Senin, 27 Mei 2013

Catatan seorang penganut syiah : Peluncuran dan Diskusi Buku The Road To Persia: Saat Iran Habis Dirambah Afifah Ahmad

Adalah Afifah Ahmad, wanita kelahiran Semarang 10 Desember 1978 yang menjadi istri dari Purkon Hidayat, pada tahun 2008, bersama buah hatinya Mehdi Muhammad Hakim, hijrah ke Teheran, Persia, hingga kini. Berangkat dari pengalamannya tersebut, Afifah kemudian menggerakkan jari-jarinya untuk menulis catatan perjalanan. Hal ini terkuak saat digelarnya acara Bedah Buku “The Road To Persia: Menelusuri Keindahan Iran yang Belum Terungkap” karangan Afifah yang diterbitkan Bunyan (2013) pada Jumat (22/3). 

Membicarakan Persia adalah membicarakan kekaguman. Pasalnya, bukan rahasia umum lagi, khazanah Kota Persia sejak dulu hingga hari ini sangatlah menggoda hasrat para pecinta perjalanan di tataran internasional. Ada banyak hal yang bisa dinikmati dari kota ini. Sebagaimana kita tahu Persepolis masih menyimpan misteri nan megah, suguhan aroma romantisme taman-taman penyair kelas dunia banyak ditemui, kubah-kubah nan keemasan yang nampak agung dan memesona, tak lupa eksotisme bundaran Imam, hingga rumah-rumah gua di pedalaman yang sangatlah unik. Itulah aneka warna-warni daya pikat negeri Persia yang saat ini kita kenal dengan Iran. Melakukan perjalanan ke sana sangatlah didamba banyak orang.
Napas Indonesia
Adalah Afifah Ahmad, wanita kelahiran Semarang 10 Desember 1978 yang menjadi istri dari Purkon Hidayat, pada tahun 2008, bersama buah hatinya Mehdi Muhammad Hakim, hijrah ke Teheran, Persia, hingga kini. Berangkat dari pengalamannya tersebut, Afifah kemudian menggerakkan jari-jarinya untuk menulis catatan perjalanan. Hal ini terkuak saat digelarnya acara Bedah Buku “The Road To Persia: Menelusuri Keindahan Iran yang Belum Terungkap” karangan Afifah yang diterbitkan Bunyan (2013) pada Jumat (22/3). Pada kesempatan tersebut, hadir sebagai pembedah yakni  Ahmad Fadhil, dosen IAIN, yang sempat mengenyam pendidikan di Iran.
Fadhil dalam paparannya mengatakan bahwa dalam buku karangan Afifah selalu ada napas Indonesia di setiap tempat yang dikunjungi Afifah. “Di Isfahan, saat Afifah mulai menjauhi gerbang Meydan Emam, ingatannya melompat pada kota-kota tua di Indonesia yang mirip satu sama lain, dalam hal adanya masjid agung, pemerintahan daerah dan alun-alun yang sering menjadi pasar kaget pada hari-hari libur,” katanya. Fadhil menambahkan, ada lagi misalnya ketika Afifah mengunjungi Mausoleum Khayyam, Afifah teringat pada Umar Kayyam, akan tetapi Afifah lalu bersedih karena para penyair di Indonesia akan sulit mendapatkan penghargaan apalagi berupa tugu yang memukau, taman seluas 20.000 meter persegi dengan pepohonan rindang, dilengkapi juga dengan museum dan galeri untuk totalitas kiprah para penyair tersebut.
Penulis yang berasal dari Indonesia ini telah lima tahun tinggal di Iran dan sudah mendatangi tempat-tempat bernilai historis di sana. Isi buku ini sendiri terbagi ke dalam empat bab yang terdiri dari: bab pertama, yang merupakan catatan kunjungannya ke Bundaran Isfahan, Rudkhan Castle, dan reruntuhan Persepolis yang sangat memiliki nilai sejarah yang melekat; bab kedua, Afifah menziarahi makam para penyair sekelas Hafiz, Khayyam, Fariduddin Attar, Sadra, serta juga mendatangi makam Ibnu Sina; bab ketiga, Afifah lalu memilih untuk mereguknya indahnya alam pedesaan Persia seperti Kandovan, Masouleh, Tepian Zayandeh, bahkan juga gugusan Alborz; dan bab keempat, yaitu kisah-kisah aktivitas Afifah sehari-hari, semisal suasana di kereta yang ia naiki, gagap gempita Ramadhan, dan lain sebagainya.
Sendiri dan Nyaris Membeku
Pada sesi diskusi, Afifah membagi perihal proses kreatifnya dalam menulis. “Untuk penulisan naskah, saya mencicilnya. Satu-dua tulisan sudah ada di blog saya. Selama empat tahun perjalanan itu, saya menuliskannya di buku The Road To Persia ini,” ujar Afifah. Banyak cerita suka-duka yang dialami Afifah selama petualangannya menyusuri khazanah Persia. Salah satunya ketika dia menapaki gunung di Hamedan. Saat turun, tak ada mobil yang lewat. Sepi. Dan pada saat itu musim dingin. Afifah menunggu berjam-jam sampai kedinginan. “Tapi, Alhamdulillah ada pemuda baik yang menawarkan tumpangan,” kenang Afifah.
Ternyata kebiasaan menulis pada diri Afifah sebagai salah satu talenta yang sangat mengedepankan jiwa kreativitas dan perenungan, sudah ada sejak ia masih duduk di bangku SMP, saat di mana ia sudah memutuskan keliling Jawa. Biasanya ia menuliskan segala pengalamannya di blog pribadi. “Saya sudah ke Iran, namun baru kali ini ke Banten,” ujarnya sambil terkekeh.
Bedah Buku di UIN Sunan Kalijaga
Tiga hari setelahnya, acara diskudi buku serupa juga diadakan di ruang teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga yang terselenggara atas kerjasama Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Kedutaan Besar Iran, dan penerbit Bunyan, Senin (25/3).  Acara Peluncuran dan Diskusi Buku The Road To Persia karya Afifah Ahmad tersebut dihadiri oleh Mr.Mohammad Ali Rabbani (Atase Kebudayaan Kedubes Iran),  Afifah Ahmad, Iqbal Dawami (editor), dan Salman Faridi (CEO Bentang Pustaka)
Acara yang dihadiri seratusan dosen dan mahasiswa tersebut  dibuka oleh Kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga M. Solihin Arianto, S.Ag., SIP, M. LIS. Sedangkan diskusi dipimpin oleh Furqon Hidayat sebagai moderator. Untuk memeriahkan acara tersebut dihadirkan grup vokal yang terdiri dari para mahasiswa kelas Bahasa Persia yang membawakan lagu kebangsaan kedua negara. Selain itu, untuk menyemangati peserta penyelenggara membagikan souvenir khas Iran kepada sepuluh peserta yang mengajukan pertanyaan.
Di akhir acara, 160 peserta yang hadir mendapatkan buku The Road to Persia secara gratis dari penyelenggara. Secara umum para peserta sangat antusias mengikuti acara ini dan berharap kegiatan semacam ini dapat diselenggarakan lagi di kemudian hari.

Sumber : http://www.abna.ir/data.asp?lang=12&id=408546

Tidak ada komentar:

Posting Komentar