Rabu, 21 November 2012

Kekhasan Ramadhan di Iran



Awal Ramadhan di Iran diumumkan secara resmi oleh Mufti Iran tidak seperti di Indonesia yang biasanya masing-masing Ormas Islam mengumumkan awal puasanya sendiri-sendiri, sehingga terkadang berbeda satu sama lain. Mungkin dikarenakan adanya kedekatan emosional antara rakyat Iran dengan alim ulamanya. 

Sama halnya dengan negara-negara muslim lainnya, masyarakat Iran juga menyemarakkan Ramadhan dengan berbagai agenda yang bernilai ibadah. Hanya saja ada kekhasan budaya masyarakat Iran yang bisa jadi sulit ditemui di tempat lainnya.
Kalau kaum muslimin di Indonesia misalnya, mempersoalkan berapa rakaat salat tarawih yang harus ditunaikan secara berjamaah, antara 8 atau 20 rakaat, kaum muslimin di Iran justru tidak melakukannya. Menurut orang Iran, tarawih berjamaah itu tidak ada di zaman Rasulullah tapi baru diselenggarakan pada zaman khalifah Umar bin Khattab. Itulah sebabnya mereka tidak tarawih berjamaah di masjid-masjid, melainkan shalat-shalat sendiri di rumah.
Meskipun tidak menyelenggarakan shalat tarawih secara berjamaah, bukan berarti mesjid sepi. Justru mesjid-mesjid penuh sesak dengan orang-orang semalam suntuk. Khususnya pada malam ke-19, 21 dan 23. Menurut keyakinan orang Iran ada hadits Rasulullah yang menyebutkan, malam lailatul Qadr kemungkinan jatuh pada ketiga malam tersebut. Karenanya pada ketiga malam tersebut masjid-masjid, husainiyah (balai pertemuan), dan rumah-rumah yang memang menyediakan diri untuk ‘open house’, penuh sesak dengan orang-orang yang berburu pahala dan keutamaan malam Lailatul Qadr, yang menurut Al-Qur'an dan hadits, ibadah pada malam itu lebih baik dari ibadah selama seribu bulan. Pada ketiga malam itu, mereka melakukan ibadah sampai menjelang sahur. Di antaranya membaca doa jauzan Kabir.

Doa ini memuat seribu Asmaul Husna (nama-nama Allah yang baik dan indah), karenanya butuh berjam-jam untuk membaca doa ini. Dan bisa lebih lama lagi karena di sela-sela bacaan doa, si pembaca doa menyelipkan munajat, syair-syair rintihan penyesalan atas dosa-dosa di hadapan Allah SWT. Tak heran bila suasana sangat emosional dan isak tangis terdengar di sana-sini. 

Pada hari ke-25 hingga ke-27 di masjid-masjid diadakan i'tikaf secara nasional. I'tikaf yakni berdiam diri di masjid dengan niat mengisinya dengan beribadah kepada Allah SWT. I'tikaf ini telah menjadi program nasional setiap tahunnya, karenanya biaya konsumsi termasuk fasilitas i'tikaf seperti tasbih, buku-buku doa dan sajadah disediakan pemerintah.

Kekhasan lainnya di negeri para mullah ini, tentu saja tradisi berbuka puasa. Sekitar dua jam sebelum berbuka, mereka melakukan majelis-majelis Al-qur'an. Tidak hanya di masjid-masjid, tetapi juga di tempat-tempat terbuka, seperti di taman dan sebagainya. Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Al-Qur'an diturunkan, karenanya menurut mereka, Al-Qur'an harus lebih banyak dibaca pada bulan ini. Dalam majelis tersebut, mereka tidak hanya membaca Al-Qur'an tapi juga mengkaji dan mendiskusikannya. Sejak Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i seorang bocah 7 tahun meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Hijaz College Islamic University, Inggris, dengan nilai 93 karena hafal dan faham Al Quran, dikenal di seluruh dunia, Iran lebih agresif lagi memperkenalkan Al-Qur'an keseluruh dunia.
Saat ini sudah ada 600 pusat lembaga kegiatan berbasis Al Quran yang sedang aktif dan dua tahun kedepan ditargetkan ada seribu perpustakan dan Bank CD Qurani di pusat-pusat kegiatan AlQur'an di Iran. Telah berkali-kali Iran menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pameran Al-Qur'an Internasional. Dalam Pameran Al-Qur'an Internasional ke XVI 2008 di Teheran ditampilkan juga Al-Qur'an terkecil yang memecahkan rekor dunia.

Al-Qur'an yang hanya berukuran 5 x 7 cm ini dibuat oleh kaligrafer Iran Roin Abar Khanzadeh, 94 kali lebih kecil dari Al-Qur'an terkecil sebelumnya. Yang menarik Al Quran terkecil ini ditulis dengan mata telanjang oleh penulisnya dan bila dijejer hanya menempati ukuran kertas A3. Dengan tingkat apresiasi yang tinggi terhadap Al-Qur'an wajar jika Iran menghasilkan banyak Mufassir terkemuka dalam dunia Islam, diantaranya Allamah Mohammad Husain Thabatabai, penulis tafsir Al Mizan yang fenomenal.
Seteleh majelis-majelis Al-Qur'an diselenggarakan, merekapun tinggal menanti buka puasa. Berbuka puasa bersama, diselenggarakan di masjid-masjid. Mereka memulai berbuka dengan teh panas, buah kurma dan manisan Zulbiyo bo Mir. Zulbiyo bo Mir adalah makanan khusus yang dibuat hanya pada bulan Ramadhan bahannya 99 % terdiri dari gula. Makanan khas lainnya adalah Ash dan Halim. Ash semacam sup yang dibuat dari sayuran yang dihaluskan, ditambah mie halus yang diatasnya disiramkan saus. Sedangkan Halim adalah bubur gandum bercampur serat-serat daging yang dibubuhi kacang peste dan kelapa tabur. Hanya saja Ash dan Halim ini terbilang cukup mahal, sehingga hanya disajikan di restoran-restoran.
Masyarakat Iran pada umumnya merasa cukup berbuka dengan menu teh panas, kurma dan manisan Zulbiyo bo Mir yang terkadang di tambah dengan keju putih. Karenanya tidak ada kehebohan belanja di pasar-pasar menjelang berbuka puasa, tidak ada kesibukan khusus mempersiapkan aneka minuman segar berbuka macam es cendol, es buah, es pisang ijo dan sebagainya.
Orang-orang Iran sepertinya tidak menganggap bahwa karena seharian puasa, maka saat berbuka perut mesti dimanjakan oleh makanan dan minuman yang variatif. Siang harinya pun, restoran dan penjual juz buah tetap buka, bagi yang tidak berpuasa mungkin karena non muslim, musafir, berhalangan atau karena sakit, tidak sungkan-sungkan menikmati makanan dan minuman di kios-kios yang terbuka. Di Iran tidak ada polisi dan orang-orang yang razia dan menghalang-halangi orang lain untuk makan di siang hari ramadhan. 
Kekhasan berikutnya, di Iran ada lembaga amal yang sangat terkemuka, yaitu Komite Imdad (pertolongan) Imam Khomeini (KIIK). Program utama lembaga ini membantu Ikramul Aytam (Pemuliaan Anak Yatim). Di tiap bulan Ramadhan, KIIK membuka posko di berbagai kota yang menerima bantuan dan menyalurkan dana dari masyarakat untuk memuliakan anak yatim. Disetiap posko terdapat daftar nama lengkap dengan gambar dan biografi singkat puluhan atau ratusan anak yatim. Bagi yang ingin memberikan bantuannya cukup memilih kepada siapa bantuannya itu diserahkan. Tidak melulu berupa uang, namun juga berupa pakaian, buku-buku atau mainan. Karenanya di hampir setiap posko mudah kita temui tumpukan hadiah dan bungkusan kado yang nanti akan diserahkan kepada anak yatim yang terlah terdaftar. Besarnya animo masyarakat menunjukkan KIIK sebagai lembaga yang dapat dipercaya menyalurkan pertolongan sekaligus tempat ‘berlindung’ bagi yang membutuhkan.
Hal istimewa lainnya, hari Jumat pada pekan terakhir bulan Ramadhan orang Iran menyebutnya sebagai Hari Al-Quds. Hari dimana mereka meramaikan jalan-jalan utama di kota-kota besar untuk berdemonstrasi, menuntut pembebasan Palestina dari penjajahan Israel. Pada hari itu, Yel-yel marg bar Israel (kematian bagi Israel),marg bar Amrika (kematian bagi Amerika) dipekikkan di berbagai kota di Iran. Para peserta demo menunaikan sholat Jumat bersama-sama dan membentuk shaf panjang, yang di Teheran bisa mencapai puluhan kilometer. Aksi unjuk rasa besar-besaran ini menunjukkan bentuk solidaritas muslim Iran terhadap muslim Palestina dan ketidak setujuan mereka terhadap aksi penindasan terhadap bangsa lain yang merdeka dan berdaulat.

Salam Ramadhan dari Iran.
*Penulis Warga Indonesia yang sementara belajar di Iran (Thn 2010)
(www.abna.ir)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar