Kamis, 29 November 2018

SEMINAR SYIAH AKHIR NOVEMBER 2018


Cross The Limit, Garda Suci Merah Putih dan HMI Cabang Jakarta Selatan, menggelar Seminar yang mengangkat tema Kejahatan Perang Koalisi Saudi dan Emirat ini di gelar, Minggu (25/11/2018). 
Agresi militer koalisi Saudi ke Yaman diseminarkan di gedung Joang 45, Jakarta. Seminar yang  mengangkat tema kejahatan perang koalisi Saudi dan Emirat ini di gelar oleh Cross The Limit, Garda Suci Merah Putih dan HMI Cabang Jakarta Selatan, Minggu (25/11/2018).







"Tiga tahun lebih Arab Saudi dan Emirat memimpin agresi militer ke Yaman. Agresi militer ini menimbulkan bencana kemanusiaan di Yaman menurut laporan Komisi Ham PBB. Kejahatan kemanusiaan luar biasa ini lepas dari perhatian publik di Indonesia. Itulah kenapa seminar internasional ini diselenggarakan," Tegas Ziad Abdul Malik, Ketua HMI Cabang Jakarta Selatan.
Dalam prolog pernyataan press, Mujtahid Hashem, Ketua Garda Suci Merah Putih, menjelaskan bahwa krisis yang terjadi di Yaman bersamaan dengan Arab Spring 2011 yang menuntut perganitian presiden dan reformasi politik yang lebih adil bagi semua kelompok masyarakat.

Krisis politik juga dipercepat oleh friksi internal pemerintahan Yaman pada waktu, terutama antara almarhum Presiden Ali Abdullah Saleh dan Ali Panglima Tentara Yaman Ali Muhsin Al-Ahmar.
Krisis diselesaikan atas inisiatif Saudi dan negera-negara teluk dengan menunjuk wakil presiden Abd Raboh Mansur Hadi sebagai Presiden. Kemudian Mansur Hadi menggelar pemilu presiden dimana hanya dirinya yang menjadi calon presiden.

Atas bujukan Saudi, Mansur Hadi mendeklarasikan dirinya tidak mundur dari presiden dan saat ini berada di Riyad, Ibu kota Saudi Arabia.
Agresi militer ke Yaman, Maret 2015 sampai saat ini, yang dipimpin oleh Saudi Arabia beralasan mengembalikan kekuasaan Abd Raboh Mansur Hadi. Secara defacto Yaman sekarang dipimpin oleh Dewan Politik Tinggi Yaman yang dibentuk oleh Parlemen Yaman dan didukung oleh mayoritas rakyat dan militer Yaman, meski PBB belum mengakuinya.
Dalam pernyataan sikapnya, Mujtahid Hashem meminta kepada pemerintah bisa memfasilitasi masyarakat Indonesia yang ingin memberikan bantuan kemanusiaan rakyat Yaman.

"Pemerintah mestinya bisa menggunakan sarana diplomasi internasional untuk memfasilitasi dialog politik penyelesaian masalah Yaman sembari menghilangkan hambatan masuknya bantuan kemanusiaan ke Yaman," seru Mujtahid.

Saat ini secara defacto Yaman dipimpin oleh Presiden Yaman, Mahdi al-Mashat dan Perdana Menteri Abdel-Aziz bin Habtour, meskipun sampai saat ini belum diakui oleh PBB.
Sumber : warta kota

Tidak ada komentar:

Posting Komentar