul 07.00-09.00 kaum muslimin yg terhimpun dari JAS, Ikatan Pemuda Dan Santri Bondowoso-Jember serta Lingkar Pemuda Aswaja mengadakan aksi sebar brosur ttg kesesatan Perayaan Idul Ghadir yg akan diadakan di Bondowoso pada Selasa 14 Oktober 2014.


Para relawan tersebar di berbagai penjuru keramaian masyarakat seperti masjid,alun2, lampu merah dan SPBU.


Ternyata aksi ini ditungggu dan disambut baik oleh masyarakat dan Tokoh Ormas Islam di Bondowoso. Selama ini mereka kecolongan dengan perkembangan syiah di kota mereka, dan menunggu keberadaan ormas yg berani beraksi melakukan penolakan terhadap syiah di kota mereka.

Minggu, 28 September 2014

HAUZAH......PUSAT KADERISASI SYIAH MILITAN, KINI EKSIS DI INDONESIA

Banyak pihak yang sudah khawatir dengan pergerakan syiah di Indonesia. Syiah sudah semakin meraja lela menyiapkan kadernya untuk melawan Ahlu Sunnah..........
Akankah Indonesia akan menjadi Yaman selanjutnya.........
inilah fakta bahwa mereka tidak main-main dalam menyiapkan kadernya.......
Apakah Umat Islam masih lama tidurnya?????
Allahu l mustaan :

Gedung asramanya :

Santri-Santrinya :

Diantara Kegiatan Hauzah, :

Belajar di samping makam Tokoh Syiah Indonesia :

lagi ....:

lagi :
Kegiatan rutin mereka tiap sore :



Mereka juga sesekali mengadakan kegiatan di luar. Kali ini mereka mengadakan bedah buku di Salah satu vila di Jawa Timur :



 foto tsb, kami dapat resmi dari sumber mereka yang memang disebar di dunia maya.
semoga bisa menggugah para pejuang sunni utk membendung Ajaran Syiah.
Allahul mustaan.

Senin, 02 Juni 2014

SERI SEKOLAH SYIAH: Profil Singkat YAPI Bangil



YAPI Bangil didirikan pada tanggal 21 Juni 1976 oleh Al-Marhum Ustadz Husein bin Abu Bakar Al-Habsyi. Sebagai lembaga dakwah dan pendidikan, YAPI berkiprah dalam pengelolaan lahan-lahan pendidikan keagamaan yang bertujuan mencetak para santri yang diharapkan mampu menjadi cikal bakal bagi sumber daya manusia masa depan yang tangguh serta mampu menyikapi berbagai masalah secara arif. Untuk itu YAPI  membuka beberapa lembaga pendidikan;
  1. Pesantren Putra membawahi SMP Plus, SMA Plus, Madrasah Diniyah dan Hawzah Ilmiyah (Takhasus). 
  2. Pesantren Putri juga membawahi SMP Plus SMA Plus, Madrasah Diniyah dan Hawzah Ilmiyah (Takhasus).
Demi meraih tujuan-tujuannya, YAPI merasa berkewajiban menyediakan berbagai sarana dan prasarana pendidikan yang dianggap perlu dan sesuai dengan lingkup kegiatannya. Kurikulum dan aktifitas Pesantren di rancang sesuai dengan kebutuhan para santri dalam membina dirinya menjadi pribadi muslim berkeyakinan lurus (benar) dan sadar akan kewajiban-kewajibannya, baik hubungan dengan Tuhan maupun antar sesamanya, serta memiliki kapasitas keilmuan yang memadai terutama ilmu-ilmu keislaman, sebagai dasar pijakan dalam menyikapi problema kehidupan secara proporsional.

Sebagai lembaga pendidikan yang profesional, pada mulanya YAPI  hanya mengacu pada pendidikan keagamaan murni, kemudian melangkah menjadi pendidikan terpadu. Pola pendidikan ini menyajikan program pensantren dan program umum dengan formulasi yang berimbang. Dengan demikian maka para santri akan lebih leluasa untuk menekuni disiplin ilmu yang mereka harapkan dengan tidak merasa khawatir akan kelanjutan pendidikan seusai mereka menyelesaikan studinya di YAPI.
Dengan pertimbangan yang matang dan kajian yang dalam, maka YAPI pada tahun pelajaran 1997-1998 mengadakan perombakan program pendidikan. Yaitu membuka pendidikan Madrasaha Diniyah yang  mengedepankan kurikulum Pesantren, SMP/SMA yang menyajikan kurikulum Dekdikbud dan kurikulum Pesantren.

PESANTREN PUTRA – PUTRA  “AL-MA’HADUL ISLAMI”
Pesantren-Putra  “Al-Ma’hadul Islami”  berada di  desa  Gunung Sari (Kenep) tepatnya antara Bangil -  Pandaan (  +  40 Km  ) dari kota Surabaya. Sebuah desa yang bebas dari kebisingan dan hiruk pikuk  ini, mudah dijangkau baik dari arah kota Pandaan maupun  kota Bangil. Pesantren Putra dengan tempat yang asri ini bisa menampung  + empat ratus lebih santri, sangat edial bagi pencinta ilmu pengetahuan, karena disamping letaknya sangat strategis juga asri sehingga para santri tidak merasa jemu ketika mereka belajar dan menempuh studinya.
Pesantren Putri “Al-Ma’hadul Islami” berada di kota Bangil, persisnya berada di arah utara alun-alun kota Bangil. Keberadaannya yang stategis ini sangat memudahkan untuk dijangkau dari segala arah. Meskipun letaknya berada di jantung kota, namun sangat menyenangkan untuk belajar, karena tata letaknya yang asri juga di kelilingi tembok pengaman, sehingga para santriwati bisa belajar dengan tenang dan aman.
Sekolah Pertama Pertama dan  Sekolah Menengah Atas 
Dalam lembaga ini peserta didik dibekali dengan ilmu-ilmu keagamaan dan umum. Jumlah jam pelajaran yang diberlakukan di sekolah  dari pukul 07.00 sampai pukul 09.15 untuk pelajaran Agama, dan 09.30 sampai dengan 15.00 untuk pelajaran umum. Dengan mengkombinasikan pelajaran umum dan agama, diharapkan anak akan mampu memiliki wawasan  umum dan Agama yang memadai.
Materi-materi keagamaan yang dipelajari di SMP/SMA “Al-Ma’hadul Islami”  meliputi; Al-Quran, Bhs. Arab, Nahwu/ Shorof, Aqidah, Fiqih, Tafsir, Sirah/ sejarah, Mantiq/ logika dll. Sedangkan materi-materi umum, mengikuti korikulum MENDIKNAS (Fisika, Kimia, Biologi-IPA, Antropologi, Sosiologi, Geografi, Ekonomi untuk IPS, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dll).
MADRASAH DINIYAH
Program-program Madrasah Diniah
Program diniah, yaitu program pendidikan yang diperuntukan bagi para siswa-siswa yang juga aktif belajar pendidikan umum. Disamping pelajaran-pelajaran umum, para siswa-siswi SMP dan SMA Al-Maha'dul Islami juga diberikan bekal materi-materi agama. Program ini terdiri dari tiga tingkatan, yaitu tingkat Mutawasit, tingkat Tsanawi, dan Tamhidi yang masing-masing ditempuh selama enam semester atau tiga tahun pelajaran.
a. Mutawasit
Tingkat Mutawasit diperuntukan bagi siswa yang baru lulus dari SD dan belum memiliki dasar-dasar keagamaan dan bahasa Arab. Dalam kurikulum keagamaan dan bahasa Arab, tingkat Mutawasit al-Ma'hadul al-islami jelas lebih tinggi dari tingkat Tsanawiyah, bahkan setara dengan Aliyah di sekolah-sekolah lain. Di tingkat ini, para siswa diberikan materi bahasa arab dasar dari semester pertama sampai semester akhir (semester enam). Para siswa diajarkan sedemikian rupa agar mampu menguasai bahasa, baik secara pasif maupun aktif. 
b. Tsanawi
Setelah lulus dari Mutawasit, siswa dapat mengikuti pelajaran di tingkat Tsanawi secara lebih mendalam lagi sebagai kelanjutan dari materi agama yang sudah diperoleh di tingkat sebelumnya. Di tingkat Tsanawi, materi bahasa arab dan keagamaan semakin diperdalam lagi.  Bagi alumnus Tsanawi yang ingin melanjutkan pendidikan di sekolah tinggi, ilmu agama yang sudah didapatkan juga sangat bermanfaat sebagai dasar pembentukan kepribadian yang religius sekaligus mengerti bidang keilmuan lain.
c. Tamhidi
Untuk siswa baru yang masuk sekolah SMA Al-Ma'hadul Islami yang tidak pernah mengikuti pendidikan Mutawasit Al-Ma'hadul Islami, Madrasah Diniah menyiapkan program pendidikan yang lebih padat, yang disebut dengan kelas Tamhidi. Kelas Tamhidi dikhususkan bagi lulusan SMP luar yang belum memiliki atau minim pengatehuan keagamaannya. Dengan program Tamhidi ini, mereka diusahakan dapat menguasai bahasa Arab dan materi-materi agama semaksimal mungkin agar setelah lulus memiliki wawasan keagamaan, penguasaan bahasa Arab sebagai alat untuk mendalami agama lebih lanjut.

Program Hauzah
Lembaga ini dikhususkan bagi santri ( putra-putri) yang hanya ingin mendalami materi-materi Agama secara lebih khusus dan mendalam sebagai bidang spesialisasinya. Program spesialisasi ini sendiri diperuntukkan bagi santri yang tidak bergabung di program umum SMP/SMA.
Pendidikan Hawzah ini memberikan peluang kepada siswa yang berminat mengembangkan wawasan keislaman dengan metode komparatif dan kritis secara lebih mendalam.
Sistem pembelajaran di Hawzah menitik beratkan pada pendalaman materi-materi keislaman melalui pengkajian kitab-kitab yang refresentatif. Setiap hari siswa akan mulai dimulai dari jam 07.00 sd 13.00. 
Disamping materi pokok ada materi tambahan yang disampaikan di hari kamis dan malam hari. Di sore hari siswa diharuskan mengikuti program mubahasah/diskusi. Setiap siswa diwajibkan menyelesaikan studinya di Hawzah selama 4 tahun yang dibagi dalam 8 semester dengan program studi.

Program Ekstra Kurikuler Pesantren Putra
Disamping program-program Ektra yang diadakan oleh Sekolah, Pesantren juga mengadakan berbagai program Ekstrakulikuler. Program ini dibimbing langsung oleh Para Ustadz dan Guru yang mumpuni dibidangnya dan dilaksanakan diluar jam pelajaran formal. Program Ekstrakulikuler tersebut meliputi:
  1. Kajian Intensif Ilmu-ilmu Al-Quran
  2. Pelatihan Intensif Fiqih Peribadatan
  3. Khotbah Bhs. Indonesia, Bhs. Arab dan Bhs. Inggris
  4. Hadrah dan Kaligrafi
  5. Qiro’ah
  6. Beladiri
  7. Pelatihan Dakwah  
  8. Olah raga; Futsal, Basket, Bulu Tangkis.
  9. Dan lain-lain
Aktifitas Santri Putra Ba'da Maghrib
 Sabtu   :   Membaca Yasin & Muhadharah Ilmiah
Ahad    :   Membaca Yasin &Maulid Habsyi/ Diba’
Senin   :   Membaca Yasin &Tarqiyah Arabiyah
Selasa  :  Membaca Yasin & Tawasul
Rabu   :  Membaca Yasin & Ratib Hadad & Tahlil
Kamis  :  Membaca Yasin & Kumail
Jum’at :   Membaca Yasin & Qosidah/ Seni Hadrah
 Catatan: 
- 15 menit sebelum melaksanakan sholat Maqrib, para santri membaca Al-Qur’an bersama- sama di masjid
- Setiap hari Jum’at seusai sholat shubuh , para santri bersama-sama mengadakan Mushafahah   dan membaca Al-Quran, kemudian berziarah ke makam Al-Marhum Ust. Husein  bin Abu Bakar Al-Habsyi.
 Asrama Putra
Keasramaan yang termasuk bagian yang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Pesantren Putra, merupakan tempat bermukimnya para santri. Asrama yang terdiri dari kamar-kamar  dan dilengkapi dengan  tempat tidur pada hakekatnya membawa kenyamanan dan keamanan  tersendiri bagi santri yang jauh dari orang tua. Asrama merupakan sarana yang penting untuk membina dan mendidik para  santri, oleh sebab itu Pesantren menugaskan pengurus khusus guna menangani keasramaan.
Di samping itu, Pesantren juga telah menugaskan dua guru pembimbing yang dikhususkan menangani dan mengawasi  setiap blok kamar. Mereka bertanggung jawab terhadap aktfitas belajar para santri di Asrama,.
Pengurus Asrama akan menangani  berbagai hal yang berhubungan dengan keperluan para santri; mulai dari kesehatan, makan-minum, sholat berjamaah, sampai bangun dan tidurnya  santri. Pengurus keasramaan  bertanggung jawab atas kesejahteraan setiap santri  selama berada di Asrama. Kemudian dalam melaksanakan tugas-tugas keasramaan ini,  Kepala Asrama di bantu oleh para anggota ISMI.
 Asrama Putri
Asrama merupakan tempat yang paling penting  guna membina dan mendidik para santriwati dan tempat bermukimnya selama mereka belajar di Pesantren. Untuk itu Pesantren memberikan perhatian tersendiri dengan selalu mengupayakan untuk melengkapi segala sarana dan prasarananya demi kenyamanan  santriwati yang tengah menuntut ilmu.  Demi tujuan tersebut juga Pesantren menugaskan Pengurus Khusus yang menangani Keasramaan.
Pengurus Asrama mempunyai wewenang dalam menangani berbagai hal yang berhubungan langusng dengan kepentingan para santriwati seperti; kesehatan, makan, minum, sholat berjamaah, Ekstrakulikuler bahkan bangun dan tidurnya para santri. Pengurus Asrama bertanggung jawab atas kenyamanan dan kesejahteraan para santriwati selama mereka berada di Asrama. Dan untuk hal tesebut di asrama telah disediakan beberapa kamar dengan ranjang, kasur dan bantal, disamping dilengkapi pula dengan berbagai sarana seperti ruang makan, kamar mandi yang memadai dan tidak jauh dari kamar mereka. Setiap 10 santri dibimbing dan diawasi oleh seorang guru khusus yang bertugas membimbing mereka baik dalam belajar maupun dalam aktifitas lainnya.
Selanjutnya Pengurus Asrama menjalankan berbagai tugas keasramaan dibantu oleh ISPI (Ikatan Santri Putri YAPI). ISPI merupakan sebuah organisasi kesiswaan yang berada di bawah kendali Pengurus Asrama dan mempunyai wewenang untuk mengkoodinir aktfitas santri di luar jam pelajaran, sedangkan para anggotanya terdiri dari para santriwati senior.

Program Ekstrakurikuler Pesantren Putri
Guna meningkatkan kemampuan santriwati, Pesantren Putri mengadakan berbagai program-program Ekstrakulikuler. Program ini dibimbing langsung oleh bagian Keasramaan yang meliputi:


  1. Kajian Intensif Ilmu-ilmu Al-Quran
  2. Pelatihan Intensif Fiqih Peribadatan
  3. Khotbah Bhs. Indonesia dan Bhs. Arab 
  4. Qiro’ah
  5. Pelatihan Dakwah
  6. Tata Boga
  7. Menjahit
  8. Dan lain-lain
Sumber : situs resmi YAPI bangil.