Rabu, 06 Juni 2012

Dialog Mewaspadai Syiah: Awas, Tokoh NU-Muhammadiyah Dipengaruhi Syiah!

Surabaya (beritajatim.com) - Ratusan warga nahdliyin dan mahasiswa menghadiri Dialog Interaktif bertajuk 'Mengenal Lebih Dekat Paham Syiah' di kantor redaksi Majalah Hidayatullah, Jl Kejawan Putih Tambak Surabaya, Sabtu (25/2/2012).

Mereka ingin mendengarkan tausiyah atau pencerahan yang diberikan Ketua Bidang Organisasi Yayasan Albayyinat Habib Achmad Zein Alkaf, yang juga menjabat A'wan Syuriah PWNU Jatim, pengurus MUI Jatim sekaligus peneliti Syiah selama 25 tahun.

Selain itu, dialog juga menghadirkan pembicara Ustadz Ahyat Ahmad dari Ponpes Sidogiri Pasuruan sekaligus penulis buku Sunni-Syiah Dalam Ukhuwah. Tampak juga Habib Umar bin Abdullah Assegaf, pimpinan Majelis Maulid wa Ta'lim Roudlotus Salaf Bangil-Pasuruan.

Habib Achmad Zein Alkaf menegaskan, bahwa ajaran Syiah lebih berbahaya dibandingkan Ahmadiyah di Indonesia. Pihaknya meminta Gubernur Soekarwo mengeluarkan larangan Syiah berkembang di Jatim.

"Sebelum ada Syiah, umat Islam di hidup rukun. Ketika mulai berkembang di Jatim khususnya Bangil dan Madura, kekacauan terus terjadi. Seharusnya peristiwa di YAPI Bangil Pasuruan dan Sampang jadi pelajaran berharga bagi aparat dan pemerintah," tegasnya.

Menurut anggota Bidang Ukhuwah Islamiyah MUI Jatim ini, ajaran Syiah sangat berbahaya bagi agama, bangsa dan negara. Untuk itu, Gubernur sudah waktunya melarang aliran Syiah di Jatim. "Kalau ingin Jatim aman dan damai, aparat kepolisian dan pemerintah jangan sekali-kali memberikan izin kegiatan bagi Syiah apapun bentuknya," tuturnya.

Dia mengakui, saat ini banyak tokoh-tokoh ulama NU dan Muhammadiyah serta yang dipengaruhi ajaran Syiah dan banyak diberangkatkan ke Iran.

"Lebih berbahaya kalau tokoh-tokoh Islam yang terpengaruh Syiah, karena mereka ini punya umat dan massa besar. Kalau ada orang NU masuk Syiah berarti pengkhianat terhadap pendiri NU Hadrotusy Syaikh KH Hasyim Asy'ari," tukasnya.

Ustadz Ahyat Ahmad menambahkan, berdasarkan riset Syiah di Jatim, yang mengambil sampel di Malang,YAPI Bangil dan Jember. Ada tiga tipe ajaran Syiah di Indonesia.

Pertama, Syiah Ideologis, yang secara keagamaan dan lingkungannya persis seperti Syiah di Iran. Contoh, menghalalkan nikah mut'ah (kawin kontrak), Shalat Jumat tidak wajib. Ini adanya di YAPI Bangil.

Kedua, Syiah Partisan, pengikutnya tidak mengerti apa itu Syiah, hanya ikut-ikutan saja. "Mereka biasanya diundang untuk acara kondangan, tahlilan, lalu ikut. Mereka belum tahu akidah dan syariatnya," jelasnya.

Ketiga, Syiah yg berbaur dengan Sunni (Ahlussunah waljamaah). "Kalau Syiah ritual, mereka juga ikut. Kalau Sunni punya acara juga ikut. Mereka ini nggak jelas atau biasa disebut Su-Si (Sunni-Syiah)," imbuhnya.

Habib Umar bin Abdullah Assegaf menjelaskan, saat ini di Bangil, pengurus YAPI (ajaran Syiah) sedang mendata masyarakat miskin untuk diberi beras dan buku ajaran. Mereka juga diwajibkan ikut hadir setiap majelis Syiah.

"Mereka punya trik berdakwah dengan jalan belakang dan tidak transparan. Pertemuan dilakukan di gedung dan hotel-hotel. Saya tegaskan bahwa Syiah itu sesat dan menyesatkan," pungkasnya. [tok/kun]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar