Senin, 27 November 2017

BEDAH BUKU ISLAM TUHAN SAMPAI KE KALIMANTAN JUGA.

Setelah sebelumnya berkeliling Jawa dan sudah merambah ke Makassar dan Lampung, maka bulan ini sampai ke Kalimantan. Tokoh syiah dan juga pengusaha asal Solo yang aktif mennyebarkan buku-buku syiah ke seluruh Indonesia ini, kami ini mengandeng NU. Jika sebelumnya biasanya diadakan di UIN, maka di Kalimantan tidak. Berikut adalah liputan dari media syiah yang sudah kami edit seperlunya:





Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat Melayu menyelenggarakan talkshow dan bedah buku “Islam Tuhan, Islam Manusia; Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau” di aula Kementerian Agama, Sabtu, 18 November 2017.
Abdul Mukti, dosen IAIN Pontianak sekaligus Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalbar mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, talkshow dan bedah buku karya cendekiawan Muslim, Dr. Haidar Bagir, ini sangat dibutuhkan para pemuda zaman sekarang. “Sehingga para pemuda dapat mengkaji suatu permasalahan lebih mendalam dan mengkritisinya tanpa kekerasan,” ujarnya.
Khusus untuk buku “Islam Tuhan, Islam Manusia,” Abdul Mukti menyarankan agar buku yang mengajarkan toleransi dan cinta kasih ini dibaca oleh generasi muda. “Generasi muda harus kembali membangun praktisi literasi yang kuat, sehingga memiliki kekuatan untuk membaca realitas maupun kekuatan untuk memberi solusi-solusi terhadap permasalahan,” pungkasnya.
“Islam Tuhan, Islam Manusia” ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan Dr. Haidar Bagir yang kemudian diterbitkan dalam sebuah buku. “Sebagai  sebuah pengingat karena saya akan memasuki usia 60 tahun,” ujar Haidar Bagir.
Dr. Haidar Bagir yang juga penggagas Gerakan Islam Cinta dalam buku yang diterbitkannya itu menawarkan pendekatan intra-Islam dengan bentuk penafsiran postmodernisme, relativisme mazhab, Islam Wasathiyah dan antaragama, peradaban, dan budaya dalam toleransi, hingga akhirnya menawarkan solusi bagi problem dunia dan ketunabudayaan berdasarkan pendekatan cinta ala sufisme. (M/Z)

Toleransi inilah yang akan menjadi pintu masuk ajaran syiah kepada masyarakat sunni. Jika aqidah sesat mendapatkan toleransi dan dibiarkan berkembang, maka akan muncul konflik di tempat itu. Kita bisa melihat di Pekalongan, Sampang, Jember dan Bogor. Jika syiah dengan terang-terangan menyebarkan ideologinya, maka sudah pasti akan mendapatkan penolakan dari masyarakat. Mengingat perbedaan sunni syiah adalah perbedaan dalam masalah pokok. Syaikh Yusuf Qardawi yang pernah setuju dengan gagasan pendekatan dua kelompok tersebut, menarik kembali sikapnya karena di lapangan terjadi pelanggaran kesepakatan yaitu kelompok syiah mendakwahkan ajarannya di komunitas sunni dalam rangka mencari pengikut. (Ahmad Hasyim, 28 Nov 2017, Jakarta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar