Senin, 26 November 2012

Serambi Qom di Desa Kenep

Jika Aceh disebut Serambi Makkah, maka Desa Kenep di Bangil agaknya layak disebut sebagai “Serambi Qom”. Bagaimana ceritanya?
Suatu hari di tahun 1982, pemerintah Iran pimpinan Khomeini mengirim tiga orang utusannya ke Indonesia . Mereka adalah Ayatollah Ibrahim Amini, Ayatollah Masduqi, dan Hujjatul Islam Mahmudi. Salah satu dari kegiatan mullah-mullah ini adalah kunjungan ke Yayasan Pesantren Islam (YAPI) di Desa Kenep, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, untuk menemui pimpinannya, Husein al-Habsyi.
Hasil dari pertemuan tersebut adalah diterimanya 10 murid pilihan Husein al-Habsyi untuk belajar di hauzah ‘ilmiyyah di kota Qom, Iran. Sejak saat itu hingga wafatnya pada tahun 1994, Husein al-Habsyi bertanggung jawab penuh menyeleksi para kandidat yang ingin nyantri ke hauzah ‘ilmiyyah di Qom, dan kota-kota lainnya di Iran.
Direktur pusat Kebudayaan Iran (Islamic Cultural Center-Jakarta), Mohsen Hakimollahi mengatakan, selepas wafatnya Husein al-Habsyi, rekomendasi untuk kuliah ke Iran dilakukan oleh tokoh-tokoh ormas Islam seperti Amien Rais, Said Aqil Siradj, ataupun Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Namun ada cerita menarik di balik pengiriman 1o santri pertama hasil seleksi Husein al-Habsyi. Salah satu mantan pengajar YAPI yang juga bekas murid Husein al-Habsyi, Habib Ahmed bin Husein bin Abu Bakar Assegaf, mengatakan pemberangkatan itu berlangsung setelah kunjugan Husein ke Iran untuk berbaiat kepada Khomeini pada 1983. “Pelajari madzhab Ja’fari,” ujar Ahmed menirukan bisikan Husein saat melepas murid-muridnya berangkat menuju Qom .
Ahmed menuturkan, sepulangnya dari Iran, Husein gencar mempengaruhi murid-muridnya, terutama para pengajar YAPI waktu itu, untuk membuka diri pada ajaran Ja’fri.
Husein, kata Ahmed, kerap membangga-banggakan para ulama Syi’ah yang ditemuinya di Iran . “Kata Ustadz Husein, mereka (para ulama Syi’ah) itu alim-alim, banyak ilmu. Tidak seperti ulama ahlus sunnah yang banyak bertentangan dengan rasio,” ujar Ahmed yang diwawancarai Suara Hidayatullah di rumahnya, di Bangil, akhir Januari lalu.
Menurut Ahmed, saat itu Husein mencontohkan adanya salah seorang imam madzhab ahlus sunnah, Imam as-Syafi’i, yang membahas masalah batal-tidaknya wudhu seseorang bila menyentuh kemaluan. Kalau di Syi’ah, kata Husein, yang kotor-kotor seperti ini tidak ada. “ Para ayatullah kalau ngomong pakai otak.”
Meski demikian, lanjut Ahmed, saat itu Husein cukup selektif menyampaikan ide-ide Syi’ah kepada murid-muridnya. Dia memanggil muridnya satu persatu, tidak langsung semuanya. Ahmed mengaku dirinya sebagai murid terdekat Husein, dan yang pertama ajak bicara soal Syi’ah.
Ahmed masih ingat pembicaraan dirinya dengan Husein soal Syi’ah waktu itu. Katanya, ”Ente (Anda) jangan kaget. Yang tenang. Para imam (Syi’ah) yang 12 lebih afdhal (utama) dari Nabi. Imamah lebih afdhal dari nubuwwah (kenabian).
“Saya justru kaget waktu itu”, kata Ahmed.
”Lho, saya bilang sama ente jangan kaget. Tenang dulu. Pikirkan dulu pakai otak. Ente saya ajarkan begini, supaya bisa menggantikan saya nantinya,” tutur Husein.
”Saya nggak terima. Hati saya nggak terima,” jelas Ahmed.
”Hei, jangan pakai hati. Pakai dalil.” sanggah Husein.
”Anda punya dalil?” kata Ahmed lagi.
”Ada. Firman Allah SWT kepada Nabi Ibrahim As, inni ja’iluka linnasi imama. (Aku jadikan engkau imam atau pemimpin manusia). Saya tanya sama ente, ketika diangkat menjadi imam, Nabi Ibrahim sudah menjadi Nabi atau belum?”
Dengan polos Ahmed menjawab, “Sudah”.
Husein kemudian menimpali, ”Sudah jadi Nabi? Kalau begitu benar saya. Imamah lebih afdhal dari kenabian. Nabi Ibrahim diangkat menjadi imam setelah menjadi nabi, berarti ada kedudukan yang lebih tinggi dari nabi.”
Ahmed balik membalas, “Kalau mereka (para imam) lebih utama dari pada nabi, kenapa dalam al-Qur`an tidak disebut ada surat Imam Ja’far, atau Imam Muhammad Baqir, dan sebagainya? Sedangkan di al-Qur`an ada surat Yunus, Muhammad, Ibrahim, Yusuf, al-Anbiya. Kalau al-Aimmah (para imam) lebih utama dari para nabi, harusnya ada surat tentang mereka dalam al-Qur`an. Nyatanya nggak ada?”
“Ente jangan bodoh-bodohan. Saya nggak bisa terima omongan seperti itu,” elak Husein.
Sadar akan posisinya sebagai murid, Ahmed merasa enggan melanjutkan perdebatan.
Beberapa hari kemudian, Husein tetap tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Malah, Husein menyatakan keinginannya mengirim Ahmed untuk belajar ke kota Qom.
Kontan, Ahmed menolaknya. “Oh, nggak usah Ustadz. Jangan sampai. Saya ingin ke Makkah,” jawab Ahmed kala itu.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1985, Ahmed memutuskan keluar dan berhenti mengajar di YAPI. Langkahnya diikuti sekitar 12 pengajar YAPI lainnya, di antaranya terdapat murid-murid Kyiai Faqih, dari Pesantren Langitan.
Siapa Husein al Habsyi
Husein al-Habsyi lahir di Surabaya pada tanggal, 21 April 1921. Sejak usia belia dia sudah ditinggal wafat kedua orang tuanya. Menurut situs resmi YAPI, http://yapibangil.org, ayahnya adalah Sayyid Abu Bakar al-Habsyi yang mempunyai garis keturunan dengan Sayyid Ali al-’Uraidi, putra Imam Ja’far Shadiq.
Pendidikan dasar diembannya di Madrasah al-Khairiyah, lembaga pendidikan diniyah tertua di Surabaya. Setamatnya dari al-Khairiyah, Husein sempat mengajar di sana bersama kakaknya Ali al-Habsyi.
Kemudian, mereka berdua hijrah ke Penang, Malaysia. Husein sempat mengajar di Madrasah al-Aththas di Johor dalam waktu cukup lama. Hingga akhirnya dia mudik ke Surabaya, Jawa Timur, menyusul riuhnya peristiwa politik pada masa penjajahan Inggris di semenanjung Malaysia saat itu.
Sepulangnya dari Malaysia , Husein aktif berkecimpung di kancah politik nasional bersama partai Masyumi. Husein sempat menjadi pengurus teras partai tersebut bersama salah satu tokoh utamanya, Muhammad Natsir. Jabatan Husein di Masyumi saat itu adalah Ketua Komisi Hak Asasi Manusia.
Pasca bubarnya Masyumi pada akhir tahun 196o, Husein kembali fokus dalam dunia pendidikan Islam. Ia mendirikan pesantren di Kota Bondowoso pada awal tahun 1970-an, sebelum akhirnya pindah dan menetap di Kota Bangil.
Meski demikian Husein masih melek akan situasi politik, terlebih politik luar negeri. Maka, ketika revolusi Iran meletus, Husein sontak menyambutnya, bahkan berkunjung langsung ke Iran untuk sowan kepada Khomeini.
Suara Hidayatullah berusaha menggali lebih dalam profil Husein al-Habsyi dengan menyambangi tokoh-tokoh Syi’ah di Bangil, seperti Ali Ridho bin Husein al-Habsyi (putra. Husein), Ali Umar al-Habsyi (menantu Husein), juga Muhammad bin Alwi, murid terbaik Husein yang terkenal dengan sebutan “Muh Cilik” meski berbadan tambun.
Ali Ridho bersedia menerima Suara Hidayatullah di rumahnya di Jalan Ikan Tenggiri, sebelah utara alun-alun Kota Bangil. Namun, dia enggan bercerita banyak soal ayahnya.
“Datang saja ke YAPI Putra. Di sana ada buku biografi Husein,” katanya. Tapi, ketika Suara Hidayatullah menanyakan perihal buku biografi tersebut ke YAPI, Sekretaris YAPI, Shohibul Aziz mengatakan buku tersebut belum lagi ditulis, baru rencana saja.
Suara Hidayatullah juga sempat menjumpai sang menantu, Ali Umar, saat ia baru selesai mengajar di pondok YAPI putri. Namun, Ali Umar yang baru saja pulang dari acara pemakaman O. Hashem di Jakarta mengatakan jadwal mengajarnya sangat padat. Tidak bisa diwawancara. Jadi, hanya Muh Cilik yang tidak berhasil ditemui.
Meski demikian, seorang kader Muhammad Natsir, Kamluddin Iskandar Ishaq, bersedia memberikan sedikit info tentang Husein. Katanya, Pak Natsir pernah berkisah bahwa dirinya merasa ada yang aneh dengan kebiasaan rekannya di Masyumi dulu, Husein al-Habsyi.
“Jika (dia) mendengar atau menyebut nama Ali bin Abi Thalib selalu mengucap ‘alaihi shalatu wassallam (baginya shalawat dan salam),” ujar Kamalludin mengutip perkataan Pak Natsir. Ada kemungkinannya Husein sudah menganut Syi’ah sejak sebelum revolusi Iran . *Kukuh Santoso, Surya Fachrizal/Suara Hidayatullah
Box
Beda Syi’ah dengan Alawiy
Adanya sebagian dari kalangan alawiyin (Arab keturunan sayyid yang menisbatkan diri sebagai keturuan Rasulullah SAW dari jalur Fatimah Ra) yang menganut Syi’ah, menimbulkan persepsi sebagian masyarakat, bahwa kaum alawiyin atau habaib identik dengan Syi’ah.
Namun, anggapan ini dibantah oleh Rabithah Alawiyah, satu-satunya organisasi resmi kalangan alawiyyin di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1928 di Jakarta. Salah seorang ketua Rabithah yang juga Ketua Umum Front Pembela Islam, Habib Muhammad Rizieq Shihab menjelaskannya secara singkat saat Suara Hidayatullah mengunjunginya di rumah tahanan Polda Metro Jaya, awal Maret lalu.
“Jangan samakan alawiyyin dengan Syi’ah. Itu menyinggung semua habaib, karena tidak semua habaib itu Syi’ah. Ana (saya) bukan Syi’ah,” jawab Rizieq.
Memang, ada sebagian habaib yang menganut Syi’ah, tapi prosentasenya sangat kecil, tidak sampai sepuluh persen. Pengurus Rabithah sendiri, kata Rizieq, bebas dari Syi’ah. Semuanya Sunni.
Rizieq menjelaskan, alawiyyin terbagi menjadi dua, yakni alawiyyin nasaban dan alawiyyin madzhaban. Alawiyyin madzhaban itu yang Syiah. Mereka bermadzhab Alawiy. Sedang alawiyyin nasaban, yakni nasabnya atau silsilahnya dari Ali bin Abi Thalib Ra. yang bermadzhab Syafi’i. Yang berasal dari Hadramaut, Yaman, termasuk alawiyyin nasaban.
Meski demikian, kata Rizieq, secara nasab sebagian pengikut Syi’ah tadi memang alawiy. Mereka memang berasal dari Hadramaut tapi tidak secara langsung hijrah ke Indonesia. Sebagian mereka hijrah dahulu ke Irak ataupun Iran sebelum berlabuh di Indonesia.
Rizieq melanjutkan, pada awalnya alawiyyin Syi’ah yang minoritas ini punya pergaulan yang bagus dengan kalangan Sunni. Namun, setelah revolusi Iran mereka mulai berani pasang aksi. Hal tersebut akhirnya menyulut pertentangan umat Islam di beberapa daerah di Jawa Timur seperti di Bondowoso, Situbondo, Bangil, Malang , hingga Madura.
Begitu peliknya masalah yang timbul hingga membuat Direktorat Intelkam Polda Jawa Timur merasa perlu menulis buku khusus tentang Syi’ah. Buku tersebut berjudul Paham Syiah: Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) dan Permasalahannya di Jawa Timur, terbitan Dit Intelkam Polda Jatim bersama Lembaga Penelitian dan Penerbitan Provinsi Jawa Timur, yang dicetak oleh PT Bina Ilmu Surabaya.
Menurut Rizieq, Rabithah mengambil sikap dialogis menanggapi para alawiyyin Syi’ah tersebut. Tidak konfrontif. Hal ini dikarenakan para alawiyyin Syi’ah tersebut termasuk keluarga besar alawyyin di bawah naungan Rabithah. Sehingga mereka punya hak untuk untuk diperhatikan, diajak dialog, dibina, dan diayomi. Laporam mereka yang merasa diancam oleh kalangan Sunni juga ditampung Rabithah.
Meski demikian, kata Rizieq, Rabithah juga meminta kalangan Syi’ah untuk introspeksi diri. “Adanya aksi anarkis disebabkan aksi dari kalangan Syi’ah yang membuat selebaran, buku, yang menyinggung hal yang sangat sensitif bagi Ahlus Sunnah. Seperti soal Abu Bakar, Umar bin Khatab, Ustman bin Affan, juga tentang istri-istri nabi, Aisyah dan Hafsah.”
Sebagai ketua FPI, meski masih bersedia dialog dengan kalangan Syi’ah, Rizieq punya garis tegas mengenai masalah Syi’ah. Suatu hal yang katanya sering ia sampaikan kepada anggota FPI dan di hadapan habaib Syi’ah sendiri. “Kalau ada dai-dai di atas mimbar mencaci maki ahlul bait atau sahabat Nabi, turunkan! Bakar mimbarnya! Ana nggak mau tahu, mau Syi’ah kek, wahabi kek. Caci maki sahabat, caci maki ahlul bait, berarti musuh ana”. *Surya Fachrizal/Suara Hidayatullah
Box wawancara
Prof Azyumardi Azra, Ahli Sejarah
Ahlul Bait Bukan Berarti Syi’ah

Ada yang mengatakan Syi’ah masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya Islam, karena Islam yang masuk ke Indonesia berasal dari Persia yang Syi’ah. Bagaimana tanggapan Anda?
Itu pernyataan yang tidak ada buktinya. Karena Islam masuk ke Indonesia sejak abad pertama hijriah, dan (pada) abad pertama hijriah, Syi’ah itu belum ada. Kalau dikatakan berasal dari Persia, Persia itu menjadi Syi’ah baru pada awal abad ke-16. Jadi tidak mungkin, sebab Islam sudah masuk ke Indonesia sejak abad pertama hijriah.
Sedangkan pada abad pertama hijriah itu belum ada kelompok Syi’ah, baru ada kelompok pendukung Ali Ra. Dan jumlahnya belum banyak, belum sampai ke Persia. Jadi itu tidak sesuai dengan fakta sejarah.
Lalu kapan Syi’ah masuk ke Indonesia?
Orang sering salah paham. Orang sering mengidentikan ahlul bait dengan Syi’ah. Memang ada sebagian ahlul bait yang menjadi pendukung Ali Ra dan belakangan menjadi Syi’ah. Tapi tidak semua ahlul bait adalah Syi’ah.
Sekitar abad ke 13-14 sudah masuk ahlul bait ke Indonesia. Terutama dari Yaman, Hadramaut, pada abad ke-19, yang sering disebut Sayyid itu. Ya itu ahlul bait, bukan syi’ah.
Kalau Syi’ah sendiri, kapan masuknya?
Mungkin sekitar abad ke-19, ada satu dua ahlul bait yang Syi’ah, tapi tidak banyak. Jadi tidak bisa ditentukan kapan persisnya. Tapi, ada di Singapura pada akhir abad ke-19 seorang sayyid yang diduga sebagai Syi’ah. Tidak bisa dipastikan dia Syi’ah atau bukan, yang jelas dia ahlul bait.
Jadi, dugaan saya, ada satu dua, tapi tidak signifikan. Nah, usaha untuk menyebarkan Syi’ah itu baru terjadi terutama setelah Revolusi Iran tahun 1979. Baru mulai kelihatan ada.
Jadi yang membawa Syi’ah ke Indonesia adalah sebagian dari golongan sayyid?
Kemungkinan besar iya.
Bagaimana dengan tradisi-tradisi Syi’ah yang ada di Indonesia?
Memang ada beberapa tradisi yang mirip dengan Syi’ah, misalnya tasawuf atau tarekat. Mereka memuja Ali, tapi bukan karena mereka Syi’ah tapi karena ahlul baitnya.
Jadi, tidak bisa dikatakan kalau orang tarekat memuja Ali mereka Syi’ah. Memang ada praktik yang diasosiasikan dengan Syi’ah. (Seperti) tadi, yang saya sebut memuja Ali, misalnya. Tapi mereka bukan syi’ah, mereka ahlul bait, (cuma) memuja saja.
Kedua, ada yang namanya Tabut di Bengkulu dan Pariaman. Tapi, itu dibawa oleh tentara Inggris. Tabut itu memang lazim dikalangan Syi’ah, tapi yang di Bengkulu dan Pariaman itu bukan lagi menjadi tradisi Syi’ah. Itu hanya perayaan atau festival biasa saja. Masyarakat senang saja. Mereka ikut-ikutan tapi mereka tidak menjadi Syi’ah. *Dwi Budiman/Suara Hidayatullah APRIL 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar