Senin, 25 Juni 2012

Siapa Sebenarnya yang Menipu Imam Husein?

Imam Husein ditipu? Siapa yang bilang? Ternyata anda belum tahu semuanya, Banyak fakta tersembunyi menyelimuti peristiwa Karbala, tapi sepandai-pandai bangkai disembunyikan, lama-lama baunya tercium juga. Apa sebenarnya penyebab tragedi Karbala? Mengapa cucu Nabi yang satu ini hidupnya berakhir tragis?

Banyak pembaca menunggu-nunggu artikel kami yang terlambat muncul, asal pembaca tahu saja, kami pun ikut menunggu-nunggu, menunggu rudal Iran dan Hizbullah menghujani Israel yang membantai saudara-saudara kita di Gaza, tapi sampai Israel mundur tidak ada satu pun rudal mereka yang jatuh di tanah Israel. Karena kami akan menulis artikel khusus mengenai hal ini. Pembaca harus ingat, kita tidak mungkin menyatakan agama Kristen adalah agama yang benar, hanya karena Hugo Chavez dan Morales memutuskan hubungan diplomatik dengan israel.

Alhamdulillah, anak cucu Abu Bakar dan Umar di Gaza berhasil merontokkan perlawanan Israel, tanpa bantuan Iran dan Hizbullah. Asal pembaca tahu saja, Palestina masuk ke wilayah kaum Muslimin pada era Umar bin al-Khaththab. Umar sendiri yang menaklukkan kota Al-Quds, yang juga dikenal dengan nama Baitul Maqdis, tanah suci para Nabi.


Mari kita sambung lagi pembahasan kita......

Imam Husein adalah imam kaum muslimin, cucu Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- kita tidak perlu menukil dalil yang berisi perintah untuk mencintai keluarga Nabi. Kita mencintai imam Husein karena kita mencintai kakeknya.

Seperti sabda kakeknya, Imam Husein –beserta sang kakak, Imam Hasan- adalah pimpinan pemuda penghuni Surga, tentunya kita semua ingin masuk Surga. Namun berita itu mengandung perintah bagi kita untuk mengikuti jalan hidup Imam Husein, karena jalan hidup imam Husein akan membawa kita ke Surga. Isi isyarat itu jika kita terjemahkan ke bahasa kita hari ini kira-kira bunyinya menjadi begini: “Kalau mau ke Surga, ikuti imam Husein. Inilah inti pesan dari hadits Nabi yang memberitakan jaminan Surga terhadap beberapa person. Asal pembaca tahu saja, yang dijamin Surga bukan hanya imam Husein saja, jaminan Surga juga ada pada ayat Al-Qur’an:
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah : 100)
Membicarakan kehidupan imam Imam Husein tidak bisa lepas dari peristiwa tragis yang menjadi awal kehidupan akherat baginya, yaitu peristiwa pembantaian yang terjadi di Karbala. Sudah semestinya setiap muslim bersedih atas peristiwa tersebut. Bagaimana cucu Nabi yang dicintainya, dibantai dengan darah dingin tanpa kasih sayang. Namun peristiwa itu menjadi awal bagi kehidupan akherat, menyusul kakeknya Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, beserta ayah ibunya. Berbahagia di alam akherat, seperti yang dijanjikan Allah lewat lisan kakeknya.

Membicarakan peristiwa Karbala tak akan lengkap sekiranya kita hanya memfokuskan pada peristiwa pembantaian itu saja, tanpa pernah mengikuti episode sejarah sebelumnya. Hingga penilaian kita tidak akan bisa utuh, karena tidak berdasarkan fakta yang utuh, yang memberi kita gambaran tentang bagaimana peristiwa itu terjadi. Ini menimbulkan tanda tanya, dan kesan yang ditangkap adalah episode ini sengaja untuk tidak terlalu dibahas panjang lebar. Barangkali ini sebabnya mengapa episode sebelum peristiwa Karbala terjadi sangat jarang diulas, mereka yang selalu mengulas dan menganalisa kisah Karbala jarang menyinggung peristiwa yang terjadi sebelumnya, yang mengakibatkan cucu Nabi ini dibantai.

Satu peristiwa tidak bisa lepas dari peristiwa sebelumnya sebagai satu rangkaian peristiwa yang saling berhubungan, tentunya tidak bisa dipisahkan begitu saja. Apa yang terjadi saat ini adalah bagaikan memisahkan ayat dansabab nuzul-nya. Memisahkan peristiwa Karbala dengan peristiwa-peristiwa yang sebelumnya terjadi, yang akhirnya ikut menyebabkan terjadinya pembantaian Karbala. Tapi sayang peristiwa itu seolah terkubur ditelan bumi, jarang kita mendengar tentang peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi dan merangkai pembantaian Karbala. Barangkali bisa kita mulai dari pertanyaan penting, yang sayangnya jarang kita dengar. Barangkali akal sehat kita sering tertutupi oleh kesedihan kita yang mendalam, yang barangkali kita buat-buat sendiri, dengan mendengarkan kisah-kisah sedih pembunuhan Imam Husein, dengan diberi bumbu suara yang menyayat hati, dan lain lagi akhirnya kita lupa bertanya, “Mengapa peristiwa itu terjadi? Peristiwa apa yang menjadi latar belakang peristiwa itu? Mengapa Imam Husein berangkat ke Karbala?” Barangkali pertanyaan terakhir ini menjadi titik awal bagi perjalanan kita kali ini untuk menelusuri peristiwa-perstiwa yang melatarbelakangi peristiwa Karbala.

Peristiwa ini diawali ketika Yazid menggantikan Mu’awiyah yang mangkat dan segera meminta agar Husein berbai’at. Namun Husein menolak bersama Abdullah bin Zubair, dan keduanya pergi diam-diam ke kota Mekah. Seperti kita ketahui bahwa Imam Husein adalah salah satu figur umat Islam karena hubungan kekerabatannya dengan Nabi. Seluruh umat Islam mencintainya, dari dulu hingga hari ini, hanya orang menyimpang dan menyimpan penyakit di hatinya bisa membenci keluarga Nabi. Hingga ketika dia menolak berbai’at, maka kabar beritanya tersebar ke segala penjuru, di antara mereka yang mendengar kabar berita mengenai Imam Husein adalah warga Kufah. Lalu mereka mengirimkan surat-surat kepada Imam Husein mengajaknya untuk datang ke Kufah dan memberontak pada Yazid. Surat-surat itu begitu banyak berdatangan kepada Imam, hingga jumlahnya mencapai puluhan ribu.

Ahmad Rasim Nafis -seorang penulis Syi’ah- menerangkan, "Surat-surat penduduk Kufah kepada Husein a.s. menyatakan, ‘Kami tidak memiliki Imam, oleh karena itu datanglah, semoga Allah berkenan mempersatukan kita di atas kebenaran.’ Surat-surat itu mengandung berbagai tanda tangan menghimbau kedatangan untuk menerima bai'at dan memimpin umat untuk gerakan menghadapi para pendurhaka Bani Umayyah. Begitulah, kian sempurnalah unsur-unsur dasar bagi gerakan Huseiniyah. Diantaranya: Adanya hasrat mayoritas masyarakat yang menuntut reformasi dan mendorong Imam Husein untuk segera memegang tampuk kepemimpinan bagi gerakan tersebut. Juga peristiwa dorongan-dorongan di Kufah ini diungkapkan di dalam surat-surat bai’at dari penduduk Kufah.” (Alaa Khutha Husain, hal. 94 ).

Muhammad Kadhim al-Qazwaini -seorang ulama Syi’ah- menyatakan:, "Penduduk Irak menulis surat kepada Husein, mengirim utusan, dan memohon agar beliau berangkat ke negeri mereka untuk menerima bai’at sebagai Khalifah, sehingga terkumpul pada Husein sebanyak 12.000 surat dari penduduk Irak yang semuanya berisikan satu keinginan. Mereka menulis: "Buah sudah ranum, tanaman sudah menghijau, Anda hanya datang untuk menjumpai pasukan anda yang sudah bersiaga. Anda di Kufah memiliki 100.000 (seratus ribu) pedang. Apabila Anda tidak bersedia datang, maka kelak kami akan menuntut anda di hadapan Allah." ( Faaji'atu ath-Thaff, hal. 6 ).

Seorang ulama Syi’ah, Abbas al-Qummi menerangkan: "Melimpah ruahlah surat-surat sehingga terkumpul pada beliau di dalam satu hari sebanyak 600 surat berisikan janji hampa. Pada waktu itu pun beliau menunda-nunda dan tidak menjawab mereka. Sehingga terkumpul pada beliau sebanyak 12.000 surat. [ Muntaha al-Amaal, (1/430) ].

Ribuan –tepatnya puluhan ribu- surat yang berdatangan berhasil meyakinkan Husein mengenai kesungguhan penduduk Kufah. Husein mengutus Muslim bin Aqil untuk mengecek keadaan kota Kufah dan melihat sendiri apa yang terjadi di sana. Dan ternyata benar, sesampainya Muslim di sana ternyata banyak orang berbai’at pada Muslim untuk “membela” Imam Husein melawan penguasa dhalim. Mereka menunggu kedatangan sang Imam untuk memimpin mereka.

Ridha Husein Shubh al-Huseini -seorang penulis Syi'ah- mengatakan, "Lalu Muslim berangkat dari Mekah pada pertengahan bulan Sya'ban, dan tiba di Kufah selepas lima hari bulan Syawal. Orang-orang Syi'ah berdatangan berbai’at kepadanya, sehingga jumlah mereka mencapai 18.000 orang. Sedang di dalam riwayat asy-Sya'bi, jumlah orang yang berbai’at kepadanya mencapai 40.000 orang.” ( Asy-Syii'ah wa Asyuura', hal. 167 ).

Dari situ ia mulai menerima masyarakat. Dan menyebarluaslah seruan agar berbai’at kepada Husein, sehingga jumlah orang-orang yang "bersumpah setia sampai mati" mencapai 40.000 orang. Ada juga yang mengatakan, kurang dari jumlah tersebut. Gubernur Yazid yang berada di Kufah ketika itu adalah an-Nu'man bin Basyir. Sebagaimana disifatkan oleh para sejarawan, gubernur ini seorang muslim yang tidak menyukai perpecahan dan lebih mengutamakan kesejahteraan." [ Siiratul Aimmati al-Itsna 'Asyar,  (2/57-58) ]

Seorang ulama Syi'i, Abdur Razaq al-Muqarram menerangkan, "Orang-orang Syi'ah menjumpai Muslim di rumah al-Mukhtar dengan sambutan hangat dan menampilkan sikap taat dan patuh. Sikap yang membuat ia lebih gembira dan lebih bersemangat. Selanjutnya orang-orang Syi'ah pun datang saling berbai’at kepadanya sampai tercatat sejumlah 18.000 orang. Bahkan ada yang mengatakan sampai sejumlah 25.000 orang. Sedang di dalam riwayat asy-Sya'bi dinyatakan, orang-orang yang berbai’at kepadanya berjumlah 40.000 orang. Kemudian Muslim menulis surat kepada Husein bersama Abs bin Syabib asy-Syakiri, memberitakan kepada beliau tentang kesepakatan penduduk Kufah untuk patuh dan mereka yang menanti-nanti. Di dalamnya ia menyatakan: "Seorang penunjuk jalan tidak akan mendustai keluarganya sendiri. Bahkan sudah terdapat 18.000 orang penduduk Kufah yang berbai’at kepadaku. . ." ( Maqtal Husain, oleh al-Muqarram, hal. 147, dan Ma'saatu Ihda wa Sittiin, hal. 24 )

Abbas Al-Qummi juga menerangkan, "Melalui riwayat yang lalu, membuktikan bahwa orang-orang Syi'ah secara diam-diam menjumpai Muslim di rumah Hani, secara rahasia. Lalu mereka pun saling mengikutinya, dan Muslim menekankan kepada tiap-tiap orang yang berbai’at kepadanya agar tutup mulut dan merahasiakan hal itu, sampai jumlah orang yang berbai’at kepadanya mencapai 25.000 laki-laki. Sementara Ibnu Ziyad masih belum mengetahui posisinya. [ Muntaha al-Amaal, (1/437) ].
                                                         
Sampai di sini barangkali anda membayangkan bagaimana puluhan ribu orang bersiap siaga untuk menyambut kedatangan, bagaimana mereka mempersiapkan persenjataan untuk “melawan penguasa dhalim” di bawah pimpinan sang Imam. Tapi jangan berhenti membaca di sini, ternyata ending kisah tak seindah yang anda bayangkan.

Melihat sambutan penduduk Kufah yang begitu menggembirakan, Muslim mengirim surat pada Husein untuk segera datang. Tapi apa yang terjadi, Yazid mengutus Ubaidilah bin Ziyad, untuk “menertibkan” kota Kufah, hingga akhirnya menangkap Muslim bin ‘Aqil dan beberapa tokoh yang mengajak untuk berbai’at pada Imam Husein. Ternyata satu orang saja dapat menertibkan ribuan orang di Kufah yang telah berbai’at pada Imam Husein untuk melawan orang-orang “dhalim”. Nyali mereka menjadi ciut dan melupakan bai’at mereka pada Imam Husein

Ulama Syi'i Muhammad Kadhim al-Qazwaini menerangkan, "Lalu Ibnu Ziyad masuk Kufah. Ia mengirim utusan kepada para ulama setempat dan pimpinan-pimpinan kabilah, mengancam mereka dengan datangnya pasukan dari Syam, dan memikat mereka, sehingga mereka pun berpisah-pisah meninggalkan Muslim sedikit demi sedikit sehingga tingggal Muslim seorang diri. ( Faaji'atu ath-Thaffa, hal. 7 ). Pernyataan serupa juga tersebut di dalam "Tadhallum Az-Zahra",  hal. 149.

Puluhan ribu orang yang membai’at Imam Husein, baik melalui surat maupun yang berbai’at langsung akhirnya “keok” hanya dengan digertak oleh Ibnu Ziyad. Keinginan mereka untuk menolong Imam Husein seketika sirna karena mendengar gertakan Ibnu Ziyad. Mereka lebih suka duduk di rumah beserta anak istri ketimbang berperang bersama Imam Husein melawan tentara Yazid. Rupanya itulah kualitas mental “pembela Ahlul Bait Nabi”.

Ibnu Ziyad mengutus tentara untuk mencegat Imam Husein, hingga terjadilah proses negosiasi.

Ayatullah Muhammad Taqiy Ali Bahri al-Ulum -seorang ulama Syi’ah- menerangkan: "Husein keluar seraya mengenakan kain, selendang, sepasang sendal, dan bersandar pada penghulu pedang beliau. Lalu beliau menghadapi kelompok tersebut, memuji dan menyanjung Allah, lalu berkata, ‘Dengan merendahkan diri kepada Allah 'Azza wa Jalla dan juga kepada kalian. Sebenarnya saya tidak datang kepada kalian sehingga datang kepada saya surat-surat kalian. Dan dinyatakan oleh utusan-utusan kalian, ‘Datanglah kepada kami karena kami tidak memiliki imam. Semoga Allah berkenan mempersatukan kita di atas petunjuk.’ Jika kalian memang bersikap seperti itu, maka sekarang kami datang kepada kalian, maka penuhilah janji dan ikrar kalian dengan sikap yang baik. Tetapi sekiranya kalian tidak menyukai kehadiranku, maka saya pun akan meninggalkan kalian kembali ke tempat di mana saya berangkat." Mereka pun terdiam semuanya. Lalu al-Hajjaj bin Masruq al-Ju'fi menyerukan shalat Dhuhur. Kemudian Husein berkata kepada Hurr, ‘Apakah Anda hendak berlaku sebagai imam shalat shahabat-shahabat Anda?’ Ia menjawab, ‘Tidak, tetapi kami semuanya akan bermakmum kepada Anda." Kemudian Husein pun berlaku sebagai imam shalat atas mereka. Seusai shalat, beliau menghadap mereka, memuji dan menyanjung Allah, dan bersholawat kepada Nabi Muhammad. Beliau berkata, "Wahai hadirin, sekiranya kalian bertakwa kepada Allah dan memahami hak-hak ahli-Nya, niscaya itu lebih diridhai Allah. Kami adalah Ahlul Bait Muhammad –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- lebih layak untuk menduduki jabatan ini dibanding mereka yang merasa memiliki apa-apa yang tiada pada mereka. Dan mereka orang-orang yang suka melakukan kejahatan dan permusuhan. Tetapi sekiranya kalian merasa enggan dan tidak menyukai kami, tidak memahami hak-hak kami, dan sekarang kalian berpendapat (dengan pendapat baru) yang berbeda dengan pernyataan-pernyataan surat-surat kalian. Kami akan pergi meninggalkan kalian."

Hurr berkata, "Saya tidak mengerti tentang surat-surat yang Anda sebutkan itu?" Lalu Husein memerintahkan kepada Uqbah bin Sam'an (agar mengeluarkan surat-surat tersebut). Ia pun mengeluarkan dua kantung penuh dengan surat-surat."
                                                                     
Hurr berkata, "Saya bukan dari golongan mereka. Bahkan saya diperintah untuk tidak berpisah dari Anda apabila bisa menjumpai Anda sampai saya membawa Anda ke Kufah menjumpai Ibnu Ziyad." Husein menjawab, "Maut lebih dekat pada diri Anda daripada melaksanakan hal itu." Lalu beliau memerintahkan shahabat-shahabat beliau agar menunggangi kendaraan. Para wanita pun sudah menunggangi kendaraan. Tetapi tiba-tiba Hurr melarang mereka pergi menuju ke Madinah." Husein berkata kepada Hurr, ‘Celakalah ibumu! Apakah yang kalian harap dari kami?’"
Hurr berkata, "Sekiranya yang mengucapkan kata-kata itu orang Arab lain selain Anda, dan ia dalam posisi seperti Anda sekarang, niscaya tidak akan kubiarkan ia menyebut celaka terhadap ibunya, betapa pun alasannya. Demi Allah, saya tidak memiliki kemampuan untuk menyebut ibu Anda, kecuali dengan ucapan yang baik dan kami hormati. Tetapi sekarang silahkan ambil jalan tengah yang mana tidak memasukkan Anda ke Kufah dan bukan ke arah Madinah, sehingga saya dapat menulis surat kepada Ibnu Ziyad. Semoga Allah berkenan mengaruniakan kesejahteraan kepada kita, dan saya pun tidak mendapat musibah lantaran persoalan Anda ini." ( Waaqi'atu ath-Thaff, oleh Bahru al 'Ulum, hal. 191-192 ).

Imam Husein terhenyak, ternyata dia telah ditipu mentah-mentah oleh kaum Syi’ah yang berbai’at kepadanya.

Abbas Al-Qummi menerangkan: Ibnul Hurr mengatakan, "Wahai putra Rasulullah -sallallahu 'alaihi wa sallam wa aalih-, sekiranya di Kufah terdapat Syi'ah (sejati) dan para pembela yang akan berperang bersama Anda, niscaya saya orang yang paling mengetahuinya. Tetapi saya mengetahui bahwa Syi'ah Anda di Kufah itu telah meninggalkan rumah-rumah mereka masing-masing karena takut kepada pedang-pedang Bani Umayah." Husein tidak menjawab ucapan itu, dan beliau a.s. berlalu. . . "Abbas Al Qummi menerangkan peristiwa tersebut di dalam Muntaha al Amaal (1/466). Juga di catatan pinggir (haamisy), hal. 177 dalam buku an-Nafsu al-Mahmuum. Sedang lafalnya pada kitab rujukan kedua.

Abbas Al-Qummi menerangkan, "Lebih lanjut perhatikanlah (maksudnya: Husein), sehingga ketika tiba waktu sahur, beliau berkata kepada bujang-bujang dan pelayan-pelayan beliau, "Perbanyaklah air, sehingga kalian memiliki persediaan minum. Dan perbanyak lagi, kemudian berangkatlah. Lalu beliau melakukan perjalanan. Sehingga ketika beliau sampai di tempat sampah, datang kepada beliau berita tentang Abdullah bin Yaqthar. Kemudian beliau mengumpulkan para shahabat beliau. Mengeluarkan sepucuk surat di hadapan hadirin, dan beliau membacakannya di hadapan mereka. Ternyata tertulis di dalamnya sebagai berikut: "Bismillahirrahmanirrahim. Lebih lanjut, telah datang berita buruk kepada kami, Muslim bin ‘Aqiil dibunuh, Hani bin Urwah, dan juga Abdullah bin Yaqthar. Kita telah ditinggalkan oleh Syi'ah kita sendiri. Barangsiapa di antara kalian hendak pulang, silahkan pulang tanpa dipersalahkan dan tanpa dibebani sangsi."

Kemudian para hadirin pun bercerai-berai meninggalkan beliau, yaitu dari kalangan orang-orang yang mengikuti beliau demi memperoleh harta rampasan dan kehormatan. Sehingga beliau hanya tinggal bersama Ahlul Bait beliau dan para shahabat-shahabat beliau yang tetap memilih tinggal dan patuh bersama beliau atas dasar yakin dan iman." [ Muntaha al Amaal (1/462). Majlisi di dalam "Bihaarul Anwar" (44/374). Muhsin Al-Amin dalam "Lawaaij al-AsyHaan", hal. 67. Abdul Husein al-Mui dalam "al-Majaalis al-Faakhirah", hal. 85. Penulis Abdul Hadi ash-Shalih di dalam "Khoirul Ashhaab", hal. 37, hal. 107

Ahmad Rasim an-Nafis mengutipkan kepada kita beberapa pantun Husein r.a yang dikutip dari "al-Ihtijaaj", (2/24) dan peringatan beliau kepada Syi'ah (para pengikut) beliau yang telah mengundang beliau (dengan janji) hendak membelanya, tetapi kemudian meninggalkannya. Kata beliau, "Ketika itu mereka secara terus menerus merisaukan Abu Abdillah Husein, agar beliau tidak dapat menyelesaikan ibadah haji beliau. Lalu beliau berkata kepada mereka dengan murka: "Mengapa kalian tidak bersedia diam terhadapku dan mendengar tutur kataku? Sebenarnya saya mengajak kalian ke jalan lurus, sehingga orang-orang yang bersedia mengikutiku akan menjadi orang-orang yang beroleh bimbingan, sedang yang durhaka kepadaku akan menjadi orang-orang yang dibinasakan. Kalian semua telah berbuat durhaka terhadap perintahku, tidak mendengar ucapanku. Kiranya barang-barang yang kalian terima berlimpah barang haram, perut-perut kalian pun dipenuhi oleh barang haram, sehingga Allah menutup hati kalian. Celakalah kalian, mengapa kalian tiada bersedia tutup mulut? Mengapa tidak bersedia mendengar? Lalu para hadirin pun diam. Selanjutnya beliau a.s. berkata lagi, "Celakalah kalian wahai jama’ah. Kalian campakkan apa-apa yang telah kalian serukan kepada kami. Kami dapati kalian dalam keadaan lemah, lalu kami pun menyeru kalian dengan siap siaga. Lalukalian hunuskan pedang ke arah leher-leher kami. Kalian sulutkan bara api fitnah ke atas kami, sehingga menjadi peluang bagi musuh-musuh kami dan musuh kalian sendiri. Lalu kalian pun menjadi perintang orang-orang yang hendak melindungi kalian, dan pula menjadi tangan bagi musuh-musuh kalian. Tanpa adanya keadilan berlaku di antara kalian. Tak ada pula harapan kalian terhadap mereka kecuali harta duniawi haram yang akan kalian peroleh, kehidupan seorang pengecutlah yang kalian dambakan. Alangkah buruk moral kalian. Sebenarnya kalianlah para pendurhaka di antara umat ini, kelompok paling jahat, pencampak al-Kitab (al-Qur’an), sarana bisik-bisikan setan, golongan para pendosa, pemanipulasi al-Quran (al-Qur’an), pemadam sunah-sunah, dan pembunuh putra-putri para nabi. ( 'Ala Khutha Husain, hal. 130-131)

Marilah kita perhatikan bagaimana Imam Husein r.a. menyebutkan sifat-sifat kaum Syi'ah yang ingin membela keluarga Nabi:
"Pendapatan kalian dipenuhi barang-barang haram."
"Perut-perut kalian dipenuhi barang-barang haram."
"Allah menutup hati kalian."

Imam Husein ditipu mentah-mentah sebelum dibantai secara tragis. Siapa yang menipunya? Siapa yang memanggil sang Imam, lalu meninggalkannya? Mari kita simak lagi pengakuan Imam Husein di atas, yang lebih tahu tentang kondisi Syi’ahnya dibanding kita semua:

Kita telah ditinggalkan oleh Syi'ah kita sendiri.

Peristiwa Karbala terulang lagi di Gaza. Iran dan Hizbullah selalu mengancam akan membumihanguskan Israel, bahkan dengan gagah perkasa presiden Ahmadi Nejad mengancam untuk menghapus Israel dari peta dunia. Begitu juga Hasan Nasrullah selalu mengancam Israel dengan khotbahnya yang berapi-api.

Kaum muslimin di dunia banyak yang silau dengan khotbah yang berapi-api. Kita bisa memaklumi kaum muslimin yang awam dan merindukan figur pejuang yang mengembalikan kemuliaan Islam. Tapi sepertinya kaum muslimin salah sangka.

Mestinya Hizbullah langsung menghujani Israel dengan rudal-rudal Iran yang canggih dan menjangkau sasaran jarak jauh. Mestinya Iran menggunakan rudal-rudal canggihnya ke arah Tel Aviv. Tapi ternyata hanya mimpi yang kita dapat.

Iran yang mengancam akan menghentikan ekspor minyak, mengancam menutup selat Hormuz ketika Amerika akan menyerangnya, ternyata diam saja ketika Gaza diserang. Rupanya Iran hanya menggunakan propaganda untuk sekedar meramaikan suasana dan mencari dukungan dari kaum muslim dunia.

Iran bukan sekedar diam saja, malah melarang orang pergi berjihad ke Gaza. Ali Khomaini, yang diyakini oleh Syi’ah sebagai “Waliy Amr” kaum muslimin, ternyata melarang orang untuk berjihad ke Gaza. Asal pembaca tahu saja, Khomaini ini diyakini oleh Syi’ah menjadi wakil dari imam Mahdi yang bersembunyi. Jika anda ingin melihat sumber pernyataan saya ini, silahkan cari keyword : iran bans volunteers di google. Atau jika anda bisa berbahasa Arab, silahkan ketik keyword ini di google:

يمنع المتطوعين من القتال بغزة

Mestinya Iran mengirimkan pasukan daratnya untuk menyerang Israel dari daratan Lebanon selatan yang menjadi “daerah kekuasaan” Hizbullah. Karena Israel pasti takut pada Iran.

Tapi rupanya inilah sifat dasar Syi’ah sejak jaman imam Husein, kita harus percaya pada imam Husein yang "maksum" [menurut Syi’ah].

http://hakekat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar