Rabu, 29 Mei 2013

Berbuka Puasa Bersama Komunitas Syiah di ICC BUNCIT (PUSAT SYIAH INDONESIA)

Biasanya pada umumnya kita saat berbuka puasa akan segera makan/minum begitu mendengar adzan magrib sudah berkumamndang. Sehingga tidak ada acara yang paling menarik yang ditunggu-tunggu selain Adzan maghrib di bulan puasa. Karena itu Adzan Maghrib sama artinya dengan buka puasa. Apalagi dianjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa dan melarang untuk mengundurkan. Maka segera kita akan melihat di kereta-kereta orang segera ribut membuka minuman dan makanan bekal untuk berbuka. 

Tetapi hal itu tidak akan terjadi pada saat buka puasa dengan komunitas kaum Syiah. Di komunitas Syiah, buka puasa tidak sama artinya dengan adzan Maghrib, sebagaimana sebagaimana orang Suni. Seperti acara buka puasa bersama yang diadakan di Komplek Yayasan Islamic Cultural Centre ( ICC ) Al-Huda di Warung Buncit tidak jauh dari Republika, persis di samping Halte Busway Pejaten Phillips.
Ketika suara Adzan Maghrib terdengar berkumandang dari Masjid yang tidak jauh dari Yayasan, para jamaah masih terduduk mendengarkan ceramah. Bahkan Ustad yang memberikan ceramah belum menunjukkan tanda-tanda ceramah akan selesai. Baru setelah suara adzan tidak terdengar lagi penceramah selesai memberikan ceramah. Segera berbuka ? tidak ! pak Ustad memberikan waktu bagi para jamaah untuk mengajukan pertanyaan.
Pada saat adzan Maghrib dan ceramah itu biasanya diketahui orang syiah atau bukan. Orang Sunni biasanya kalau sudah adzan Maghrib duduknya mulai gelisah tidak tenang menunggu kapan ceramah selesai, tetapi tidak begitu dengan orang Syiah. Orang Syiah beranggapan menyegerakan berbuka tidak sama artinya dengan adzan maghrib langsung makan/minum. Tetapi menyegerakan berbuka itu adalah makan/minum sebelum adanya kewajiban berpuasa lagi, berarti hari berikutnya.

Nah setelah ceramah selesai, dan diperkirakan sisa-sisa sinar matahari tidak lagi kelihatan, baru para jamaah dipersilahkan untuk berbuka. Biasanya bagi jamaah biasa, kesempatan itu dipergunakan untuk sesegera mungkin mengambil makan/minum, biasalah seperti pada umumnya orang Sunni, berupa kolak atau apa saja yang juga kita jumpai dimana-mana. Tetapi bagi orang yang (katakanlah orang saleh)  biasanya segera merapat dan bersiap untuk sholat Maghrib terlebih dahulu. Karena di Syiah dianjurkan untuk sholat Maghrib terlebih dahulu dari pada berbuka puasa.
Adzan maghrib berkumndang ( Adzan-nya sedikit berbeda dengan adzan-nya orang Sunni ) dan sholat Maghrib pun tiba. Para jamaah yang biasa, segera kembali menuju barisan, setelah berwudhu tentunya. Setelah Imam mengumandangkan iqamah, sholat magrib di laksanakan. Iqamah yang membacakan imam, karena Imamlah yang mengajak untuk sholat berjamaah.
Setelah sholat Maghrib selesai dilanjutkan dengan sholat Isya’ berjamaah. Jangan salah duga, ini bukan sholat kaum musafir. Pada fikih Syiah waktu sholat itu ada 3 waktu. Waktu sholat Fajar (Shubuh), Waktu siang ( Dhuhur & Asar ) dan Waktu sholat Malam ( Maghrib & Isya’). Waktu sholat Dhuhur & Asar beriringan yang jarak keduanya tidak lebih dari 10-15 menit kira-kira dari awal waktu dhuhur. Hal yang sama dengan jarak antara Maghrib dan Isya. Tetapi Afdolnya wakatu sholat, sama seperti waktu sholat penganut Sunni, yang pada umumnya orang Indonesia.
Jadi kira-kira, kalau Adzan Magrib di Jakarta pkl 17.50 maka buka puasa orang Syiah antara pkl 18.15 – 18.30.
Acara makan besar selesai, para jamaah segera bersiap pulang ke rumah masing-masing. Di Madzab Syiah tidak ada Sholat Taraweh, yang ada sholat lail yang dikerjakan sendiri-sendiri di rumah, seperti sholat biasa. Tetapi untuk qiyamul lail ini, di madzab Syiah doanya panjang-panjang, bisa sampai tengah malam.
Di tahun yang lalu ada kejadian lucu. Ketika pemberi ceramah adalah seorang Ayatollah yang datang dari Iran, Ayatollah Syaikh Jakfar Hadi, jumlah jamaah yang datang melebihi kapasitas dan juga konsumsi yang disediakan.
Tidak jelas apakah makanan itu model Iran atau bukan, tetapi ada 3 bagian makan untuk makan besar yakni Nasi, Lauk dan Lalap. Lalapannya itu mirip rumput dan tidak terbiasa aku jumpai di orang penjual pecel lele/ayam di pinggir jalan. Karena yang hadir diluar perkiraan maka panitia kewalahan juga. Mulanya rapi dibagikan nasi, daging & lalapan. Bagi jamaah yang duduk di dekat dengan jalur Sutra makan dapat satu set lengkap. Tetapi karena terlalu lama menunggu orang yang agak jauh tidak sabar juga. Kalau ini sih kelakukan lintas madzab, karena kekawatiran akan hajat hidup terganggu hehehehe…, maka yang belakang segera maju dan meminta. Al-hasil panitia semakin bingung dan asal-asalan. Akhirnya ada sekelompok jamaah yang mendapat nasi saja, ada sekelompok yang mendapat lauk saja dan ada yang mendapat Lalapan saja.
Aku termasuk orang yang mendapat lalapan saja. Itu yang terhidang di depan kita. Karena hanya lalapan saja tentu saja tidak dimakan. Dan iseng akupun mengumpulkan beberapa piring lalapan itu menjadi satu dan terlihat seperti rumput di atas piring. Banyak orang yang tersenyum memandang karena mirip dengan seonggok rumput untuk makanan kambing.
 
Tetapi kemudian panitia berbaik hati dengan mempersilahkan jamaah yang belum dapat jatah makan, untuk berbuka di beberapa rumah makan di samping yayasan.
"artikel di ambil dari pengakuan pengikut syi'ah awam
 

SUMBER : http://inilah-bukti-kesesatan-syiah.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar