Senin, 24 September 2012

Keberanian Orang Madura !?

        Seorang kawan asal Sumenep mengantar tamunya asal Perancis. Tepat memasuki daerah Sampang mobil yang ditumpanginya ditabrak angkutan kota. Tentu saja sang Perancis tak senang hati, apalagi sang sopir angkot bukannya minta maaf malah ngotot minta ganti rugi. Malah mengancam akan membunuh.
       Terjadilah jawab jinawab antara penerjemah dengan sopir. “Apa yang  dia katakan,”kata turis Perancis itu.
“Dia akan membunuhmu jika melaporkan ke polisi,”jawab pengantar.
“Lalu, apa yang anda katakan lagi,”kata sang turis
“Saya bilang kalau bunuh turis itu, bunuh saja,”jawabnya.
“Hah!”si turis terperangah.
“Iyalah, kalau saya atau sopir yang dibunuh sopir tak akan berbuat apa-apa, tapi kalau orang asing yang dibunuh, polisi bakal menangkap si pembunuh itu,”katanya. Sopir angkot itu langsung diam.
      Karena desakan sang turis, mereka akhirnya ke kantor polisi juga. Di kantor polisi bukan mendapat perlindungan, polisi malah menjawab,”kalau saya tindak sopir angkot itu, kantor kami bisa dibakar.” Dia menyebut suatu peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya.
                                                ***
     Orang-orang Madura pernah merasakan pembantaian yang mengarah
 ke pembersihan etnis di Sampit, Kalimantan Tengah beberapa tahun lalu.  Ethnic cleansing pernah dilakukan sub etnik Dayak terhadap sekelompok Madura yang tinggal di Bengkayang, Landak, dan Sanggau. Insiden ini terjadi berlangsung sekitar dua bulan, dari Januari hingga Februari 1997.  Usai rezim Orde Baru berakhir, terjadi lagi kali ini satu sub-etnik Melayu melakukan etnic cleansing terhadap sekelompok Madura yang tinggal di Sambas pada Februari hingga Maret 1999, saat Orde Reformasi baru mulai berdiri.

    Jadi sungguh mengherankan jika sekelompok orang menamakan ummat
 Islam Sunni di Sampang, Madura mengusir, membunuh dan membakari
 rumah sekelompok ummat Islam di Sampang, Madura, yang dituduhnya
 penganut Syiah. Padahal masyarakat Madura dikenal sebagai pekerja yang
 ulet, rajin, ramah dan tingkat keberagaman yang tinggi. Semiskin-miskinnya
 orang Madura, masjid ada di tiap kampong dan bagus, serta tingkat keinginan
 pergi haji ke Mekkah yang tinggi.
 
Belakangan menurut Taufiqurraman dalam Islam dan Budaya Madura terjadi perilaku menyimpang (diviasi) dari ajaran yang dianutnya, seperti, antara lain: sebagian pedagang Madura berjualan tidak sesuai dengan spesifikasi yang diucapkan (dijanjikan), tindakan premanisme, penghormatan berlebihan atau kultus individual pada figur kiai, ketersinggungan yang sering berujung atau dipahami sebagai penistaan harga diri, perbuatan heretikal, temperamental, reaktif, keras kepala, dan penyelesaian konflik melalui tindak kekerasan fisik (biasa disebut carok).

Nah, sifat di kampungnya ini kemudian terbawa saat berada di negeri rantau. Sehingga keberadaan orang Madura pada suatu daerah membawa konflik. Terutama pada pengambilan lahan milik orang lain. Semula datang baik-baik (sopan), diberi tempat sementara, menguasai tanpa hak dan sulit disuruh keluar dari tempat itu. Sehingga pemilik lahan seringkali mengunakan pihak lain untuk mengusir Madura. Dalam beberapa kasus orang Madura takut kepada Marinir dibandingkan polisi.

Di Cakung, Jakarta, orang Madura seringkali bentrok dengan kelompok organisasi massa Islam etnis setempat. Tentu saja bisa karena perebutan lapak (tempat usaha) dan perbuatan licik yang disebutkan di atas. Juga di daera-daerah lain dimana ada komunita Madura.

Sampang, 3 September 2012 
diambil dari tulisan Ahmad Taufik, mahasiswa program magister FISIP Universitas Padjadjaran, Bandung dan sudah diubah seperlunya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar