Tampilkan postingan dengan label Ulama Indonesia Anti Syiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama Indonesia Anti Syiah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juni 2026

SYI'AH DULU DAN KINI, TINJAUAN AKIDAH DAN POLITIK


 

Syiah merupakan salah satu fenomena yang memiliki dimensi sejarah, akidah, dan politik yang saling berkaitan sejak masa awal Islam hingga era kontemporer. Perkembangannya yang panjang telah melahirkan berbagai perubahan, dinamika, serta pengaruh yang terus menjadi bagian dari perbincangan dunia Islam hingga hari ini.

 

Melalui kajian ini, peserta diajak untuk menelaah perjalanan Syiah dari masa ke masa, memahami pokok-pokok pemikirannya, serta mengkaji perkembangan dan pengaruhnya dalam ranah akidah dan politik secara lebih komprehensif berdasarkan perspektif Ahlus Sunnah.

 

Simak pembahasannya bersama:

 

Ustadz Farid Okbah

 

🗓️ Selasa, 2 Juni 2026

🕗 Pukul 20.00 WIB – selesai

💻 Live via ZOOM:

Terbuka untuk umum. Ikuti terus rangkaian Kajian MANIKAM sebagai upaya pendalaman akidah dan pemikiran Islam secara ilmiah dan bertanggung jawab.

 

🌐 ihkam.net | akidah.net

▶️ IHKAM TV | ▶️ Bisa Apa Podcast | 🕌 Pusat Kajian Akidah IHKAM

Selasa, 10 Mei 2016

DAURAH NASIONAL BAGAIMANA MENGHADAPI DAI SYIAH 4-6 MEI 2016

LIPUTAN MEDIA ISLAM TENTANG DAURAH :
DDII Gelar Daurah Menangkal Penyebaran Syiah
Rabu, 4 Mei 2016 - 14:11 WIB
"Melalui daurah ini kalian melakukan kaderisasi untuk mengantisipasi gerakan Syiah di daerah-daerah. Sehingga gerak Syiah di daerah bisa terbatasi.”
Hidayatullah.com– Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) melalui Majelis Fatwa dan Pusat Kajian DDII mengadakandaurah syar’iyyah bersama Syaikh ‘Ali ‘Ammary, Rabu- Jumat (04-06/05/2016) di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta Timur.
Daurah yang bertema “Naqdhu Al-‘Aqa’id Asy-Syi’ah Al-Imamiyah(Menangkal Aqidah Syi’ah Imamiyah)” ini dibuka oleh Dr. Jeje Zaenuddin, MA selaku ketua panitia.
Turut hadir sebagai tamu undangan, Ahmad Farid Okbah selaku Pimpinan Ma’had Al-Islam Bekasi, dan beberapa undangan dari DDII.
Dalam sambutannya, Farid Okbah mengungkapkan bahwa Syaikh ‘Ali ‘Ammary bukan hanya pakar tentang Syiah secara ilmiyah, namun juga lapangan.
Farid juga menegaskan bahwa dalam melawan Syiah perlu upaya-upaya melalui politik ataupun hukum.
“Kita harus mengupayakan usaha-usaha untuk melawan mereka, upaya politik harus dijalankan, upaya hukum juga harus berjalan,” ujarnya.
Di akhir sambutan, Farid berharap agar peserta daurah mampu melakukan antisipasi penyebaran syiar Syiah.
“Melalui daurah ini kalian melakukan kaderisasi untuk mengantisipasi gerakan Syiah di daerah-daerah. Sehingga gerak Syiah di daerah bisa terbatasi,” katanya.
Hadir pula Amlir Syaifa Yassin selaku Wakil Ketua Umum DDII. Acara dihadiri oleh 120 lebih utusan dari berbagai lembaga yang diundang.*/ Kiriman Ali Muhtadin
Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur









Ini Alasannya Kenapa Setiap Muslim Harus Paham soal Syiah
Rabu, 4 Mei 2016 - 20:49 WIB
Di antara tujuan mempelajari Syiah, menurut Syeikh Ali al-Ammari adalah mengenal keburukan Syiah serta menjauhinya, dan bukan untuk mengikutinya.
Hidayatullah.com– Kenapa mesti bicara tentang syiah? Pertanyaan itu mengemuka dalam kegiatan daurah “Menangkal Aqidah Syiah Imamiyah” yang digelar di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta, Rabu (04/05/2016).
Di hadapan 200-an peserta, Syaikh Ali bin Abdullah al-Ammari, pemateri daurah, menjelaskan persoalan tersebut.
Menurut pakar Syiah asal Riyadh, Arab Saudi ini, ada beberapa alasan mengapa persoalan Syiah penting untuk diketahui oleh setiap Muslim, khususnya para juru dakwah.
Pertama, kata Ali al-Ammari, karena pengikut Syiah begitu aktif mengajak kepada kesesatan Syiah dan target utama mereka merusak aqidah ahlu sunnah.
Terlebih Syiah punya kebiasaan taqiyyah (kebolehan berdusta) dan mengaku sebagai bagian dari agama Islam, sedang ia bukan bagian dari Islam.
“Doktrin Syiah itu menganggap Sunni sebagai asyaddu kufran (paling kufur) dan berhak mendapat laknat,” papar Ali al-Ammari.
“Makanya Yahudi dan lainnya itu tidak dilaknat oleh Syiah, cuma ahlu sunnah saja,” imbuh kembali.
Di antara tujuan mempelajari Syiah, lanjut Syeikh Ali, adalah mengenal keburukan Syiah, dan bukan untuk mengikutinya.
“Kenali keburukan Syiah untuk menjauhi keburukan dan kesesatan itu,” ucapnya.
Masih menurut Ali al-Ammari, jika tidak mengenal aqidah Syiah, seorang Muslim dikhawatirkan tak bisa menolak ajaran Syiah.
“Jangan sampai dia tidak mampu menjaga keluarganya apalagi untuk membentengi saudaranya sesama umat Islam,” ucap Ali al-Ammari.
Disebutkan, seorang Muslim wajib membentengi dari virus Syiah sebab mereka yang datang dengan cinta kepada ahlul bait (keluarga Nabi).
“Syiah itu pasti dusta jika mengaku cinta kepada ahlul bait. Apakah sampai harus mengkafirkan (Sahabat) Abu Bakar dan Umar untuk menyatakan cinta tersebut?” ujar Ali al-Ammari menolak pengakuan itu.*
Rep: Masykur Abu Jaulah
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Farid Okbah: Hadapi Syiah, Muslimin Dunia Harus Bersatu
Kamis, 5 Mei 2016 - 08:00 WIB
Dalam menangkal Syiah, hal penting lainnya, menurut Farid adalah melakukan lobi ke pemerintah dan menjalin dukungan dengan dunia internasional.
Hidayatullah.com– Menghadang dakwah Syiah butuh kebersamaan dan persatuan umat Islam. Bukan sebaliknya, berpecah belah sesama ahlu sunnah.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh peneliti aliran Syiah, Farid Ahmad Okbah, di sela acara Daurah Syar’iyah tentang Syiah di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta, Rabu (04/05/2016).
Di hadapan 200-an peserta daurah, Farid mengajak seluruh umat Islam untuk bersatu. Sebab yang dihadapi adalah makar licik yang didukung oleh konspirasi internasional.
“Syiah itu dibiayai dan di-backup terang-terangan oleh Iran. Sekarang siapa donatur khusus Sunni?” tanya Farid yang juga seorang pendiri Majelis Intelektual dan Ulama Muda  Indonesia Pusat.
Menurut Farid, ke depan umat Islam butuh lebih dari sekadar daurah tiga atau lima hari saja. Sebab persoalan ini harus didalami, dianalisis, dan didakwahkan secara profesional.
“Umat Islam perlu pendidikan khusus yang mencetak kader anti Syiah. Belajarnya intensif satu hingga dua tahun, misalnya,” ungkap Pembina Pesantren al-Islam, Bekasi ini. [Baca: Ini Alasannya Kenapa Setiap Muslim Harus Paham soal Syiah]
Disebutkan Farid, layaknya kelelawar, Syiah itu bergerak di waktu malam. Kerjanya tidak kelihatan, tapi hasilnya rapi dan sistematis.
“Dakwah mereka pakai strategi, ada studi kelayakan sebelum berbuat,” terang Farid lagi. “Dakwah Sunni juga harus begitu, siapkan kader-kader yang ahli tentang kesesatan Syiah,” ujar Farid.
Dalam menangkal Syiah, hal penting lainnya, menurut Farid adalah melakukan lobi ke pemerintah dan menjalin dukungan dengan dunia internasional.
“Harus ada yang bisa menjalin lobi ke pemerintah dan sinergi dengan negara Islam lainnya,” tutup Farid Okbah.
Diketahui, bekerjasama dengan Syabakah Difa’ an as-Sunnah, Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) mengadakan daurah bertajuk “Naqdhu ‘Aqa’id as-Syi’ah al-Imamiyah”(Bantahan Terhadap Akidah-Akidah Syiah Imamiyah).
Tampil sebagai pemateri tunggal, Syeikh Ali bin Abdullah al-Ammar, dai internasional yang dikenal dengan kepakarannya tentang sekte sesat Syiah. [Baca: DDII Gelar Daurah Menangkal Penyebaran Syiah]*
Rep: Masykur Abu Jaulah
Editor: Muhammad Abdus Syakur
Tips Menghadapi Pendukung Syiah ala Ali al-Ammari
Jum'at, 6 Mei 2016 - 13:38 WIB
Salah satu persoalan yang tak bisa dijawab oleh Syiah adalah tentang penyerahan kepemimpinan dari Hasan bin Ali bin Abi Thalib kepada Sahabat Muawiyah bin Abi Sufyan.
Hidayatullah.com– Berbekal pengalaman bertahun-tahun di dunia dakwah internasional, peneliti dan pegiat dakwah anti Syiah, Syaikh Ali Abdullah al-Ammari berbagi tips menghadapi pendukung aliran menyimpang tersebut.
“Kenali keburukan Syiah untuk melemahkan klaim sesat mereka,” ucap Ali al-Ammari memberi motivasi pada acaraDaurah Syar’iyah tentang Syiah di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta, Kamis (05/05/2016).
Menurut Ali al-Ammari, salah satu persoalan yang tidak bisa dijawab oleh Syiah adalah tentang penyerahan kepemimpinan dari Hasan bin Ali bin Abi Thalib kepada Sahabat Muawiyah bin Abi Sufyan.
Sebabnya, kata Ali al-Ammari, hal itu jelas bertentangan dengan doktrin Syiah yang selama ini mengkafirkan sebagian sahabat Nabi, termasuk Muawiyah bin Abi Sufyan.
“Tanyakan ke pendukung Syiah masalah itu, minta penjelasan mereka,” sebut Ali al-Ammari menantang. [Baca: Farid Okbah: Hadapi Syiah, Muslimin Dunia Harus Bersatu]
Disebutkan, peristiwa tersebut dengan sendirinya menggugurkan klaim Syiah selama ini. Sebabnya terjadi kontradiksi yang bertentangan dalam kisah itu.
Jika Sahabat Hasan, kata dia, keliru dalam penyerahan kepemimpinan, berarti itu membatalkan kemakshuman Hasan, seperti keyakinan pengikut Syiah.
“Selanjutnya kalau Hasan benar, lalu kenapa kepemimpinan (wilayah) itu diberikan kepada Muawiyah?” tanya Ali al-Ammari heran.
“Bukankah Muawiyah termasuk sahabat yang getol dikafirkan oleh mereka?” tambah dai yang juga produktif menulis buku-buku sesat Syiah tersebut. [Baca: Ini Alasannya Kenapa Setiap Muslim Harus Paham soal Syiah]
Hal ini aku Ali al-Ammari sudah berkali-kali ditanyakan dalam dialog dengan penyokong Syiah.
“Kalian tidak pernah dapat jawaban yang benar. Mereka bahkan bisa marah kepada kalian,” tutup Ali al-Ammari kepada 200-an peserta daurah.
Diketahui, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) mengadakan daurah khusus yang membahas tentang aliran Syiah. Acara berlangsung selama tiga hari (4-6 Mei 2016) dengan tema “Naqd Aqaid Syiah Imamiyah (Bantahan Terhadap Aqidah Syiah Imamiyah)”.*
Rep: Masykur Abu Jaulah
Editor: Muhammad Abdus Syakur
Pakar: Zaidiyah Bukan Dekat dengan Sunni, tapi Syiah Paling Ringan
Sabtu, 7 Mei 2016 - 04:41 WIB
Menurut Syaikh Ali al-Ammari, Syiah saat ini terdiri dari lima kelompok besar; Ismailiyah, Zaidiyah, Nushairiyah, Duruz, dan Imamiyah Itsna Asyar.

Hidayatullah.com– Ada yang keliru dengan pemahaman umat Islam tentang ideologi Syiah. Terutama menyangkut beberapa kelompok dalam aliran menyimpang tersebut.
Hal itu dijelaskan Syaikh Ali Abdullah al-Ammari, dai internasional dan pakar aliran Syiah dalam kegiatan daurah dai bertajuk “Naqd Aqaid as-Syiah al-Imamiyah (Membantah Aqidah-aqidah Syiah Imamiyah)” di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta, Kamis (05/05/2016).
Disebutkan Ali al-Ammari, umat Islam keliru jika mengatakan bahwa kelompok Syiah Zaidiyah itu dekat dengan ahlu sunnah (qariban min Sunni).
“Yang benar itu Zaidiyah adalah aliran paling ringan dalam Syiah (akhaffu firqatan fis Syi’ah),” papar Ali al-Ammari di hadapan 200-an peserta daurah.
Sebab, jelasnya, Syiah itu bukan Islam dan Sunni tidak ada hubungan dengan Syiah. Lebih jauh, ia juga menerangkan kaidah utama dalam memahami Syiah Rafidhah. [Baca: Farid Okbah: Hadapi Syiah, Muslimin Dunia Harus Bersatu]
“Singkatnya, siapa saja yang menolak kepemimpinan Sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khaththab serta melaknat keduanya, maka ia adalah Rafidhah, apapun namanya,” ucap peneliti yang dikenal sebagai penulis buku-buku tentang penyimpangan Syiah ini.
Disebutkan, dari Syiah Zaidiyah kini lahir kelompok Syiah Jarudiyah yang menjadi keyakinan Syiah Houtsi di Yaman.
“Semua itu adalah Syiah Rafidhah,” tegas Ali al-Ammari kembali.
Menurutnya, Syiah saat ini terdiri dari lima kelompok besar; Ismailiyah, Zaidiyah, Nushairiyah, Duruz, dan Imamiyah Itsna Asyar. [Baca: Ini Alasannya Kenapa Setiap Muslim Harus Paham soal Syiah]
Uniknya, masih menurut Ali, sesama Syiah juga saling mengafirkan dan mencela di antara mereka.
Syiah Imamiyah, misalnya. Mereka disebut mengafirkan semua kelompok Syiah lainnya, selama ia mengingkari satu imam di antara dua belas imam Syiah.
Selama menerangkan materi, Ali al-Ammari banyak menggunakan rujukan dari kitab induk Syiah. Seperti kitab al-Kafi karya Kulaini, Man La Yahdhuru al-Faqih, al-Istibshar, dan Tahdzib al-Ahkam.
Kedua kitab terakhir dikarang oleh at-Tusi, ulama terkenal di kalangan Syiah.
“Membantah aqidah Syiah harus dengan rujukan induk mereka pula. Sebab mereka menolak jika menggunakan rujukan kitab Sunni,” tegas Ali al-Ammari menutup. [Baca: Tips Menghadapi Pendukung Syiah ala Ali al-Ammari]*
Rep: Masykur Abu Jaulah
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Ali Al-Ammari Ingatkan Muslimin Soal Senjata Syiah
Ahad, 8 Mei 2016 - 14:22 WIB
Demi tujuan Syiah, para imam Syiah disebutnya tak segan mengobok-obok isi al-Qur'an dan Hadits Nabi sekehendak mau mereka.
Hidayatullah.com– Selain taqiyyah (kebolehan berdusta), senjata utama Syiah dalam menyebar ideologinya adalah menyusupkan syubhat (kerancuan) dalam ajaran agama.
Demi tujuan itu, tak segan para imam Syiah berani mengobok-obok isi al-Qur’an dan Hadits Nabi sekehendak mau mereka.
Hal tersebut diingatkan kepada para juru dakwah yang mengikuti daurah “Naqd Aqaid as-Syiah al-Imamiyah(Membantah Aqidah-aqidah Syiah Imamiyah)” di Hotel Balairung, Jakarta, belum lama ini.
Namun, kata Syaikh Ali Abdullah al-Ammari, pemateri dalam kegiatan tersebut, seringkali perkara itu diingkari oleh pengikut Syiah dengan berbagai macam alasan.
Salah satunya mereka berdalih bahwa jika isi al-Qur’an itu diubah oleh para ulama dan imam Syiah, maka itu berarti umat Islam sendiri tidak meyakini ayat yang menyatakan bahwa Allah menjamin al-Qur’an akan terjaga hingga hari Kiamat.
“Kalau ahlu sunnah menuduh Syiah suka mengubah ayat-ayat, berarti kalian sendiri tidak yakin dengan isi al-Qur’an?” demikian dalih Syiah seperti ditiru oleh Ali al-Ammari.
Menurut peneliti dan pegiat anti Syiah tersebut, yang pertama harus dipahami adalah mengapa Syiah mengubah sebagian al-Qur’an dan meriwayatkan hadits-hadits yang berbeda dengan dalil ahlu sunnah.
Karena, jelas Ali al-Ammari, “Syiah itu belum menemukan dalam al-Qur’an apa yang menjadi keyakinan mereka, makanya harus diubah.”
Tips Hadapi Syiah
Kepada 200 peserta daurah, pembina lembaga Jaringan Pembela Sunnah (Syabakah Difa’ ‘an as-Sunnah) ini lalu berbagi tips dan pengalaman dakwah dalam menghadapi Syiah.
Umumnya, jelas Ali al-Ammari, seseorang itu dihukumi sesuai dengan pegangan keyakinannya. Jika Muslim itu dihukumi dengan al-Qur’an dan Hadits Nabi, maka aliran Syiah dihukumi sesuai kitab-kitab rujukan mereka sendiri juga.
“Ternyata itu diakui dalam rujukan utama Syiah. Termasuk di kitab induk al-Kafi karya al-Kulaini itu,” ungkap Ali al-Ammari.
Meski begitu, lanjutnya, masih saja sebagian pengikut Syiah menolak klaim tersebut. Mereka mengaku hal itu hanya terdapat dalam kitab saja, berbeda dengan realitasnya.
“Kalau seperti itu, tanyakan ke mereka, bukankah imam kalian makshum (terjaga dari salah)? Bukankah seluruh perkataan mereka (para imam Syiah) tidak bisa ditolak?” tanya Ali al-Ammari dengan nada heran.
“Lalu siapa rujukan kalian (pengikut Syiah. Red) kalau begitu? Sebab (dalam) doktrin Syiah itu, riwayat dari imam makshum tidak bisa ditolak apalagi diingkari,” terangnya.
Untuk diketahui, dalam acara daurah tentang Syiah tersebut, Ali al-Ammari banyak menukil perkataan-perkataan para ulama Syiah dari rujukan induk mereka. Sesekali peserta daurah juga diperlihatkan video-video terbaru ceramah pengakuan dan doktrin para imam Syiah.*
Rep: Masykur Abu Jaulah
Editor: Muhammad Abdus Syakur




Selasa, 02 Juli 2013

Mahendradatta membela Joserizal tanpa tahu apa itu Syiah

Pada diskusi terbuka bertajuk “Kenapa Suriah” di auditorium Arrahim Universitas Yarsi Rabu (26/6/2013), Mahendradatta berbicara dengan nada tinggi di hadapan ratusan hadirin mengenai dukungannya kepada Joserizal.
Moderator acara ketika itu Zulfatan Faizin mempersilahkan kepadanya untuk menyampaikan closing stetement .
Seusai mengucapkan salam kepada hadirin, Mahendradatta berbicara, “Nama saya Mahendradatta ketua dewan pembina Tim Pengacara Muslim, sahabat saya Joserizal Jurnalis sudah mulai dijelekkan dimana-mana dituduh Syiah dan lain sebagainya. Pertama tentang diri saya, saya Syiah itu tidak tahu, Syiah itu binatang apa setan tidak tahu.” 
Mahendradatta juga mengancam awak media yang banyak hadir pada waktu itu “Kalau sampai ada yang menulis saya Syiah saya kejar pembuktiannya sampai liang kubur,” ujarnya berapi-api
Dia juga menghimbau kepada pewarta media online agar tidak mudah ikut-ikutan menyebarkan berita. “Dan saya akan katakan tolong jangan mudah menyebarkan berita. Kita ini punya undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik), ancamannya cukup besar, dan saya dan kawan-kawan tahu cara memainkan itu,” katanya berstrategi.
Selanjutnya dia berujar akan melakukan cara apapun yang coba-coba mengabaikan ancamannya.  “Tetapi tidak saja  dengan cara hukum , dengan cara apapun saya siap,” katanya dengan emosional
Kemudian dia menghimbau kepada hadirin untuk mempererat ukhuwah Islamiyah.  “Tolong kita ini perkuat ukhuwah Islamiyah jangan saling serang . Perkuat  ukhuwah Islamiyah! Jangan saling curiga! Tetapi itu himbauan saya,” tegasnya.  
“Tapi kalau ada yang mau coba-coba, monggo saya siap,” pungkasnya menantang  hadirin di auditorium itu. (samirmusa)
sumber: arrahmah.com)

KENAPA SURIAH? Catatan kecil diskusi terbuka di Kampus YARSI



Diskusi Terbuka yang digelar MER-C, Rabu (26/6/2013) di Kampus YARSI, Jakarta, bertema ‘Kenapa Suriah?’ bisa disebut jomplang data.
Hal ini tampak terungkap saat acara sesi tanya jawab (dialog), dimana beberapa peserta mempertanyakan kevalidan data sekunder (dari wikipedia, google, media Barat, media pro rezim Suriah, dan lainnya) yang dipaparkan oleh Dokter Joserizal Jurnalis dari MER-C dan Jerry D Gray.
Ketika salah seorang peserta diskusi, Angga Dimas Pershada, dari Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) yang baru saja kembali dari Suriah mengungkap fakta, apa yang dia lihat, dengar dan alami langsung di Bumi Syam itu, maka paparan Joserizal dan Jerry D Gray yang menggunakan data sekunder itu pun menjadi tak klop dengan data dan fakta di lapangan.
Tudingan Jerry bahwa di belakang Mujahidin adalah Amerika dan Zionis–ini tuduhan yang sangat gegabah dan fatal–terbantahkan, termasuk sangkaan bahwa Mujahidin dapat bantuan Amerika dan ‘”Israel”.
Jangankan bantuan Amerika, pemerintah Qatar saja saat ingin membantu dana miliaran dolar, Mujahidin Suriah menolaknya, karena khawatir bantuan itu mengikat, ditambah dugaan di belakangnya adalah Amerika. Informasi ini diperoleh langsung dari Mujahidin saat Tim Media Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) berada di medan Jihad Suriah belum lama ini.
Paparan Joserizal, yang di antaranya membagi kubu negara pendukung rezim Suriah dengan pendukung Mujahidin, tentu jadi amat kontras dan aneh, lantaran menyebut Jabhah Nushrah (JN)/Al Qaidah berada dalam “kotak” yang sama dengan Amerika dan “Israel”. Padahal Jabhah Nushrah di Suriah dicap sebagai “teroris” oleh Amerika. Bagaimana mungkin, sang “teroris” berada dalam satu kubu dengan si Pengecapnya (Amerika) dan Zionis dalam konflik yang terjadi di Suriah?
Hal lainnya berkaitan dengan peran AS dan Zionis “Israel” dalam mempersenjatai Mujahidin Suriah, termasuk JN (Al-Qaidah). Ini sangat tak sesuai dengan fakta di lapangan, sebagaimana temuan Tim Media FIPS yang juga baru kembali dari Suriah.
Tak ada bantuan senjata untuk Mujahidin Suriah dari AS ataupun Zionis. Jangankan Amerika dan “Israel”. Pemerintah Arab Saudi saja sudah dengan tegas menyatakan, agar bantuan senjata jangan sampai jatuh ke tangan “teroris” (Mujahidin, red).
Jauh-jauh hari Presiden Obama pun mewanti-wanti. Kalaupun ada bantuan senjata, maka, itu tak kan jatuh ke tangan “teroris”.
Amerika dan sekutunya, betul, memang memback-up “oposisi boneka”nya, yaitu dari kelompok politik yang tak berada di medan Jihad. Mereka, yang tergabung dalam Syrian National Council (SNC), kerjanya hanya berapat dari hotel ke hotel.
Bebera[a hari yang lalu, Presiden Prancis Francois Hollande, mendesak oposisi sekuler itu agar merebut (mengambil alih) wilayah-wilayah di Suriah yang saat ini dikuasai Mujahidin. Itu menunjukkan oposisi sekuler ini tak berada di ranah Suriah. Tak memiliki wilayah sebagaimana Mujahidin yang telah menguasai sekitar 80% bumi Suriah.
Dan, ini juga sekaligus sebagai jawaban bahwa tak ada hubungannya Mujahidin dengan Amerika dan sekutunya. AS dan sekutunya hanya punya kaitan dan memberikan bantuian kepada oposisi sekuler yang sama sekali tak berakar di Suriah.
Tapi, jika nanti dengan izin Allah, revolusi di Suriah ini berhasil memaksa rezim Asad turun, maka, tentu oposisi yang tidak mengakar inilah yang didorong AS dan sekutunya untuk berperan. Ya, mana mungkin AS dan sekutunya beserta negara-negara kafir lainnya merelakan Suriah menjadi sebuah negara yang menegakkan Islam!
Saat di Suriah, Tim Media FIPS mendapatkan kenyataan bahwa umumnya Mujahidin hanya bermodalkan AK-47 untuk melawan militer rezim Asad yang memiliki persenjataan canggih.
Dari mana AK-47 itu diperoleh? Selain bisa dibeli di kawasan tertentu seperti di Daer Zur, Suriah, atau Irak, Mujahidin mendapatkan banyak senjata dari ghanimah (hasil rampasan perang).
Diceritakan, warga Irak banyak yang menjual senjata kepada Mujahidin Suriah. Warga Irak itu mendapatkan banyak senjata, juga dari hasil rampasan perang saat mereka berperang melawan tentara Amerika.
Lalu, orang-orang kaya dari berbagai penjuru dunia pun tak kalah perannya dalam menghadirkan banyak senjata bagi Mujahidin di Suriah. Juga, tak kalah peran Mujahidin Afghanistan dan Palestina. Para Mujahidin Afghan dan Palestina  menyuplai beberapa jenis senjata untuk Mujahidin Suriah. Senjata-senjata itu mereka peroleh dari hasil rampasan perang saat mereka berjihad melawan Amerika dan “Israel”.
Jadi, jika ditemukan mereka memegang senjata made in Amerika atau “Israel” ya wajar saja, memang itu dari hasil rampasan perang yang disuplai oleh Mujahidin dari luar Suriah. Bukan bantuan Amerika dan “Israel”.
Yang juga sangat gegabah adalah yang disampaikan Jerry D Gray. Mantan tentara pada angkatan udara Amerika yang telah memeluk Islam dan beristrikan orang indonesia ini mencoba mengungkap rekaman video di Youtube tentang “pemakan jantung tentara Asad”.
Jerry mengatakan bahwa itu adalah perilaku kanibal seorang Komandan Mujahidin yang telah memakan jantung Tentara Asad yang sudah tewas. Sebuah informasi dari Youtube yang dia telan mentah-mentah tanpa tabayun, meskipun bersumber dari orang kafir.
Padahal sosok Khalid Ahmad dalam aksinya memakan jantung tentara Asad yang diupload di Youtube itu hanyalah rakyat Suriah biasa. Hal ini ditegaskan Abu Usman, seorang Mujahid, anggota katibah Syuhada Salma
Menurut Abu Usman, sikap Khalid Ahmad itu tidak lebih dari emosional pribadi. Khalid  Ahmad memang menaruh dendam karena tentara Basyar membantai keluarganya.
“Sikap Khalid Al Ahmad itu merupakan kerjaan orang aneh,” jelasnya kepada Bumisyam.com di Salma Suriah (16/5/2013).
Anak buah Abu Ubaidah Al Falistini ini menilai sosok Khalid Al Ahmad sendiri dimanfaatkan kelompok pemerintah untuk membangun stigma buruk terhadap pejuang oposisi Suriah.
Pasalnya Khalid Al Ahmad memang hanya rakyat Suriah biasa, dan disebut-sebut tengah mengalami stres berat setelah anggota keluarganya dibantai oleh tentara Asad. Jadi, ia hanyalah warga biasa dan bukan bagian dari kelompok pejuang, apalagi Komandan Mujahidin, seperti disampaikan Jerry D Gray.
Demikian, catatan kecil ini hanya untuk mengklarifikasi beberapa data yang dipaparkan dalam Diskusi Terbuka tersebut. Tentu masih banyak yang perlu diklarifikasi. Tapi beberapa poin di atas cukup untuk menegaskan perlunya kita mentabayun setiap informasi yang menyangkut umat Islam, terutama para Mujahidin, agar kita tak menimpakan mudharat kepada saudara-saudara Muslim disebabkan kesalahan kita dalam menyampaikan informasi.
Dan, sangat disayangkan, jika dalam menyorot perang Suriah, kita tak merujuk pada media-media yang selama ini berada di pihak Islam dan kaum Muslimin.
Sumber: (salam-online)