Rabu, 30 Agustus 2017

Kampung Syiah di Bogor yang Kian Menggurita: Jemaahnya Banyak dari Ciomas



Perkembangan aliran Syiah di Bogor rupanya cukup lumayan, perlahan tapi pasti pengikutnya makin membanyak.

Adalah Gang Siti Hasan – Pancasan, RT 03/04, Kelurahan Pasirkuda, yang jadi markas alirah ini. Tak terlihat perbedaan antara penganut Syiah dan masyarakat di sekelilingnya.

“Sudah kondusif. Jamaahnya sudah melakukan aktivitas seperti biasa. Itu buktinya ada yang baru pulang sekolah,” kata warga sekitar, FH, sambil menunjuk dua pelajar SMP yang masuk ke lingkup IPABI, Bogor.

Menurut lelaki berambut pelontos itu, padepokan IPABI sudah berdiri sejak 1993 di Gang Siti Hasan, di mana sebelumnya hanya diisi empat KK dengan 16 jiwa. “Sudah 23 tahun yang lalu berdiri di sini. Kalau semalam, total ada seratus jamaah yang kumpul di sini,” ucapnya.

Dilanjutkannya, warga sekitar pun tak mengetahui bagaima¬na cara perekrutan jamaah IPABI. Sepengetahuannya, hanya dalam beberapa tahun saja jamaah sudah ramai.

“Itu juga awalnya dari kalangan kecil, tetapi tiba-tiba penuh dan mencuat baru tahun kemarin ramai penolakan keberadaan mereka,” lanjutnya.

aparat keamanan berjaga-jaga di lokasi kejadian untuk men¬gantisipasi adanya gangguan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas). Setiap masyarakat sipil yang hendak memasuki area IPABI, tak diperkenankan naik ke tanjakan yang berkelok setinggi sepuluh meter tersebut.

Di tengah penjagaan yang diberikan aparat Kepolisian dan TNI Kota Bogor, lantunan ayat suci terdengar dari pintu masuk IPABI, Bogor. “Hari ini (kemarin) pengajian terakhir dilakukan dari pukul 14:00 hingga 17:00 WIB. Pengajian sendiri sudah dilakukan sejak 1 Muharram atau Minggu (2/10/2016) lalu,” tuturnya.

Jamaahnya kebanyakan dari luar Pasirjaya. Jamaahnya banyak berasal dari Ciomas, Kabupaten Bogor.
Sementara, pada Rabu (12/10) merupakan malam terakhir perayaan Asyura yang sebelumnya telah di-gelar 1 Muharram atau Minggu (2/10) lalu, selama sepuluh hari.

          salah satu kegiatan yayasan syiah di jakarta pada ramadan 1438 H

Banyak kalangan yang menganggap penganut ajaran tersebut menyimpang. Namun, hing¬ga kini Majelis Ulama Indonesia (MUI) tak pernah mengeluarkan fatwa menyimpang maupun yang lainnya.

Menurut salah satu warga, Choki, tak banyak yang tahu tentang kegiatan di dalam Padepokan Syiah, hanya jamaah saja yang bisa masuk dalam padepokan. Namun, mereka tetap berbaur dengan masyarakat lainnya. Bahkan sering ikut dalam aksi sosial seperti bersih-bersih masjid di sekitar.

Setiap kali menjalankan salat Jumat, para jamaah dari Habib Adullah Asyegaf itu juga berbaur dengan warga di lingkungan tersebut. “Bahkan kalau pas hari qurban, warga sekitar juga kebagian dan memang tak ada yang aneh, semua normal,” ujarnya.

Sepengetahuannya, jamaah banyak datang dari luar Bogor. Hal itu diketahui dari pelat kendaraan yang biasa masuk ke kawasan itu. “Pelaf F dan banyak juga yang B, tapi memang mereka ini eksklusif,” tuturnya.

Kedatangan para jamaah ke padepokan itu tak lain hanya untuk mengaji. Sebab, sep¬erti yang ia ketahui, kediaman Habib Adullah Asyegap ini hanya seperti rumah biasa dan majelis taklim. “Selama ini tidak ada masalah, jamaahnya belanja juga berbaur dengan yang lain. Yang jadi pertanyaan saya, kenapa ini harus diramaikan?,” ungkapnya.
Di tempat terpisah, Camat Bogor Barat Pupung men-gatakan, ramainya di lokasi tersebut hanya pada saat ada acara keagamaan Islam. Menurutnya, warga dan jamaah IPABI berinteraksi seperti biasa, namun kalau untuk agama warga tak mengikutinya.

“Hanya pengikutnya saja yang ikut aliran IPABI, kalau warga tak mengikutinya. Cucu mereka juga melakukan seko¬lah seperti biasa. Hanya ada majelis taklim saja, tak ada sekolahan, mereka sekolah seperti anak biasa. Rata-rata orang dewasa di sana bekerja sebagai pegawai swasta dan pedagang,” kata Pupung.

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Pengendalian Operasi Satpol PP Kota Bogor Agus Syah mengaku hanya menjaga stabilitas keamanan di masyara¬kat. Di mana, sampai kondisi di lokasi kejadian dirasa kondusif.

“Kami di sini untuk menjaga Ka¬mtibmas dan berada di tengah-tengah kedua belah pihak atau posisi netral,” tutup Agus.

Sumber : BOGORDAILY.com

Imigran Syiah Afghanistan di Bogor: "UNHCR Memberi Saya Makan dan Tempat Tinggal"




MENONTON televisi, makan, pergi ke tempat hiburan malam nampaknya menjadi pemandangan sehari-hari para imigran Syiah asal Afghanistan di kawasan Puncak Bogor.

Mereka bahkan sanggup menempuh jarak kiloan meter dari kawasan pedalaman Cisarua untuk sampai di Jalan Raya Puncak, untuk membeli kebutuhan sehari-sehari.

salah satu yayasan syiah di Jakarta mengadakan santunan yang dihadiri oleh tokoh syiah dari Iran pada Agustus 2017 kemarin


Salah satu imigran Syiah Afghanistan di daerah Bogor adalah Ali Rezaei (26 tahun) megaku sudah dua tahun tinggal di Indonesia. Pria dengan potongan rambut bergaya mohawk dan bercelana pendek ini bahkan  mengaku sangat kerasan tinggal di Bogor karena masyarakatnya terkenal ramah.

“Indonesia sangat bagus. Orang-orangnya ramah. Saya suka Cisarua, Bogor,” ujarnya sembari menenteng sejumlah belanjaan di tangannya.
Pria yang bisa bicara bahasa Inggris cukup fasi mengaku tak memiliki banyak kegiatan yang dilakukannya di Bogor. Setiap hari hanya tidur, makan, menonton TV, dan belanja.

Ali mengaku, bisa menjadi imigran di Indonesia atas bantuan lembaga PBB untuk para pengungsi alias UNHCR. Untuk kebutuhan sehari-hari, Ali mengaku mendapatkan kiriman uang dari keluarganya di Afghanistan. Ali juga mendapatkan biaya hidup dari UNHCR.

“UNHCR memberi saya makan dan tempat tinggal,” ujar imigran Syiah beretnis Hazara ini.

Saat ditanya apakah ada keinginan untuk kembali ke Afghanistan,  Ali menegaskan keinginan itu hanya akan menjadi masalah bila terwujud. Karena itu, dalam waktu dekat, dirinya belum mau kembali ke Afghanistan.

“Itu masalah buat saya. Saya tidak mau kembali ke Afghanistan sekarang sebab masih ada Taliban. Itu masalah yang sangat besar di suku Hazara. Al-Qaidah tidak suka dengan Hazara,” ujarnya.

Hal senada juga dikatakan tiga orang imigran Syiah di Bogor yang lain; Muhammad Husein, Ahmad Husein, dan Haidri. Berbeda dengan Ali, Muhammad Husein dan kawan-kawan mengaku berasal dari Pakistan.

Saat ditemui, ketiganya langsung mengajak masuk ke sebuah warung kopi. Di situlah, mereka biasa “nongkrong” menghirup udara malam kawasan Puncak.

Kala itu Ahmad Husein langsung menaruh tasnya di atas meja, dan memesan kopi dengan bahasa Inggris dicampur Indonesia.

Bersama rekan-rekannya, Ahmad Husein mengaku sudah tinggal selama satu tahun di Bogor.

“Kami tidak bekerja karena tidak mendapat izin dari UNHCR,” ujarnya yang menolak untuk difoto.

Sumber : Hidayatullah.com

Selasa, 29 Agustus 2017

PROFIL : HUSAINIYAH AL MAHDI SEMARANG



Di atas tanah seluas 300 meter persegi, gedung baru Husainiyah Al Mahdi Semarang telah berdiri megah. Setelah hampir setahun masa pembangunannya, saat ini gedung dua lantai itu sudah bisa dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas aliran syiah.

Lantai dasar disediakan untuk area parkir dan ruang sekretariat, sementara lantai dua dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyelenggaraan bermacam kegiatan dan perpustakaan.Tampaknya desain bangunan memang sengaja dirancang agar layak dan memadai untuk berbagai aktivitas spiritual dan sosial yang bisa menampung banyak jamaah.

Waktu diresmikan : Selasa (13/5/2014) lalu yang bertepatan dengan 13 Sya’ban 1435 H, hari kelahiran (wiladah) Imam ali Bin Abi Thalib. Yaitu salah satu ritual yang dilakukan kelompok syiah di indonesia dan dunia. Jika kelompok ini mengadakan ritual tersebut ini mengindikasikan bahwa komunitas di tempat tersebut relatif banyak.

 foto : beberapa ulama syiah berkunjung ke masjid baru syiah yang berada di ngaliyan semarang yang diresmikan pada awal tahun 2016 kemarin. mereka datang dari luar negeri untuk mereksmikan masjid syiah tersebut. sekarang masjid tersebut populer di warga semarang sebagai tempat wisata dan jalan-jalan

Tercatat bahwa ruangan lantai dua dipadati ratusan jamaah syiah dan area parkir penuh kendaraan roda dua dan mobil, para tamu undangan tetap bisa khusyuk dan penuh semangat mengikuti acara tersebut.
Diawali dengan modus seminar internal syiah dengan bertema “Fungsi dan Peran Husainiyah dalam komunitas Syiah”
Pembicara : Ustad Miqdad, Ustad Zahir Yahya dan Ahmad Mujahid MS (Direktur PNM Binama) selaku panelis.
Cara malam hari : Peringatan wiladah Imam Ali Bin abi Thalib bersama  Ustad Husein Shahab (salah satu tokoh syiah nasional yang berasal dari jakarta) yang kemudian diakhiri lantunan ziarah dan doa.
Kepada kontributor ABI Press Semarang, pengikut syiah Abdurrahman Al Aththas  selaku salah seorang pengurus Husainiyah menuturkan bahwa tujuan berdirinya Husainiyah ini adalah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT (dengan aqidah syiah tentunya), menjadi insan muttaqin (manusia bertakwa), di samping meneladani jejak langkah para Aimmah melalui aktivitas spiritual dan kemanusiaan. Menurut alumni kedokteran UNISSULA Semarang ini, tiap tahun setidaknya akan ada 14 wiladah (hari lahir) dan 13 syahadah (hari syahid) para Aimmah yang akan selalu diperingati di Husainiyah tersebut.
Memang menjadi ciri khas syiah adalah banyaknya perayaan dalam tiap tahunnya. Mereka akan merayakan kelahiran dan mengadakan peringatan kepada para imamnya yang jumlahnya ada 12. Berarti setiap tahun ada 24 perayaan wiladah dan kematian. Belum ritual pernikahan, revolusi iran dan lain-lain. Mereka adalah aliran yang sibuk dengan ritual dan tidak begitu peduli dengan umat lainnya.
Untuk mengelabuhi masyarkat agar tidak menolak keberadaan syiah dan pusat ritual tersebut, mereka melakukan kegiatan sosial. Seperti kerja bakti bersama warga sekitar Husainiyah dan kegiatan fogging di 12 titik yang dilakukan di luar wilayah Husainiyah.
Adapun kegiatan yang tak lama lagi akan di-launching adalah gerakan bersih-bersih masjid di wilayah Semarang dan sekitarnya. Untuk kegiatan ini bahkan sampai ada ormas tersendiri di kalangan syiah yang kerjaanya adalah membersihkan masjid2 sunni. Nama ormasnya adalah PERMABI, yang berpusat di Bogor jawa barat. Mereka juga sudah ada cabang di wilayah garut dan juga di kalimantan serta di surakarta.
“Sudah ada 12 orang sukarelawan yang siap terjun untuk membersihkan masjid,” ujar Abdurrahman terkait gerakan bebersih masjid yang akan segera di-launching dalam waktu dekat itu. 

penulis : Ahmad Hasyim
Diolah dari sumber internal syiah

Senin, 28 Agustus 2017

Quraish Syihab: Sekali Waktu Bahwa Saya Syiah di Kali Lain Sunni

Jakarta - Mundurnya Najwa Shihab dari Metro TV dan acara Mata Najwa yang telah membuat namanya bersinar dan diperhitungkan, mengejutkan publik Tanah Air. Publik bertanya-tanya, mengapa dan apa yang akan dilakukan Najwa setelah ini.
Lepas dari ramainya pertanyaan tersebut, mundurnya Najwa membuat nama keluarganya kembali disebut.


Sebagian besar masyarakat sudah mengetahui bahwa Najwa Shihab adalah putri kedua ulama, ahli tafsir Alquran, dan cendekiawan Muslim ternama, Quraish Shihab.
Keluarga Quraish Shihab dikenal sangat moderat. Namun, ada juga yang menyebut mereka sebagai penganut paham Syiah.
Terkait tudingan Syiah ini, Quraish telah menjawabnya dalam buku Cahaya, Cinta dan Canda M Quraish Shihab yang diterbitkan Lentera Hati pada 2015.
"Sayalah yang paling konsisten di antara kakak-adik. Berada di tengah, dan memilih organisasi yang lebih menyatukan umat. Saya bukan NU, Muhammadiyah, Sunni, atau Syi'ah," kata Quraish seperti ditulis Mauluddin Anwar, Latief Siregar, dan Hadi Mustofa dalam buku tersebut.
Dalam buku itu, Quraish menyebutkan hidupnya diwarnai oleh prinsip mempertemukan.
"Usahakanlah mempertemukan dua hal yang berbeda atau bahkan bertolak belakang. Usahakan mempertemukan paham Jabariah (fatalisme) dengan Qadariyah (free will). Mempertemukan hati dengan akal, iman, dan ilmu," ujar Quraish.
Prinsip ini pula yang kemudian mendorong Quraish pada 2007 menulis buku Sunnah Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?
"Hati saya puas dengan terbitnya buku itu, nalar saya pun tidak keberatan dengan sanggahan atau tuduhan orang. Sekali waktu bahwa saya Syi'i (Syiah) di kali lain Sunni, sekali Asy'ari di kali lain Mu'tazili, bahkan kalau ada yang berkata lebih dari itu, silakan saja," papar ayahanda Najwa Shihab ini.

Sumber : syiahindonesia.com dan liputan6.com